Hoorass-anda di "Dolok Tolong Site" !!!

Rabu, 16 November 2016

Spiritual Soeharto




Dikawal Seribu Paranormal

MASIH ingat ketika Presiden Amerika Serikat George W. Bush ke Indonesia tahun 2006? Meski hanya beberapa jam mampir, tetapi pengerahan pasukan keamanan sangat luar biasa. Mengapa sangat dan maha ketat. Selain Bush dibenci banyak orang di negeri ini, juga sebelumnya beredar luas kabar dia bakal disantet.

Yang lebih heboh adalah ketika dia turun dari mobil anti peluru yang membawanya ke Kompleks Kebun Raya Bogor, tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menanti dengan gelisah. Bush tidak melangkah turun seperti biasa, tetapi dari atas mobil dia langsung lompat katak ke tanah. Ini jelas pemandangan tak lazim.

Begitu melihat tingkah laku Bush tersebut, orang pun serta merta mengaitkan kelakuannya itu merupakan perintah dari paranormal yang menyertai kunjungan sang kepala negara.

Ki Gendeng Pamungkas, salah seorang paranormal yang kabarnya dipakai oleh orang tertentu untuk ’mengerjai’ Bush, konon ’takluk’ atas paranormal boyongan Bush. Presiden yang gandrung mengobarkan perang tersebut, konon kabarnya, memanfaatkan jasa dukun Yahudi.

Bukan hanya Bush yang memanfaatkan paranormal dan perdukunan, melainkan juga pendahulunya. Ronald Reagan pun mendengarkan nasihat spiritual yang diberikan kepadanya.

Perdukunan di Amerika Serikat berkembang saat Nancy Reagan memiliki sepasukan dukun sebagai konsultan spiritualnya sehubungan dengan pribadi dan suaminya sebagai presiden.

Jauh-jauh sebelumnya, Adolf Hitler pun menggunakan jasa dukun. Ia memiliki salah satu pusaka yang diyakini bertuah berupa sebuah tombak. Tombak ini konon yang dipakai oleh pasukan Romawi untuk menombak lambung Jesus.

Lalu bagaimana dengan Soeharto? Seminggu menjelang kematiannya, dua peramal ulung atau paranormal di negeri ini mengungkapkan kedigdayaannya melihat dunia gaib mengenai Soeharto. Salah seorang yang sudah tidak asing adalah Mama Laurent.

Melihat kondisi kesehatan Pak Harto yang kian kritis, wanita Indo ini mengatakan bahwa ada sesuatu yang melekat pada diri penguasa Orde Baru itu. Sepanjang ‘sesuatu’ itu belum dilepaskan, anak petani dari Desa Kemusuk itu akan tetap ‘tersiksa’.

‘’Anggota keluarga sebaiknya mencari orang pintar yang mampu melepaskan ‘ketergantungan’ Pak Harto dari ‘perangkap’ yang melekat dalam dirinya,’’ Mama Laurent menyarankan seperti ditayangkan salah satu stasion televisi swasta.

Meski Pak Harto telah menghembuskan napasnya yang terakhir pada pukul 13.10 WIB, Minggu (27/1) dan dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Surakarta, Senin (28/1) pukul 13.00 WIB, namun masih ada yang penuh misteri pada sosok mantan Presiden Republik Indonesia kedua itu. Dunia kleniknya. Kawasan yang tidak banyak dipahami orang, tetapi dari dulu orang sudah banyak yang maklum.

ProFiles melalui berbagai sumber memperoleh informasi, Soeharto yang kental dengan budaya Jawa itu, kerap melakukan tirakat di berbagai tempat. Di antara lokasi itu adalah Makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwoharjo Sleman Yogyakarta.

Watu Gilang, tempat duduk Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam Pertama di Kota Gede Yogyakarta, juga termasuk tempat Pak Harto biasa menggelar tirakat.

Arwan Tuti Artha, dalam Dunia Spiritual Soeharto mengatakan, Gapura Makam Raja-Raja Mataram Kota Gede Yogyakarta adalah tempat yang tidak pernah dilewatkan Pak Harto.

Mantan presiden kedua Indonesia itu juga memiliki seorang guru spiritual. Konon namanya Romo Diyat yang terletak di Jl.Sriwijaya Semarang. Bahkan di tengah Sungai Kaligarang Sampangan Semarang tegak Tugu Soeharto. Konon, di tempat itulah Pak Harto sering Topo Kungkum (merendam diri).

Tetapi tempat Pak Harto pernah menerima wangsit, kata Tuti Artha, terdapat di Padepokan Langlang Buana Gunung Srandil Cilacap Jawa Tengah. Untuk mencapai padepokan itu, orang harus menaiki tangga. Dan, kelihatannya sudah permanen.

Masih di Cilacap juga, ada tempat pemujaan yang dikenal dengan nama Padepokan Jambe Pitu Gunung Selok.

Eksistensi Pak Harto dengan dunia kejawen sudah lama dikenal orang. Hanya saja, seberapa jauh keakrabannya dengan aspek-aspek kejawen itulah yang masih dangkal diketahui.

Dia masih tetap melakoni kehidupan dunia Jawa yang tulen. Bentuknya, seperti melaksanakan puasa, tidak makan, tidak minum, tidak meninggalkan warisan leluhur seperti menggelar upacara selamatan bagi keluarganya.

Masih ingat ketika pernikahan cucunya, Danny Rukmana (anak Mbak Tutut-Indra Rukmana) dengan Lulu Luciana Tobing yang asal Batak, berbusana Jawa yang tulen.

Soeharto tetap menyelenggarakan upacara tradisional Jawa untuk berbagai acara seperti acara kelahiran, ulang tahun, pernikahan, maupun acara kematian.

Seorang sejarawan asing, MC Ricklefs, melukiskan Soeharto sebagai sosok yang sangat memercayai klenik kebatinan Jawa pedalaman yang kental. Sebuah klenik yang hanya mengakui Islam dalam bentuk yang lebih esoteris dan hukum agama hanya memiliki kekuatan kecil.

Adik tiri Pak Harto, H Probosutedjo, mengakui, ilmu klenik kadang-kadang disampaikan melalui cara berbisik-bisik. Itulah sebabnya disebut ilmu klenik atau ilmu kebatinan.

Probo menggambarkan, penyampaian ilmu klenik ini seperti orang membaca di tempat ramai atau di dalam kereta api, di atas bus, di pesawat terbang. Tidak diucapkan, tetapi hanya dengan batin. Tidak bersuara pula. Bahkan bibirnya pun tidak bergerak sama sekali.

Gara-gara praktik penyampaiannya yang ’mencurigakan’ inilah, sehingga Belanda pernah melarang. Apatah lagi ilmu ini sering diajarkan di tempat-tempat sepi seperti di pemakaman dan pegunungan terpencil.

Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto memiliki tidak kurang dari seribu dukun, paranormal, wong pinter, dan guru spiritual. Untuk menjaga keawetan daya kleniknya, Pak Harto sering berpuasa setiap sebelum 17 Agustus atau pada hari-hari penting lainnya.

Dia pun dikelilingi benda-benda pusaka dari zaman lampau. Maksudnya, untuk meminjam kekuatan magis benda-benda itu. Dia pun sering nyekar ke tempat-tempat yang dikenal keramat.

Kenyataan inilah yang menyebabkan banyak orang segan pada Pak Harto. Bahkan, banyak tersebar, Pak Harto memiliki dukun ampuh di mana-mana, membuat banyak orang tak berani main-main. Padahal, dukun itu adalah orang biasa yang mampu berkomunikasi dengan kekuatan gaib.

Kekentalan Pak Harto dengan kekuatan spiritual Jawa juga ditandai dengan seringnya beliau mengambil contoh dalam kisah pewayangan. Salah satu tokoh yang selalu diibaratkannya adalah Semar. Semar ini selalu dikaitkan dengan mesem, tersenyum. Dari nama itulah, dia menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret dengan singkatan Super Semar.

Tokoh Semar secara tidak langsung telah memberi inspirasi pada momentum pada hari itu, saat Presiden Soekarno memberi kekuasaan pada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan, termasuk menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan presiden.

Dalam setiap fotonya, di mana pun, termasuk di lembaran uang kertas, wajah Soeharto selalu mesem. Dia selalu tersenyum. Strategi ini konon ia pelajari dari ilmu Suryomentaram.

Soeharto tak perlu mengerahkan bala tentara, tetapi lawan bisa dibuat takluk dan menyerah. Kecerdikan Soeharto menyingkirkan Soekarno yang memberinya Super Semar, membuat dia selalu tersenyum. Kalau Soeharto tidak tampil tersenyum, pasti ada yang tak beres dengan anak petani Kemusuk itu. OG Roeder menyebut dalam bukunya The Smiling General, kalau tidak tersenyum, jangan-jangan Soeharto sakit.

Asvi Warman Adam (baca: Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia, 2004) menulis, pada tahun 1965, ia memiliki jabatan rangkap. Dia sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) – yang pertama --, juga Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) yang juga pemegang Super Semar yang mengantarnya menjadi Pejabat Presiden pada tahun 1967.

Hebatnya, Soeharto sangat lihai memanfaatkan jabatan-jabatannya itu, sehingga lolos dari perangkap ‘koreksi’ atau kritik kabinet. Misalnya, untuk membubarkan PKI, ia memakai nama Presiden Soekarno yang memberinya Super Semar 1966.

Untuk hal lain, dia memutuskan atas nama Pangkostrad. Bila memakai posisinya selaku Menpangad, jelas kebijakannya itu bakal panjang dan masuk agenda sidang kabinet. Pangkostrad jelas tidak bisa ditegur oleh kabinet. Kecuali oleh atasannya, yang tak lain adalah Soeharto sendiri.

Kelihaian Soeharto ini juga digambarkan oleh David Jenkins, salah seorang wartawan Australia (Sidney Morning Herald) dalam bukunya bertajuk Soeharto and His Generals, Indonesian Military Politics (1984).

Kepercayaan Soeharto akan tuah budaya Jawa juga tervisualisasi dalam kehidupan kesehariannya. Misalnya saja, dia membawa topeng Gajah Mada yang berasal dari Bali masuk Istana Merdeka.

Gajah Mada adalah maha patih yang berhasil menyatukan Nusantara. Soeharto mungkin mengandaikan topeng itu dapat memberi kekuatan magis agar dia mampu menyatukan Nusantara seperti yang dilakukan Gajah Mada dulu.

Dia juga mendatangkan gong keramat dan keris-keris dari Keraton Surakarta. Dengan seabrek benda budaya yang dimilikinya, seakan-akan apa yang keluar dari mulutnya juga bertuah dan keramat.

Bahkan, dia seolah-olah menjadi orang Jawa yang sakti. Jika meludah, bisa berupa api yang menjilat siapa pun. Dia sering diibaratkan sebagai aji welut putih.

Walaupun banyak orang maklum akan keakraban Soeharto dengan dunia klenik dan sejenisnya, namun tak seorang pun berani mengungkapkannya. Terlebih lagi saat dia berkuasa.

Menyebut-nyebut miring nama Soeharto saja, apalagi sisi lain yang selama ini tidak terungkap, sama artinya dengan membuat masalah. Membuat urusan menjadi cepat jatuh ke tangan aparat keamanan. Menjadikan hidup di bumi republik ini tidak aman lagi. Kopkamtib di tingkat pusat dan Laksusda di tingkat provinsi adalah kata yang bagaikan singa yang siap menerkam. Mengerikan.

Surat kabar dan media massa pun tak akan pernah berbuat bodoh untuk menulis yang seperti itu. Tidak ada yang mau ambil risiko. Memperbincangkan Soeharto, sama saja dengan mencari urusan sampingan yang sulit penyelesaiannya. Sangat merepotkan.

Jika pun ada yang berani memperbincangkan Soeharto, itu terjadi di kalangan terbatas nun jauh dari keramaian kota. Jauh dari ’kuping-kuping’ kaki tangan Soeharto. Tepatnya hanya disampaikan secara bisik-bisik. Seperti juga klenik dan kadar kemampuan spiritual itu.

Tetapi, setelah Soeharto tak berkuasa lagi, media massa pun ramai-ramai memberanikan diri melanggar larangan dan yang tabu sepanjang Orde Baru berkuasa.

Setelah Ibu Tien meninggal secara aneh pada tanggal 28 April 1996, sebagian kekuatan dan kehebatan Soeharto berkurang. Sebab, kehebatan pria Kemusuk itu, konon justru terletak pada konde Ibu Tien.

Kabarnya, selama ini mendiang dengan nama lengkap Siti Hartinah itulah yang menjadi perantara turunnya wangsit itu. Satu jam setelah Ibu Tien wafat, konde itu sudah raib entah ke mana. Menurut bisikan gaib bisa ditemukan di petilasan pertapaan Panembahan Senopati yang dikenal dengan Banglampir.

’’Untuk mendapatkan kembali konde itu seseorang harus menjemputnya ke puncak Gunung Mahenoko atau Gunung Lanang, di Desa Blimbing, Kelurahan Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, jangan sampai melewati pukul 10.00,’’ tulis Arwan Tuti Artha.

Menurut kepercayaan, hilangnya konde ini apabila belum ditemukan bisa menjadi rebutan orang-orang yang berkeinginan menjadi pemimpin. Tak heran banyak orang berdatangan ke Banglampir, karena di situlah turunnya wahyu keraton.

Wahyu keraton pernah turun untuk Panembahan Senopati, sehingga dia bertakhta di Kerajaan Mataram. Konon, petilasan ini masih banyak dihuni macan putih yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Selain konde, begitu Sudjono Humardani dalam wawancaranya dengan H.M Nasaruddin Anshoriy Ch yang dikutip Tuti Artha, Soeharto juga mendapat kembang wijayakusuma dari Nusakambangan yang kemudian dibawanya ke Cendana. Wijayakusuma inilah yang secara spiritual menopang semua kehebatan dan keberuntungan Soeharto.

Soeharto juga banyak berkomunikasi dengan berbagai dukun, kiai, guru spiritual, orang yang memiliki ilmu linuwih, untuk mendapatkan pegangan. Ada yang memberi jimat untuk kekuasaan agar langgeng. Ada yang mengirim empat naga besar agar terhindar dari santet dan tenung.

Ketika Soeharto masuk rumah sakit, betapa pun penyakitnya bertumpuk-tumpuk, tetapi tetap sehat. Pasalnya, ada berbagai macam jimat yang mengendap di tubuhnya! (de@r).

Misteri Ikan Raksasa di Dasar Danau Toba




 Lela Siregar, warga Tanjung Pinggir, Siantar Martoba, Sumatera Utara yang telah menemukan seekor ikan raksasa di Sungai Sigulang-gulang  pertengahan 2011 yang lalu.


Sungai Sigulang-gulang merupakan anak sungai yang mengalir dari danau Toba. Ikan raksasa yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan berbobot hampir 40 Kg ini mengundang perhatian banyak warga. Mereka berdatangan untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Pada saat itu, keluarga Sinaga yang tinggal tidak jauh dari kediaman Lela Siregar datang berkunjung dan meminta ikan raksasa tersebut.
Mereka mengatakan bahwa ikan raksasa itu adalah namboru mereka. Namboru adalah kata lain dari bibi atau tante. Karena merasa sedang berurusan dengan kehormatan leluhur orang lain, Lela Siregar pun merelakan ikan raksasa itu berpindah ke rumah Maju Sinaga.
Di rumah Maju Sinaga, ikan raksasa tersebut diletakkan di sebuah ranjang yang rapi, dengan mangkok berisi beras, telur ayam, dan jeruk purut di sampingnya. Seorang perempuan tua melarang orang-orang yang ingn mengabadikan ikan tersebut.
Selanjutnya, keluarga Sinaga akan membawa ikan tersebut ke kampung mereka di Kecamatan Mogang, Samosir. Nantinya ikan ini akan dilarungkan ke Danau Toba supaya bisa kembali ke hadapan namboru mereka. Keluarga Sinaga rupanya percaya ikan ini adalah sampan bagi leluhur mereka itu.
“Saudara kami di datangi namboru di dalam mimpinya tiga hari sebelum ikan itu ditemukan. Namboru menyuruh kami mencari solu-nya (sampan) yang hanyut,” kata seorang perempuan muda kerabat Maju Sinaga ketika itu.
Maju Sinaga mengaku tidak perduli jika orang lain menganggap aneh perlakuan mereka terhadap si ikan raksasa. “Biarlah orang menganggap orang aneh. Ini kepercayaan kami. Memang sudah sejak dulu begini,” katanya.
Bagi sebagian masyarakat di sekitar danau Toba, ikan raksasa jenis Arapaima ini dipercaya merupakan “sampan” bagi leluhur mereka dan karena itu, mesti diperlakukan dengan sebaik-baiknya jika ditemukan oleh warga sekitar.

PENEMUAN IKAN BATAK RAKSASA DI DANAU TOBA

Selain ikan raksasa seperti yang ditemukan Lela Siregar, danau Toba memang dikenal memiliki sejumlah spesies ikan langka di dunia. Salah satunya adalah ikan Batak. Umumnya ikan batak hanya memiliki berat antara 1-5 kg dan untuk sebesar itu, saat ini sudah sangat sulit untuk ditemukan.
Ikan Batak Raksasa di Danau Toba
Tetapi alangkah mengejutkannya ketika ada ikan Batak Raksasa yang ditemukan seorang nelayan di perairan pantai Danau Toba, tepatnya di Desa Parparean, Kecamatan Porsea, Tobasa, 5 November 2013 lalu. Seekor ikan Batak Raksasa dengan berat 23 kilogram dengan panjang 1,5 meter. Benar-benar ikan raksasa!
Penduduk di sekitar mengakui bahwa ikan Batak raksasa ini baru pertama kali ditemukan. Ini merupakan sejarah bagi Suku batak di sekitar wilayah tersebut. Ikan Batak sering dipergunakan untuk obat dan juga persembahan kepada nenek moyang.
Dipercaya, mereka yang menemukan ikan Batak di danau Toba sudah sangat beruntung. Ikan batak kalau dibeli tidak ada istilah tawar menawar harga. Berapa pun harga yang dipatok pemiliknya, ikan Batak tetap akan dibeli karena menyangkut kepercayaan dan mitos yang sudah melegenda.

IKAN RAKSASA DI PINGGIRAN DANAU TOBA

Entah berhubungan atau tidak dengan legenda atau mitos adanya ikan raksasa di dasar danau Toba, tetapi saat ini kita bisa menjumpai adanya bangunan berbentuk ikan raksasa di daerah Sipolha, Parapat.
Bangunan ini tidak jelas sejarah peruntukannya. Ada yang bilang bahwa dulunya bangunan ini adalah hotel, namun ada juga yang bilang jika ini adalah bekas restoran. Ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya bangunan ini adalah bekas perpustakaan yang sudah lama tidak dipakai.
Ikan Raksasa di Pinggiran Danau TobaBangunan berbentuk ikan raksasa di Parapat, pinggiran danau Toba
Jika kita masuk ke dalam bangunan tua ini, dari jendelanya kita bisa menyaksikan pemandangan indah danau Toba dari sisi yang berbeda, bagaikan kolam raksasa dengan air yang tenang dengan pulau Samosir di kejauhan

Kamis, 01 Agustus 2013

Turi-Turin Beru Ginting Sope Mbelin

Di daerah Urung Galuh Simale ada sepasang suami istri, yaitu Ginting Mergana dan Beru Sembiring. Mereka hidup bertani dan dalam kesusahan. Anak mereka hanya seorang, anak wanita, yang bernama Beru Ginting Sope Mbelin.
Untuk memperbaiki kehidupan keluarga maka Ginting Mergana mendirikan perjudian yaitu “judi rampah” dan dia mengutip cukai dari para penjudi untuk mendapatkan uang. Lama kelamaan upayanya ini memang berhasil.
Keberhasilan Ginting Mergana ini menimbulkan cemburu adik kandungnya sendiri. Adik kandungnya ini justru meracuni Ginting Mergana sehingga sakit keras. Akhirnya meninggal dunia. Melaratlah hidup Beru Ginting Sope Mbelin bersama Beru Sembiring.
Empat hari setelah kematian Ginting Mergana, menyusul pula beru Sembiring meninggal. Maka jadilah Beru Ginting sope Mbelin benar-benar anak yatim piatu, tiada berayah tiada beribu.
Beru Ginting Sope Mbelin pun tinggal dan hidup bersama pakcik dan makciknya. Anak ini diperlakukan dengan sangat kejam, selalu dicaci-maki walaupun sebenarnya pekerjaannya semua berres. Pakciknya berupaya memperoleh semua harta pusaka ayah Beru Ginting Sope Mbelin, tetapi ternyata tidak berhasil. Segala siasat dan tipu muslihat pakciknya bersama konco-konconya dapat ditangkis oleh Beru Ginting Sope Mbelin.
Ada-ada saja upaya dibuat oleh makcik dan pakciknya untuk mencari kesalahan Beru Ginting Sope Mbelin, bisalnya menumbuk padi yang berbakul-bakul, mengambil kayu api berikat-ikat dengan parang yang majal, dll. Walau Beru Ginting Sope Mbelin dapat mengerjakannya dengan baik dan cepat – karena selalu dibantu oleh temannya Beru Sembiring Pandan toh dia tetap saja kena marah dan caci-maki oleh makcik dan pakciknya.
Untuk mengambil hati makcik dan pakciknya, maka Beru Ginting Sope Mbelin membentuk “aron” atau “kerabat kerja tani gotong royong” yang beranggotakan empat orang, yaitu Beru Ginting Sope Mbelin, Beru Sembiring Pandan, Tarigan Mergana dan Karo Mergana.
Niat jahat makcik dan pakciknya tidak padam-padamnya. Pakciknya menyuruh pamannya untuk menjual Beru Ginting Sope Mbelin ke tempat lain di luar tanah Urung Galuh Simale. Pamannya membawanya berjalan jauh untuk dijual kepada orang yang mau membelinya.
Di tengah jalan Beru Ginting Sope Mbelin bertemu dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini memberi kain kepada Beru Ginting Sope Mbelin sebagai tanda mata dan berdoa agar selamat di perjalanan dan dapat bertemu lagi kelak.
Kemudian sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di Tanah Alas di kampung Kejurun Batu Mbulan dan diterima serta diperlakukan dengan baik oleh Tengku Kejurun Batu Mbulan secara adat.
Selanjutnya sampailah Beru Ginting Sope Mbelin bersama pamannya di tepi pantai. Di pelabuhan itu sedang berlabuh sebuah kapal dari negeri jauh. Nakhoda kapal itu sudah setuju membeli Beru Ginting Sope Mbelin dengan harga 250 uang logam perak. Beru Ginting Sope Mbelin disuruh naik ke kapal untuk dibawa berlayar. Mesin kapal dihidupkan tetapi tidak jalan. Berulang kali begitu. Kalau Beru Ginting Sope Mbelin turun dari kapal, kapal itu dapat berjalan, tetapi kalau dia naik, kapal tidak dapat berjalan. Nakhoda akhirnya tidak jadi membeli Beru Ginting Sope Mbelin dan uang yang 250 perak itu pun tidak dimintanya kembali.
Perjalanan pun dilanjutkan. Ditengah jalan, paman Beru Ginting Sope Mbelin pun melarikan diri pulang kembali ke kampung. Dia mengatakan bahwa Beru Ginting Sope Mbelin telah dijual dengan harga 250 perak serta menyerahkan uang itu kepada pakciknya Beru Ginting. Pakciknya percaya bahwa Beru Ginting telah terjual.
Beru Ginting Sope Mbelin meneruskan perjalanan seorang diri tidak tahu arah tujuan entah ke mana, naik gunung turun lembah. Pada suatu ketika dia bertemu dengan seekor induk harimau yang sedang mengajar anaknya. Anehnya harimau tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin, bahkan menolongnya menunjukkan jalan yang harus ditempuh.
Beru Ginting Sope Mbelin dalam petualangannya sampai pada sebuah gua yang dalam. Penghuni gua – yang bernama Nenek Uban – pun keluar menjumpainya. Nenek Uban ini pun tidak mau memakan Beru Ginting Sope Mbelin bahkan membantunya pula. Nenek tua ini mengetahui riwayat hidup keluarga dan pribadi Beru Ginting Sope Mbelin ini.
Atas petunjuk Nenek Uban ini maka secara agak gaib Beru Ginting Sope Mbelin pun sampailah di tempat nenek Datuk Rubia Gande, yaitu seorang dukun besar atau “guru mbelin”. Sesampainya di sana, keluarlah nenek Datuk Rubia Gande serta berkata: “Mari cucu, mari, jangan menangis, jangan takut” dan Beru Ginting Sope Mbelin pun menceritakan segala riwayat hidupnya.
Beru Ginting Sope Mbelin pun menjadi anak asuh nenek Datuk Rubia Gande. Beru Ginting pun sudah remaja dan rupa pun sungguh cantik pula. Konon kabarnya sudah ada jejaka yang ingin mempersuntingnya. Tetapi Beru Ginting Sope Mbelin tidak berani mengeluarkan isi hatinya karena yang memeliharanya adalah nenek Datuk Rubia Gande. Oleh karena itu kepada setiap jejaka yang datang dia berkata : “tanya saja pada nenek saya itu”. Dan neneknya pun berkata kepada setiap orang: “tanya saja pada cucu saya itu!”. Karena jawaban yang seperti itu jadinya orang bingung dan tak mau lagi datang melamar.
Ternyata antara Beru Ginting Sope Mbelin dan nenek Datuk Gande terdapar rasa saling menghargai. Inilah sebabnya masing-masing memberi jawaban pada orang yang datang “tanya saja pada dia!” Akhirnya terdapat kata sepakat, bahwa Beru Ginting mau dikawinkan asal dengan pemuda/pria yang sependeritaan dengan dia. Neneknya pun setuju dengan hal itu.
Akhirnya, nenek Datuk Rubia Gande pun dapat memenuhi permintaan cucunya, dengan mempertemukan Beru Ginting Sope Mbelin dengan Karo Mergana penghulu Kacaribu, berkat bantuan burung Danggur Dawa-Dawa. Dan kedua insan ini pun dikawinkanlah oleh nenek Datuk Rubia Gande menjadi suami-istri.
Setelah beberapa hari, bermohonlah Karo Mergana kepada nenek Datuk Rubia Gande agar mereka diizinkan pulang ke tanah kelahiran Beru Ginting Sope Mbelin, karena begitulah keinginan cucunya Beru Ginting itu. Nenek Datuk Rubia Gande menyetujui usul itu serta merestui keberangkatan mereka.
Berangkatlah Beru Ginting Sope Mbelin dengan suaminya Karo Mergana memulai perjalanan. Mereka berjalan beberapa lama mengikuti rute perjalanan Beru Ginting Sope Mbelin dulu waktu meninggalkan tanah urung Galuh Simale. Mereka singgah di kampung Kejurun Batu Mbulan, di pelabuhan di tepi pantai tempat berlabuh kapal nakhoda dulu, melalui simpang Perbesi dan Kuala bahkan berhenti sejenak di situ.
Sampailah mereka di antara Perbesi dan Kuala. Anehnya, di sana mereka pun berjumpa pula dengan Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi. Kedua Sibayak ini sangat bergembira karena dulu mereka pernah memberi kain masing-masing sehelai kepada Beru Ginting Sope Mbelin yang sangat menderita berhati sedih pada waktu itu, dan kini mereka dapat pula bertemu dengan Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana.
Jadinya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya Karo Mergana, bermalam pula beberapa lama di Kuala dan Perbesi atas undangan kedua sibayak tersebut. Dan disediakan pula pengiring yang mengantarkan Beru Ginting Sope Mbelin bersama Karo Mergana ke tanah Urung Galuh Simale. Semuanya telah diatur dengan baik: perangkat gendang yang lengkap, makanan yang cukup bahkan banyak sekali. Pendeknya, Beru Ginting Sope Mbelin bersama suaminya diantar dengan upacara yang meriah atas anjuran dan prakarsa Sibayak Kuala dan Sibayak Perbesi yang bijaksana dan baik hati.
Ternyata pakcik Beru Ginting Sope Mbelin dulu – yang juga seorang dukun – mempunyai firasat yang kurang baik terhdapa dirinya. Oleh karena itu pada saat tibanya Beru Ginting Sope Mbelin di kampungnya, pakciknya itu sekeluarga menyembunyikan diri di atas para-para rumah. Akan tetapi akhrinya diketahui juga oleh Beru Ginting Sope Mbelin.
Pakcik dan makcik Beru Ginting Sope Mbelin dibawa turun ke halaman untuk dijamu makan dan diberi pakaian baru oleh Beru Ginting Sope Mbelin. Pakcik dan makciknya itu sangat malu dan tidak mengira bahwa Beru Ginting Sope Mbelin akan pulang kembali ke kampung apalagi bersama suaminya pula yaitu Karo Mergana.
Berbagai bunyi-bunyian pun dimainkan, terutama sekali “gendang tradisional” Karo serta diiringi dengan tarian, antara lain:
a. gendang si ngarak-ngaraki;
b. gendang perang si perangen;
c. gendan perang musuh;
d. gendang mulih-mulih;
e. gendang ujung perang;
f. gendang rakut;
g. gendang jumpa malem;
h. gendang morah-morah;
i. gendang tungo-tungko.

Dan sebagai hukuman atas kekejaman dan kebusukan hati pakcik dan makciknya itu maka tubuh mereka ditanam sampai bahu masing-masing di beranda barat dan beranda timur, hanya kepalanya saja yang nampak. Kepala mereka itulah yang merupakan anak tangga yang harus diinjak kalau orang mau masuk dan keluar rumah adat. Itulah hukuman bagi orang yang tidak berperikemanusiaan yang berhati jahat terhadap saudara dan kakak serta anaknya sendiri.

Selasa, 30 Juli 2013

Martutu Aek, Tradisi Pembaptisan Batak Kuno


Martutu aek adalah pembaptisan, pada tradisi Batak kuno, dengan air kepada seorang anak yang baru lahir (sekitar usia tujuh hari) dengan membawanya ke homban (mata air di tengah ladang). Upacara ritual ini dimulai dengan doa yang disampaikan oleh Ulu Punguan kepada Mulajadi na Bolon. Kemudian sang Ulu Punguan membentangkan ulos ragi idup di atas pasir. Lalu Ulu Punguan meneteskan minyak kelapa ke dalam cawan yang telah berisi jeruk purut untuk memastikan bahwa tondi si bayi tersebut berada di dalam badan.
Setelah itu, bayi yang hendak diberi nama dimandikan di mata air. Ulu Punguan lalu menyapukan kunyit ke tubuh bayi dan menguras bayi tersebut degan jeruk purut. Setelah diuras, Ulu Punguan mengoleskan minyak kelapa ke dahi bayi. Lalu, Ulu Punguan mencabut pisau Solam Debata yang dibawanya untuk memberkati bayi tersebut. Dengan memohon kepada Mulajadi Na Bolon, Ulu Punguan menarikan kain putih agar kain putih tersebut diberkati oleh Mulajadi Na Bolon sebagai pembungkus bayi agar mereka di kemudian hari jauh dari marabahaya.
Sumber lain, Negeri Bakara, mengatakan bahwa bila bayinya laki-laki turut dibawa hujur (tombak) sebagai simbol laki-laki, jika perempuan turut dibawa baliga (perkakas tenun berbentuk seperti sisir) sebagai simbol perempuan. Dan saat Datu menciduk air dan memandikan bayi tersebut, dengan diiringi tangis bayi, diucapkanlah oleh Datu: “sai lam tu toropnama soara ni anak dohot boru tu joloan on“ (semoga makin ramai suara anak dan boru di masa mendatang) maksudnya sebagai pengharapan agar keturunan suku Batak semakin banyak, baik laki-laki dan perempuan.
Bayi kemudian dibawa kembali ke rumah, dilanjutkan dengan acara pemberian nama. Pemberian nama dipertimbangkan dengan cermat, karena Suku Batak meyakini nama dan tondi harus sejalan. Jika mambuat goar ni Ompu atau mengambil nama seperti nama Ompung atau leluhurnya, maka harus mendapat persetujuan dari seluruh keturunan saompu (satu leluhur). Setelah mendapat doa restu keluarga dan sanak saudara, maka syahlah nama anak tersebut, dilanjut makan bersama seluruh keluarga sebagai ungkapan syukur.
Untuk menjaga dan memelihara hubungan antara manusia dengan roh-roh nenek moyang, tiap-tiap individu dalam masyarakat Toba harus melakukan berbagai aturan kepercayaan yang salah satunya adalah martutu aek. Martutu Aek juga diartikan sebagai acara kepercayaan, memperkenalkan bayi pada Mulajadi Nabolon dan meminta agar bayi itu disucikannya. Setelah Kristen masuk ke Tanah Batak, Adat Martutu Aek ini kemudian menjadi sama dengan baptisan Kristen (Tardidi atau Pandidion) yang dilaksanakan di gereja oleh Pendeta dengan memercikkan air kepada si Bayi atau anak.

Legenda Guru Saman

guru saman 

Cerita Guru Saman kurang begitu tersiar dihalayak umum, khususnya bagi orang Batak baik berada di kota maupun yang di huta. Kurang tau penyebabnya apa, mungkin saja salah satu alasannya cerita yang konon adalah kejadian nyata dari cerita pengakuan orangtua dulu, bahwa semua karakter Guru Saman yang tidak manusiawi. Pembunuh, preman habis dan urak-urakan.
Mendengar nama Guru Saman, masyarakat begitu menyegani sekaligus sangat membencinya. Banyak yang menghindar apabila melihat apalagi mendekati Guru Saman, karena perbuatannya yang semena-mena jagoan inipun tidak segan-segan untuk berbuat kasar bahkan membunuh semua orang yang dia benci.
Guru Saman, dia adalah seorang turunan Lau Balang yang berasal dari Tanah Karo. Semasa remajanya, Guru Saman belajar ilmu silat (moncak Batak), ilmu kebal tikam dan ilmu hitam lainnya yang didapatkannya dari seorang guru kebatinan. Setelah semua ilmu yang diajarkan gurunya dikuasai, mulailah muncul niat Guru Saman untuk merantau meninggalkan tanah Karo menuju Tanah Tapanuli. Dengan ilmu yang dia miliki membuat dirinya sangat berani kemana saja dihendaki. Bahkan dengan ketenarannya pada saat itu banyak orang yang mengandalkan Guru Saman sebagai pembunuh bayaran. Guru Saman tidak akan pernah segan-segan untuk membunuh manusia, siapa saja termasuk yang tidak disukai atau dibenci Guru Saman.
Hampir seluruh daerah Karo di datangi sembari menujukkan kehebatannya kepada orang-orang. Merek dan Saribu Dolok adalah kampung yang dilaluinya dari jalan-jalan hutan. Disinilah Guru Saman menunjukkan |gobatak.com| kehebatannya dengan berbuat semena-mena terhadap orang-orang di perkampungan dan pasar-pasar. Makan dan minum di warung-warung warga tanpa membayar sepeserpun. Jika warga tidak menuruti segala permintaannya, mereka akan menjadi korbannya.
Kemudian dari dua perkampungan tersebut Guru Saman melanjutkan perjalannya menuju Sipahutar melewati SiborongBorong dan Garora. Kedua tempat persinggahan inipun tidak luput dari aksi brutalnya. Minum tuak dan makan paganggang sesukanya, dia akan memaksa orang perkampungan untuk menyediakan makanan meski sudah tidak ada lagi. Jika tidak, dengan wajah sangar sembari menancapkan belati dengan mengancam – darah pemilik warung tuakpun menjadi minumannya sebagai pengganti tuak. Bukan hanya itu, harta dan uang warga juga dia rampok untuk dia hamburkan diatas meja judi.
Setelah beberapa waktu pergi ke Sipahutar, daerah Tapanuli Utara, dia lakukan juga pembunuhan kepada seorang pelayan gereja yang bernama Guru Martin, sekaligus dengan Klara, istri yang sedang berbadan dua. Pembunuhan dilakukan atas desakan Hermanus, kepala desa Sipahutar dan bekas murid Guru Saman. Seminggu sebelumnya Hermanus sekeluarga sempat menyerang Guru Martin saat pasca ibadah gereja. Hermanus merasa tersinggung karena uang pembangunan gereja yang digunakan selama ini disinggung tiba-tiba dalam pertemuan itu. Ketersinggungan itu akhirnya dibawa pulang ke rumah dan menjadi motif kemarahan Guru Saman dan rencana pembunuhan tepat pada Sabtu malam.
Pembunuhan sadis tersebut yang dilakukan oleh Guru Saman adalah akhir hidupnya. Setelah warga Sipahutar mengetahui siapa pembunuh Guru Martin, segera warga pelapor kepada polisi di Tarutung. Guru Saman dan muridnya itu ditangkap dan diadili. Namun pengadilan memutuskan Guru Saman harus dihukum gantung. Sebelum dihukum gantung sempat Guru Saman diberi kesempatan menyampaikan pesan terakhirnya.
Inilah pesan Guru Saman kepada warga yang menyaksikan hukuman tersebut: “Sejak kecil semua permintaanku harus dipenuhi orangtuaku. Karena itulah aku selalu meraja lela. Kuharapkan agar orangtua tidak lagi mendidik anaknya seperti aku. Aku siap dihukum gantung dengan segala kesalahanku.”
Hukuman gantung itu berlangsung tanpa diketahui Hermanus serta adik-adiknya karena mereka sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam penjara dengan masa hukuman yang berbeda-beda.
Cerita sejarah Guru Saman sudah pernah diangkat dalam bentu drama dan opera oleh para seniman-seniman Batak. Ada motivasi yang diambil dari cerita tersebut diatas yakni tentang sikap orangtua kepada anak-anak agar tidak memancakan anaknya.

Ikan Batak di Mual Sirambe


Mual sirambe, satu embung kecil yang airnya jernih dan dingin. Mengalir dari celah batu yang dipenuhi dengan ikan batak yang lajim disebut “Ihan”.

Berada di desa Bonandolok Kecamatan Balige. Lebih dekat dari Laguboti, jaraknya sekitar 5 kilometer. Yang masih remaja tahun 70-an di Toba sudah pasti tau riwayat Mual Sirambe ini karena menjadi obyek wisata lokal.
Ihan itu jarang menampakkan wujudnya, bila nampak, itu ada pertanda rejeki bagi yang melihatnya, kata penduduk setempat. Dikatakan, ada yang berulang datang kesana karena pada kesempatan pertama ihan itu tidak muncul, tapi sayangnya pada kunjungannya yang kedua, ihan itu juga tidak muncul.
Pada kesempatan kami berkunjung kesana bersama Kabid Perikanan Dinas Pertanian Tobasa, ikan itu sedang ramai bercanada dipermukaan air. Menakjubkan. Ihan itu menyambar kacang yang kami lemparkan setelah dikunyah lebih dahulu. Katanya, air liur kita yang dimakan ikan itu akan semakin mendekatkan kita dengannya. Ikan-ikan itu tidak bereksi terkejut begitu kami sampai di embung dekat lubuknya. Ihan sangat sulit disaksikan di alam habitatnya seperti di sungai dan danau Toba. Gerakannya sangat cepat, punggungnya agak kehitaman.
sirambe_02.jpg 
Penduduk di Sirambe tidak pernah memakan ikan itu. Itu terlarang sejak dahulu. Ikan itu adalah representasi boru Siagian yang memilih akhir hidupnya disana.
Konon, katanya pada zaman dulu kala, seorang putri dijodohkan dengan pria yang tidak disukainya. Lalu, sang putri lari dan bersembunyi ke daerah Aek Sirambe. Sebongkah batu ditafsirkan sebagai pertanda. Batu itu, diyakini sebagai perwujutan dari “namboru boru Siagian” yang menjadi penghuni Mual Sirambe.
Ihan Sudah langka.
Ihan memiliki nilai religius tersendiri, terutama dalam upacara adat. Sekarang, ikan tersebut mulai langka. Karena penangkapan terus berlangsung, tapi perkembang biakan di alam menurun.
Pada jaman dulu penangkapan ihan di danau toba biasanya dengan menggunakan sabaran beruba susunan batu di tepi danau sehingga ihan masuk dengan tenang. Setelah mereka masuk, pintu sabaran ditutup lalu dilakukan penangkapan. Tidak terjadi pemburuan ke lubuk pemijahannya yang dapat mengganggu pertumbuhan jentik. Pamijahan ikan lajimnya di hulu sungai yang jernih untuk menghindari prederator yang ada dikolam raksasa itu.
Sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu adalah alam habitat ihan batak. Masyarakat sekitar yang hendak menangkap ihan dari sungai itu sudah punya aturan dan cara tersendiri. Aturan can cara itu tujuannya untuk tidak terjadi perusakan apalagi niat menghancurkkan ikan sakral itu.
Namun, masyarakat disana pernah mengutarakan kekecewaan mereka, ketika masyarakat dari kota datang menangkap ikan di sungai itu dengan menggunakan stroom listrik. Itu akan membunuh anak ikan, keluh mereka. Belum ada peraturan daerah untuk perlindungan ikan langka itu.
Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Tobasa, melaksanakan kegiatan “Pembuatan Kolam Penampungan”. Tujuannya, agar ikan yang keluar dari lubuk dimaksud, dapat tertampung . Diharapkan, lubuk larangan yang menjadi habitat ihan yang menjadi kebanggan orang Batak ini, bisa dilestarikan. Tujuan paling utama, yaitu pelestarian. Lubuk larangan akan dipagari berdasarkan nilai etika dan estetika. Sehingga, pada gilirannya bisa berpeluang menjadi objek agro wisata minat khusus. Eksistensi ihan batak yang legendaris, harus dapat dipertahankan.
Aek Sirambe, diyakini merupakan habitat paling sesuai. Juga, merupakan situs menarik yang unik dan legendaris. Disana sudah dibangun sebuah kolam untuk pembiakan ihan itu dan selanjutnya dilepas kehilir sungai. Bila ini berhasil, sungai itu akan dipenuhi ihan yang dapat ditangkap dan dimakan.
Kualitas air sirambe sangat bagus, memungkinkan untuk syarat hidup ikan yang sudah hampir langka ini. Yaitu, hanya bisa hidup pada air jernih yang terus mengalir deras, dengan suhu relatif rendah 21 – 25 derajat Celcius. Kebiasaan dari ikan ini, berkelompok dan beriring (mudur-udur).
Dengke Simudurudur
Ada pemahaman saat ini bahwa dikatakan simudurudur karena ikan yang sudah dimasak dijajarkan beberapa ekor diatas nasi dalam piring. Namun leluhur kita yang arif dan bijak itu tidak menggambarkan sfat mati untuk harapan sifat hidup. Ihan dan porapora memiliki sifat hidup mudurudur ke satu arah tertentu. Ini tidak dimiliki sifat ikan mas, menurut pengamatan para leluhur.
Yang dikatakan masyarakat batak dengke simudurudur adalah ihan dan porapora. Ikan mas tidak termasuk kategori dengke simudurudur, tapi disebut dengke namokmok. Kedua jenis ihan dan ikan mas dikategorikan juga dengke sitiotio, tidak termasuk porapora. Simudurudur adalah sebutan dari sifat ikan itu semasih hidup, yaitu ihan dan porapora. Simudurudur bukan menggambarkan (sifat) ikan yang sudah mati, dimasak dan dibariskan dalam piring. Leluhur selalu menggambarkan sifat hidup dan untuk hidup.
Porapora adalah pilihan kedua dalam acara mangupa setelah ihan. Ikan mas adalah pilihan ketiga. Saat ini masyarakat adat sudah melupakan sifat ikan itu yang marudurudur dan telah mengatakan itu pada ikan mas dan menjadi pilihan pertama

Jenis Ikan Batak (IHAN)

 


Ikan Batak (Ikan Jurung) seberat 1,4  

Nama Ikan Batak belakangan ini sudah demikian pamor dikenal di berbagai daerah di Indonesia dan bahkan di Bogor sudah berhasil dibudidayakan dan menjadi komoditas ekslusif yang bernilai mahal, sementara di Tanah Batak tidak demikian perkembangannya. Jenis yang mana sebenarnya yang disebut Ikan Batak itu? Kalau ditanyakan pertanyaan ini kepada orang Batak mungkin saja jawabannya berbeda-beda karena orang Batak sendiri sudah banyak yang tidak tau dan bahkan tidak perduli dengan yang disebut Ikan Batak.
Kekurangtahuan itu ternyata mengakibatkan penamaan Ikan Batak secara umum di dunia ikan di Indonesia berbeda dengan Ikan Batak yang dimaksud oleh orang Batak kebanyakan. Dari kalangan yang banyak berkecimpung dibidang perikanan terutama ikan air tawar baik dari instansi pemerintahan maupun perorangan dalam bentuk upaya pembibitan dan pembesaran mengenal Ikan Batak adalah dari genus ‘Tor’, sementara orang Batak sendiri kebanyakan mengenal Ikan Batak yang disebut ‘ihan’ adalah dari genus Neolissochilus yang memang ikan endemik di Tanah Batak yang sudah terancam punah dan masuk dalam Red List Status di IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kode Ref.57073 sejak tahun 1996.
Ikan Batak yang dikenal secara umum di dunia perikanan dari genus Tor, memang tampilannya mirip dengan ‘ihan’ genus Neolissochilus, dan memang berasal dari keturunan yang sama yaitu Family Cyprinidae. Kalau yang dimaksud adalah dari jenis genus Tor maka jenis ikan ini masih banyak dijumpai di berbagai habitat aslinya di Indonesia seperti di Tanah Batak (Sumatra Utara), Sumatra Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan mungkin masih banyak ditemukan di daerah lainnya. Jadi pada dasarnya jenis ikan ini belum menjadi ikan yang terancam punah.
Ikan Batak yang dimaksud (genus Tor) bagi orang Batak sendiri dikenal dengan nama dekke Jurung-jurung atau Ikan Jurung. Secara umum Ikan Jurung ini disebut sebagai Ikan Batak karena di Tanah Batak lebih lazim digunakan dalam suatu prosesi adat sebagai simbol kesuburan dengan harapan kepada keluarga yang diberikan penganan dari Ikan Jurung-jurung ini akan berketurunan banyak, baik laki-laki dan perempuan dan mendapat rejeki sebagaimana perilaku Ikan Jurung-jurung tersebut yang sifat hidupnya membaur beriring-iringan.
Ikan Batak Penyandang Mitos
Ikan Batak yang aslinya disebut sebagai Ihan dari genus Neolissochilus memang dimitoskan sebagai makanan para raja-raja dijaman dahulu. Disamping itu Ihan merupakan penganan sesembahan kepada Tuhan (upa-upa) yang diberikan kepada seseorang oleh Hula-hula atau hierarchi clan marga yang lebih tinggi (dalam falsafah kekerabatan Dalihan Natolu) dengan harapan pemberian makanan itu mendapat berkat dari Tuhan berupa kesehatan dan panjang umur, mendapat banyak keturunan, dam mudah rezeki di harta. Dalam prosesi adat perkawinan, penganan ini juga diberikan kepada pihak boru (hierarchi marga yang lebih rendah) sebagai balasan pemberian makanan yang enak berupa suguhan makanan (tudu-tudu sipanganon) yang bermakna sama mendapat berkat dari Tuhan.
Tatalaksana pemberian makanan ikan seperti ini masih berlangsung sampai sekarang namun sudah menuju degradasinya karena tidak ditemukan lagi jenis Ihan di Tanah Batak (punah). Sebagai pengganti maka jenis ikan Mahseer dari genus Tor (Dekke Jurung-jurung) merupakan pengganti penganan yang dimaksud. Ternyata jenis inipun mulai langka ditemukan di Tanah Batak dan digantikan menjadi ikan mas dari genus Cyprinus. Jenis ikan mas sebagai pengganti penganan adat tersebut adalah dari spesies Cyprinus carpio yang berwarna kuning kemerahan. Jenis ikan mas yang berwarna kuning kemerahan ini kurang diminati oleh masyarakat di Pulau Jawa sehingga masyarakat Batak yang berada di Jawa ini terpaksa menggunakan ikan mas berwarna hitam sehingga penganan tersebut kurang ceria tampilannya dan terlihat kusam warnanya.
Sungai Sirambe Nauli terletak di Desa Bonan Dolok (“Bondol”), kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Propinsi Sumatera Utara, terdapat Ikan Batak yang mereka sebut Ihan namun sebenarnya adalah Ikan Batak yang secara umum disebut sebagai Ikan Jurung dari genus Tor. Oleh warga setempat sungai itu dianggap keramat namun berfungsi juga sebagai sumber air untuk minum. Masyarakat setempat biasanya mengambil air minum dari sungai tersebut lantaran airnya sangat jerni dan bersih. Sungai tersebut juga merupakan kolam mandi dan berenang sepuasnya, dan juga dipergunakan untuk tempat ibu-ibu mencuci pakaian.
Uniknya, di Sungai itu hidup ratusan ekor Ikan Batak berukuran besar dan kecil, Ikan Batak inilah yang menjadikan Desa Bonan Dolok istimewa dan menjadi salah satu objek parawisata di Balige Kabupaten Toba Samosir. Biasanya Ikan Batak tersebut bersembunyi dalam goa-goa batu yang berada didasar kali dan akan keluar saat pengunjung turun ke sungai Sirambe Nauli untuk memberi makan, missal seperti kacang-kacangan atau pun nasi.
Masyarakat setempat mengatakan air sungai dapat dipergunakan sebagai obat, namun Ikan Batak yang terdapat disitu tidak dapat diambil. Konon sudah pernah ada pengunjung yang mengambil Ikan Batak dari sungai tersebut dan dimasaknya dirumahnya namun anehnya Ikan Batak itu hanya setengah yang matang dan setengah lagi tidak matang. Disebutkan pula, apabila ada pengunjung yang mengambil Ikan Batak itu akan mengalami sakit keras.
Di Sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Tobasa, juga menjadi habitat Ikan Batak. Masyarakat sekitar yang hendak menangkap Ikan Batak dari sungai itu sudah punya aturan dan cara tersendiri. Namun sering pula masyarakat pengunjung dari kota datang menangkap ikan di sungai itu dengan menggunakan stroom listrik. Itu akan membunuh anak ikan, keluh mereka. Belum ada peraturan daerah untuk perlindungan ikan langka itu.
Di Desa Rani Ate, Kecamatan Padang Sidempuan Barat Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatra Utara terdapat sebuah sungai yang menjadi habitat Ikan Jurung. Konon sekitar tahun 1940 seorang guru tarekat naqsabandiyah dari Tabuyung yang dipangil sebagai Syekh Tabuyung yang tinggal di sebuah mesjid di tepi kali mengambil 7 ekor Ikan Batak (Ikan Jurung) dan menaruhnya di sungai di belakang mesjid dengan maksud agar air sungai menjadi bersih untuk dipakai sebagai air wudhu. Syekh Tabuyung melarang orang-orang sekitar untuk mengambil ikan itu kecuali bila ikan itu melewati 75 m kearah hulu dan 75 m kearah hilir dari mesjid.
Bagi warga setempat, Ikan Batak itu telah menjadi keajaiban karena mereka tak mau pindah dari lokasi sekitar masjid dan jarang berenang di luar batas yang digariskan Syekh Tabuyung. Bahkan pada tahun 1980-an, ketika seluruh desa tenggelam banjir dan sungai ini pun meluap, Ikan Batak itu ikut pergi bersama warga ke arah hulu. Namun, ketika air surut dan warga kembali, ikan tersebut pun kembali lagi di daerah sekitar masjid. Ikan-ikan itu tak pernah jauh-jauh dari masjid. Sepertinya, ikan itu tahu tugas mereka untuk membersihkan air di sekitar masjid. Fenomena itu membuat warga kian percaya dengan keajaiban Ikan Batak itu dan mereka bertekad untuk menjaganya turun-temurun. Warga pun bersepakat untuk tak mengambil ikan itu sama sekali, hingga kini.
Warga percaya bahwa siapa yang mengambil ikan itu akan terkena malapetaka. Konon ceritanya sudah banyak bukti orang yang mengambil dan makan Ikan Batak dari sungai ini berakhir mati mengenaskan. Misalnya, seorang pendatang dari Padang Sidempuan yang tengah mengerjakan proyek pembuatan jalan di desa ini beberapa tahun lalu yang nekat mengambil dan memakan Ikan Batak dari sungai ini, kemudian mati tiba-tiba. Warga sini tak ada lagi yang berani mengambil ikan larangan ini. Jadilah Sungai Rani Ate, yang hanya selebar sekitar lima meter itu, menjadi semacam lubuk larangan, tempat pelestarian ekologi bagi ikan jurung yang di habitatnya terancam punah. (disarikan dari www.mandailing.org.)
Di Sungai Timbulun Kabupaten Solok Sumatra Barat, masyarakatnya menebarkan jenis Ikan Batak agar tetap lestari dan masyarakat dilarang menangkap atau memancingnya paling tidak selama setahun. Di Kabupaten Agam ada sebuah sungai yang disebut Sungai Janiah walaupun airnya tidak jernih, tetapi demikianlah namanya dan menjadi objek wisata masyarakat sekitar. Ada lengenda yang melingkupi cerita rakyat di situ mengenai ikan sakti yang hidup di Sungai Janiah dan masyarakat tidak berani menangkapnya; berikut ceritanya:
Muchtar Tuanku Sampono (96 tahun), tokoh masyarakat Sungai Janiah mengatakan, ikan di Sungai Janiah ini tidak ‘sakti’. Ikan tersebut berasal dari anak yang hilang. Malam harinya ibu anak tersebut bermimpi agar dibuat nasi kunyit (nasi kuning) dan dipanggil anaknya di Sungai Janiah.
“Sejak dulu tidak ada yang berani memakan ikan di Sungai Janiah ini, karena mereka enggan saja karena sepertinya memakan manusianya saja, bahkan Belanda dan Jepang tidak berani menjamah ikan ini,” katanya kepada PadangKini.com. Menurut Tuanku Sampono tidak ada yang tahu jenis dan nama ikan tersebut. Ikan ini seperti Ikan Batak (ikan gariang, nama di daerah itu), namun kata orang Jambi ikan ini sejenis ikan Kalari. Seperti yang dikatakan oleh Tuanku Sampono ikan-ikan tersebut sejak dulu tidak terlihat anak-anak ikannya. Apakah cerita-cerita rakyat itu benar atau tidak? Yang jelas legenda Sungai Janiah mendatangkan berkah bagi penduduk sekitar dengan banyaknya orang berkunjung setiap hari.
Versi lain menurut buku C. Pangguluh bahwa asal mula ikan yang ada di Sungai Janiah dari penjelmaan anak manusia dan anak jin yang telah dikutuk oleh Tuhan, karena kedua makhluk yang berlainan alam ini telah melanggar janji yang telah mereka sepakati.
Alkisah, penduduk Nagari Tabek Panjang di Kecamatan Baso ini berasal dari puncak gunung Merapi. Karena persediaan air di Gunung Merapi semakin terbatas, maka timbullah ide mencari hunian baru di bawah Gunung Merapi. Maka diutuslah Sutan Basa untuk mencarai lokasi baru itu, Sutan Basa menemukan kawasan yang memiliki Sungai dan air mancur yang sangat jernih.
Tapi daerah itu telah ditempati oleh bangsa jin, maka Sutan Basa menyampaikan keinginannya kepada jin tinggal dikawasan itu bersama kelompoknya. Maka diadakanlah kesepakatan antar kepala suku masing-masing, bahwa boleh tinggal di daerah itu, asalkan kalau anak kemenakan dari Datuak Rajo Nando mamak dari Sutan Basa menebang pohon agar membuang serpihan dan sisa kayu ke arah rebahnya pohon. Kalau kesepakatan ini dilanggar, maka keturunan dari keduanya akan memakan kerak-kerak lumut, tempatnya tidak diudara tidak juga di daratan.
Setelah sepakat tinggallah kaum tersebut di Sungai Janiah. Suatu waktu ada keinginan untuk membangun gedung pertemuan atau balairung untuk tempat berkumpul. Maka ditugasilah oleh Sutan Basa sekelompok irang untuk mencari kayu sebagai tonggak tuo. Maka pergilah mereka ke hutan. Karena begitu senang bercampur lelah, mereka langsung menebang pohon yang mereka nilai cocok, tapi mereka lupa akan janji yang telah disepakati oleh kepala suku. Karena tidak mengindahkan janji tersebut maka hasil tebangan pohon tersebut mengenai anak- anak jin. Kejadian ini membuat marah keluarga jin, mereka menurunkan batu-batu dari Bukit Batanjua yang ada di sekitar sungai tersebut, yang menyebabkan gempa.
Keadaan ini menyebabkan hubungan tidak harmonis antara keduanya. Suatu waktu Datuak Rajo Nando dan istrinya pergi membersihkan ladang tebu mereka dengan meninggalkan anak perempuan mereka berusia 8 bulan. Setelah pulang dari ladang, tidak ditemui anak tersebut. Maka seluruh orang kampung diperintah mencari anak hilang tersebut, sampai larut malam seluruh usaha seakan sia-sia.
Malam hari istri Datuak Rajo Nando bermimpi agar memanggil anaknya di Sungai Janiah dengan cara membawa beras dan padi dan memanggil anaknya seperti memanggil ayam. Esok siang dilakukanlah seperti di mimpinya. Setelah dipanggil datanglah dua ekor ikan yang satu tampak jelas dan yang satu lagi tampak samar. Maka ikan yang tampak jelas itu adalah anak Datuak Rajo Nando dan satunya lagi adalah anak jin. Hal ini terjadi karena keduanya melanggar janji, sehingga termakan sumpah.
Di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat, tepatnya disebuah desa bernama Lubuak Landua di Kecamatan Pasaman terdapat objek wisata Lubuak Landua yang ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat ikan larangan yang berada di sungai Batang Luan, yang mengalir di tepi surau Lubuak Landua. Ikan-ikan ini telah berusia ratusan tahun sama usianya dengan surau Lubuak Landua. Ikan larangan adalah Ikan Batak (Gariang) dipelihara dengan memberi makan dan tidak boleh diambil sesuai dengan kesepakatan masyarakat. Dulunya ikan-ikan ini diberi uduah semacam ilmu teluh, agar tidak dicuri, apabila ada yang mencurinya akan mendapat penyakit bahkan mengakibatkan kematian. Namun saat ini hal tersebut sudah tidak digunakan lagi. Tujuan utama dari memelihara ikan liar di sungai ini adalah untuk sumber bibit ikan, melestarikan lingkungan, menjadikan sungai bersih dari kotoran dan sebagai daya tarik pengunjung dari luar daerah objek wisata.
Di Desa Talawi, Nagari Baruang-baruang Balantai, Kecamatan Koto-XI Tarusan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, terdapat Lubuak Larangan sebagai kawasan wisata yang dipenuhi ribuan ikan-ikan jinak jenis Ikan Batak (Gariang) namun dilarang untuk ditangkap. Apabila seseorang terbukti menangkap ikan itu maka akan dikenakan denda senilai 100 zak semen. Diceritakan bahwa pada malam hari ikan-ikan tersebut tidak kelihatan, namun pada pagi harinya sewaktu dikunjungi orang maka ikan-ikan itu berkumpul kembali. Pada hari tertentu setiap tahunnya, digelar lomba memancing dengan hadiah Sepeda Motor, Kulkas, dan Televisi bagi yang berhasil menangkap Ikan Batak berukuran lebih dari 2 kg, namun tak seorangpun yang mendapat hadiah.
Di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, terdapat sebuah kolam pemandian benama kolam Cibulan dengan ukuran 30m x 70m dengan kedalaman bervariasi dibangun tahun 1939 disebut menjadi kolam pemandian tempat berenang bersama-sama dengan Ikan Batak dengan sumber airnya dari Gunung Ciremai.
Ikan Batak atau Ikan Dewa oleh masyarakat setempat disebut Ikan Kancra Bodas dipercaya sebagai ikan istimewa yang membawa berkah bagi siapapun yang dapat menyentuh badannya. Legenda tersebut terus tersebar dari mulut ke mulut- hingga masyarakat sekitar Cirebon bahkan dari luar Cirebon, datang ke Kuningan ingin melihat Ikan Batak tersebut, baik hanya sekedar melihat ataupun mempunyai tujuan yang lain. Diceritakan, ” Dahulu kala ketika Prabu Siliwangi masih hidup, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana, sehingga hampir semua prajurit dan kawulanya tunduk dan hormat pada Sang Prabu. Namun tak ada gading yang tak retak, begitupun dengan Prabu Siliwangi, walaupun sudah memerintah dengan adil, masih ada saja prajurit yang tidak suka dan tidak puas terhadap Prabu Siliwangi. Singkat cerita, dikutuklah prajurit-prajurit yang membangkang tersebut sehingga menjadi ikan, yang keberadaannya masih bisa kita saksikan sampai sekarang di kolam Cibulan”.
Dikatakan, tak ada satu orangpun yang berani mengambil ikan ini, baik hanya sekedar dipelihara, atau bahkan dimasak untuk dimakan. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, barangsiapapun yang berani menganggu ikan-ikan tersebut, terhadap dirinya akan terjadi sesuatu bencana. Ini cerita yang bisa kita dengar dari masyarakat sekitar, boleh percaya atau tidak. Bahkan menurut cerita yang berkembang, jumlah ikan yang ada di kolam ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah atau berkurang, tetap segitu-gitu saja.
Pernah sekali terjadi tiba-tiba, ikan-ikan Batak yang berada dalam kolam tersebut hilang entah kemana, kemudian esok harinya kembali seperti semula. Sadar akan potensi wisata tentang keberadaan ikan Batak, maka desa setempat membangun tempat ini, sehingga selain para pengunjung bisa melihat Ikan Batak yang terlihat cantik dan seksi, juga para pengunjung bisa berenang bersamanya. Jangan khawatir, Ikan Batak atau ikan Dewa atau ikan Kancra Putih yang bersisik putih mengkilap, tidak akan menganggu manusia yang ingin berenang bersamanya, malah seakan-akan mereka merasa senang, karena kadang-kadang sambil berenang mereka mengikuti kita. (Cerita ini disarikan dari situs liburan.info).
Ikan Batak dari genus Tor, di Jawa Barat disebut sebagai Ikan Dewa yang dikeramatkan sehingga masyarakat tidak mengkonsumsinya. Di daerah Kuningan Jawa Barat, konon bila masyarakat menemukan ikan ini mati maka mereka memperlakukannya layaknya manusia yang diberi kain kafan dan dikuburkan. Di beberapa daerah Jawa Barat lainnya seperti di kawasan Telaga Remis dan Telaga Nilem, ikan ini disebut dengan nama Ikan Kancra.
Demikianlah mitos yang melegenda di masyarakat tentang Ikan Batak yang secara alami ternyata mampu melestarikan jenis ikan ini dari kepunahannya.
Sebagai Ikan Komersial
Ikan Batak yang disebut Ikan Jurung, selain sebagai penganan dalam prosesi adat oleh masyarakat Batak, juga dikonsumsi sebagai makanan biasa. Di daerah Bahorok – Sumatra utara, Ikan Batak adalah sebagai ikan sajian di restoran atau warung makan yang disajikan berupa ikan steam yang satu porsinya ukuran 1 ons seharga Rp 20.000. Harga Ikan Batak yang berukuran sekitar 1 kg di Bahorok adalah sekitar Rp 200.000. Bukan hanya di daerah Bahorok, tetapi di kota Medan relativ banyak restoran yang menyajikan menu dari Ikan Batak.
Kalau di Tanah Batak khususnya bahwa Ikan Batak sebagai ikan konsumsi sementara banyak pula kawasan menganggapnya sebagai ikan keramat dan mempercayai bahwa yang memakannya akan mendapat sakit, bahkan musibah yang membawa kematian, tentu sangat jauh dari logika akal sehat, namun cerita yang dimitoskan ini memang diakui efektif untuk melestarikannya.
Yang menjadi pertanyaan besar bahwa ikan ini terpromosikan secara berlebihan sehingga ada yang memanfaatkannya menjadi komoditi yang sangat mahal harganya. Kalau di Tanah Batak harganya dapat mencapai Rp 200.000 – Rp 350.000 untuk ukuran minimal 1 kg, maka di Bogor yang sudah mengembang biakkannya berharga sampai mencapai Rp 1.000.000 per ekor untuk ukuran 1 kg. Luar biasa…. Tendensi mahalnya ikan ini justru akan memotivasi masyarakat untuk mengambil Ikan Batak ini secara tak terkendali. Mudah-mudahan tidak terjadi.
Sebenarnya sebaran habitat Ikan Batak sangat meluas dan masih banyak ditemukan dikawasan Asia Tenggara. Seluruh daerah di Pulau Sumatra masih ditemukan jenis Ikan Batak dari genus tor ini. Bahkan sebaran ini terdapat pula di Pulau Jawa dan Kalimantan. Jadi anggapan bahwa ikan ini menuju kepunahannya tidaklah sepenuhnya dapat dibenarkan. Para penangkar di Pulau Jawa sudah banyak yang mengembangkannya dan bahkan instansi perikanan sudah mengembangbiakkannya dengan sangat gampang.
Kalau di Sumatera Utara, khususnya Tanah Batak memang sudah berkurang pasokannya karena kepedulian masyarakat yang masih rendah memperlakukan alam sebagai lingkungan ekosistim yang perlu dijaga. Banyak masyarakat Batak yang tidak terusik dengan mitos sehingga mereka menangkap Ikan Batak (ikan Jurung) ini dengan setrum listrik, bahkan dengan penaburan racun sehingga tentusaja perkembangannya terhambat dan memang sudah menuju kepunahan di daerah itu.
Salah Kaprah
 

Jenis Ikan Batak genus Tor (Ikan Jurung), bukan Ihan
Ikan Batak
yang dikenal secara umum di Indonesia adalah dari genus Tor, yang di Tanah Batak dikenal dengan Dekke Jurung-jurung (Ikan Jurung). Memang benar Ikan Jurung ini dinamai Ikan Batak, namun Ikan Batak yang disebut sebagai Ihan adalah ikan asli Batak yang sudah menuju kepunahan atau memang sudah punah adalah dari genus Neolissochilus.

Ikan Batak yang secara umum di Indonesia memiliki nama-nama lain di setiap daerah seperti: Ikan Jurung (Sumatra Utara), Ikan Kerling (Aceh), Iken Pedih (Gayo), Ikan Gariang (Padang), Ikan Semah (Palembang), Ikan dewa (Jawa Barat), Ikan Kancra bodas, Kencara (Kuningan Jawa Barat), Ikan Tambra, Tombro (Jawa), Ikan Kelah, Ikan Sultan (Malaysia), Ikan Mahseer (Internasional), dan mungkin masih banyak nama lainnya.
Secara morfology memang sulit untuk membedakan antara genus Tor dan genus Neolissochilus, bahkan boleh dikata ada kemiripan bentuk dengan jenis ikan mas kecuali ukuran sisik yang lebih besar daripada ikan mas (Cyprinus Carpio) yang memang dari keluarga yang sama yaitu family Cyprinidae. Kemiripan inilah yang membuat orang-orang lantas menamakan Ikan Jurung sebagai Ikan Batak, padahal Ikan Batak Asli adalah yang disebut Ihan adalah dari genus Neolissochilus yang sudah menuju kepunahan, dan salah satu spesiesnya Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933 adalah ikan endemik Danau Toba dan umumnya di Tanah Batak.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan taxonomi Ihan (Ikan Batak Asli) yang masuk dalam status The Red List of Threatened Species oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources):
IHAN:
Taxonomy:
  • Kingdom: Animata
  • Phylum: Chordata
  • Class: Actinopterygii
  • Order: Cypriniformes
  • Family: Cyprinidae
  • Scientific Name: Neolissochilus thienemanni
  • Species Authority: (Ahl, 1933)
1. Assesment Information:
  • Red List Category & Criteria: Vulnerable D2 ver2.3
  • Years Assessed: 1996
  • Annotation: Need updating 
  • Assessor/s: World Conservation Monitoring Center 
2. Geographic Range
  • Range Description: Endemic to Lake Toba in Sumatera
  • Countries: Natives: Indonesia (Sumatera)
3. Habitat & Ecology
  • Systems: Freshwater
IUCN Red List Status (Ref. 57073) (IUCN 2006 2006 IUCN red list of threatened species. www.iucnredlist.org.)
Dari genus Neolissochilus yang terdapat di Indonesia ada dua spesies yaitu species Neolissochilus Sumatranus, yang terdiri dari tiga sub-spesies yaitu Lissochilus sumatranus, Weber & de Beaufort, 1916; Acrossocheilus sumatranus, Datta & Karmakar, 1984; Neolissochilus sumatranus, Doi, 1997. Spesies lain adalah species Neolissochilus thienemanni, Doi, 1997 dengan sub-species Lissochilus thienemanni, Ahl, 1933.
Untuk lebih memahami perbedaan Ikan Batak yang diartikan secara umum dan Ikan Batak Asli yang dikenal oleh orang Batak sebagai Ihan, berikut ini diuraikan taxonomy masing-masing:
Taxonomy Ikan Jurung (Ikan Batak = Ikan Dewa), terdapat 24 spesies yang baru tercatat:
  • Kingdom: Animalia
  • Phylum: Chordata
  • Subphylum: Vertebrata
  • Superclass: Osteichthyes
  • Class: Actinopterygii
  • Subclass: Neopterygii
  • Infraclass: Teleostei
  • Superorder: Ostariophysi
  • Order: Cypriniformes
  • Superfamily: Cyprinoidea
  • Family: Cyprinidae
  • Subfamily: Cyprininae
  • Genus: Tor Gray, 1834
Species:
  1. Tor ater, Roberts, 1999
  2. Tor barakae, Arunkumar & Basudha, 2003 , Barakae mahseer
  3. Tor douronensis, Valenciennes, 1842, khela mahseer or river carp
  4. Tor hemispinus, Chen & Chu, 1985
  5. Tor kulkarnii, Menon, 1992, Dwarf mahseer , uncertain only one specimen found till now
  6. Tor khudree, Sykes, 1839, Deccan mahseer
  7. Tor laterivittatus, Zhou & Cui, 1996
  8. Tor macrolepis, Heckel, 1838, uncertain species
  9. Tor polylepis, Zhou & Cui, 1996
  10. Tor progeneius, McClelland, 1839, Jungha mahseer
  11. Tor qiaojiensis, Wu, 1977
  12. Tor malabaricus, Jerdon, 1849, Malabar mahseer
  13. Tor mosal, Hamilton, 1822, Mosal Mahseer; Tor mosal mahanadicus, (closer to Tor putitora)
  14. Tor mussullah, Sykes, 1839, High-backed mahseer, Hump-backed mahseer or Southern mahseer
  15. Tor putitora, Hamilton, 1822, Himalayan mahseer or Golden mahseer
  16. Tor sinensis, Wu, 1977, Chinese mahseer
  17. Tor soro, Valenciennes, 1842
  18. Tor tambra, Valenciennes, 1842
  19. Tor tambroides, Bleeker, 1854, Thai mahseer
  20. Tor tor, Hamilton, 1822, Red-finned mahseer, Short-gilled mahseer or Deep-bodied mahseer
  21. Tor yingjiangensis, Chen & Yang, 2004
  22. Tor yunnanensis, Wang, Zhuang & Gao, 1982
  23. Tor remadevi, NATP report, 2004 uncertain – only one specimen found
  24. Tor moyarensis, NATP report, 2004 uncertain – only one specimen found
Taxonomy Ihan (Ikan Batak Asli), terdapat sekitar 24 spesies:
  • Family: Cyprinidae
  • Sub family: Cyprininae
  • Genus: Neolissochilus
Species:
  1. Neolissochilus baoshanensis (Chen & Yang 1999)
  2. Neolissochilus benasi (Pellegrin & Chevey, 1936)
  3. Neolissochilus blanci (Pellegrin & Fang, 1940): Puntius blanci; Barbus blanci Pellegrin & Fang, 1940; Labeobarbus blanci Pellegrin & Fang, 1940
  4. Neolissochilus blythii (Day, 1870): Puntius blythii; Barbodes blythii Day, 1870; Barbus blythii Day, 1870
  5. Neolissochilus compressus (Day, 1870): Puntius compressus; Barbodes compressus Day, 1870; Barbus compressus Day, 1870
  6. Neolissochilus dukai (Day, 1878): Puntius dukai; Barbus dukai Day, 1878; Neolissochilus dukai Doi, 1997
  7. Neolissochilus hendersoni (Herre, 1940): Lissochilus hendersoni Herre, 1940
  8. Neolissochilus heterostomus (Chen & Yang 1999)
  9. Neolissochilus hexagonolepis (McClelland, 1839): Puntius hexagonolepis; (synonym); Barbus hexagonolepis McClelland, 1839; Acrossocheilus hexagonolepis Shrestha, 1978; Barbodes hexagonolepis Chu & Cui, 1989; Neolissochilus hexagonolepis Talwar & Jhingran, 1991; Barbus hexagonlepis Zhang et al., 1995
  10. Neolissochilus hexastichus (McClelland, 1839)
  11. Neolissochilus innominatus (Day, 1870): Puntius innominatus; Barboides innominatus Day, 1870; Barbus innominatus Day, 1870
  12. Neolissochilus longipinnis (Weber & de Beaufort, 1916): Labeobarbus longipinnis Weber & de Beaufort, 1916
  13. Neolissochilus nigrovittatus (Boulenger, 1893): Puntius nigrovittatus; Barbus nigrovittatus Boulenger, 1893
  14. Neolissochilus paucisquamatus (Smith, 1945): Barbus paucisquamatus; Puntius paucisquamatus Smith, 1945
  15. Neolissochilus soroides (Duncker, 1904): Puntius soroides; Barbus soroides Duncker, 1904
  16. Neolissochilus spinulosus (McClelland, 1845): Puntius spinulosus; Barbus spinulosus McClelland, 1845
  17. Neolissochilus stevensonii (Talwar & Jhingran, 1991): Puntius stevensonii; Barbodes stevensonii Day, 1870; Barbus stevensonii Day, 1870
  18. Neolissochilus stracheyi (Day, 1871): Puntius stracheyi; Barbus stracheyi Day, 1871; Neolissochilus stracheyi Talwar & Jhingran, 1991
  19. Neolissochilus subterraneus Vidthayanon & Kottelat, 2003
  20. Neolissochilus sumatranus Doi, 1997: Lissochilus sumatranus Weber & de Beaufort, 1916; Acrossocheilus sumatranus Datta & Karmakar, 1984; Neolissochilus sumatranus Doi, 1997
  21. Neolissochilus thienemanni (Ahl, 1933): Lissochilus thienemanni Ahl, 1933
  22. Neolissochilus tweediei (Herre and Myers, 1937): Lissochilus tweediei Myers, 1937
  23. Neolissochilus vittatus (Smith, 1945): Acrossochilus vittatus Smith, 1945
  24. Neolissochilus wynaadensis Talwar & Jhingran, 1991: Puntius wynaadensis; Barboides wynaadensis Day, 1873; Barbus wynaadensis Day, 1873.
Demikianlah bahwa ada perbedaan pemahaman tentang Ikan Batak. Ikan Jurung yang disebut sebagai Ikan Batak secara umum bukanlah Ikan Batak yang disebut Ihan, walaupun memang sama-sama sebagai Ikan Batak. Kalau Ikan Batak yang disebut Ihan (Neolissoichus Thienemanni) memang sudah tak kelihatan lagi dan mungkin sudah punah. Kalau jenis ikan langka ini ada ditemukan oleh masyarakat Batak khususnya di Danau Toba sebagai ikan endemic di ekologi aslinya, maka dihimbau untuk menyerahkannya kepada para ahlinya agar berkesempatan untuk diselamatkan.
Baru-baru ini di bulan Nopember 2009, Tim peneliti dari Balai Riset Perairan Umum (BRPU) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia berhasil menemukan 4 (empat) spesies ikan dari genus Tor (Ikan Batak = Ikan Jurung) di Danau Laut Tawar Takengon Aceh Tengah. Penemuan ini sangat menggembirakan karena di Danau Laut Tawar itu menjadi habitat terbanyak spesies ini, dimana sebelumnya di Jawa Barat hanya terdapat 3 spesies dari genus Tor ini. Spesies yang ditemukan di Danau Laut Tawar ini adalah species Tor Douronensis, Tor Tambra, Tor Soro dan Tor Tambroides.
Yang lebih mengagumkan lagi bahwa di Danau Laut Tawar itu ditemukan pula Ihan dari species Neolissochilos Longipinnis. Ikan-ikan langka tersebut diperoleh dari dua lokasi yaitu dari Kampung Lumut Kecamatan Linge dan sebagian ikan dari Samarkilang Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah. Mungkinkah Ihan ini dibawa oleh orang Batak yang sudah bermigrasi sejak jaman dahulu di Aceh Tengah? Tentu semua berharap bahwa jenis ikan khususnya Ihan yang ditemukan itu dapat diteliti lebih lanjut untuk dikembangkan dan bila perlu dikembangkan pula di Danau Toba sebagai habitat asli Ihan. (maridup hutauruk, jan2010).