Hoorass-anda di "Dolok Tolong Site" !!!

Selasa, 30 Juli 2013

LEGENDA NAMBORU BORU SARODING


Legenda Namboru Boru Saroding dituturkan dalam bahasa Batak, agar penyampaian informasi yang bertujuan mudah dibaca dan diketahui oleh Pecinta Seni Budaya Sejarah Tanah Air, terkhusus Anak Cucu Keturunan Toga Pandiangan.
Saya melakukan edit terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia tanpa mengurangi atau mengubah fakta dan tujuan dari Legenda Namboru Boru Saroding. Untuk itu, terlebih dahulu saya memohon Maaf yang sebesar-besarnya, kepada Namboru Boru Saroding, Amangboru, dan kepada keluarga besar saya, TOGA PANDIANGAN, jika terdapat kesalahan disana-sini dalam penulisan cerita ini. Saya dengan segenap hati saya, slalu menerima kritikan dan saran yang membangun demi meluruskan kisah Namboru kita ini.
Suatu hari menjelang siang, Namboru Boru Saroding pergi ke Danau Toba untuk mandi sekaligus mencuci pakaian, tepatnya di tepi danau tempat tinggal orang tuanya yang terletak di antara Palipi-Mogang (Kecamatan Palipi Kab.Samosir) yang bersebelahan dengan Rassang Bosi dan Dolok Martahan. Boru Saroding terkenal dengan kecantikannya, konon pada jaman itu Boru Saroding diklaim sebagai Putri tercantik dari seluruh Putri/Boru Pandiangan. Karena kecantikannya, banyak Pemuda yang datang dari kampung lain bahkan dari seberang Danau Toba untuk merayunya (Manandangi) akan tetapi tak satupun yang mampu menaklukkan hatinya baik yang kaya ataupun yang tampan. Pemuda yang datang, pulang tanpa hasil. Namun pemuda-pemuda tersebut juga tidak merasa sakit hati karena Boru Saroding menyambut mereka dengan sopan dan ramah.
Boru Saroding yang dikenal pendiam, sopan, taat akan orang tua dan baik hati terhadap teman-temannya, pandai membuat Ulos Batak. Dia sangat ulet dalam pekerjaannya. Ke-uletannya itu membuat orang tuanya cukup heran sekaligus bangga terhadap putrinya. Boru Saroding yang dalam adat Batak, mempunyai sifat dan sikap yang sangat baik, merupakan calon menantu idaman yang sangat dicari oleh putra raja.
Ketika Boru Saroding sedang mandi dan membilas rambutnya yang panjang dan indah di tepi Danau Toba, tiba-tiba sebuah sampan yang ditumpangi seorang pemuda tampan dan berwibawa yang berdiri di atas sampan datang menghampiri Boru Saroding. Melihat pemuda yang mengenakan Ulos Batak dan melihat tampangnya, Boru Saroding berpikir bahwa pemuda tersebut bukanlah seorang nelayan biasa seperti yang sering dilihat disekitar pantai Danau Toba. Ketika Pemuda bersampan tersebut semakin dekat ke tempat dimana Boru Saroding berkeramas jeruk purut (Anggir dlm Bahasa Batak) hati Boru Saroding berdebar dan bertanya-tanya dalam hati,
“Siapakah pemuda ini?” seraya bergegas dengan cepat membersihkan rambutnya, karena merasa malu dipandangi seroang pemuda sedang mandi.
Dengan tergesa-gesa Boru Saroding pun selesai mandi dan beranjak dari pantai menuju kediaman orang tuanya. Akan tetapi ketika Boru Saroding hendak melangkah, sang Pemuda pun berkata kepada Boru Saroding,
“Putri Raja.. kenapa tergesa-gesa pulang??” tanya pemuda tersebut kepada Boru Saroding. Seketika langkah Boru Saroding pun terhenti karena terkejut dan seraya melirik ke arah Pemuda yang memanggil nya.
“Pemuda ini tampan dan berwibawa ya” penilaian Boru Saroding dalam hati.
“Kebetulan masih banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan di rumah kami” dalih Boru Saroding kepada Pemuda tersebut.
Si Pemuda Tampan dan Berwibawa tersebut pun menghampiri Boru Saroding seraya memperkenalkan diri. Tempat asalnya dari Rassang Bosi (Desa Sabulan Kec.Sitio tio) yang disebut Ulu Darat kepada Boru Saroding. Dengan hormat Sang Pemuda pun menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Boru Saroding sekaligus berniat agar Boru Saroding mau memperkenalkan pemuda tersebut kepada kedua orang tua Boru Saroding. Karena dari awal Boru Saroding melihat pemuda tersebut sudah terkesan dengan Ketampanan dan Kewibawaan sang pemuda, Boru Saroding pun merasa senang dan menyetujui permohonan sang pemuda, merekapun bergegas berjalan bersama menuju rumah Boru Saroding.
Ketika Boru Saroding dan Pemuda tersebut tiba di rumahnya, seketika Orangtua dan saudara-saudarinya merasa kagum akan tampang dan cara bicara sang pemuda yang datang bersama Boru Saroding, mereka serasa disulap melihat sang pemuda tersebut yang berbadan kekar tersebut.
Singkat cerita, Sang Pemuda tersebutpun menyampaikan niat baiknya yang ingin mempersunting Boru Saroding sebagai istrinya kepada Kedua Orang Tua dan Saudara-Saudari Boru Saroding, Guru Solandason (Ayah dari Boru Saroding) meminta tanggapan dari putrinya Boru Saroding, apakah putrinya Boru Saroding menyukai pemuda tersebut, Boru Saroding pun menyatakan bahwa putrinya suka dan mau menjadi istri Pemuda tersebut.
Tak lama kemudian, Guru Solandason memberitahukan kepada Sanak saudaranya. Dan selanjutnya Pemuda tersebut dan Boru Saroding pun mendapat restu dari kedua orangtua Boru Saroding. Kemudain Upacara Adat Pernikahanpun segera dilaksanakan di tempat tinggal Boru Saroding. Setelah acara adat selesai merekapun diberangkatkan menuju tempat dimana Suami Boru Saroding tinggal.
Merekapun naik sampan menuju Rassang Bosi, akan tetapi Boru Saroding sangat terkejut dikarenakan mereka begitu cepat sampai disana. Boru Saroding pun semakin heran karena suaminya menceritakan tempat tinggalnya di atas gunung di tengah hutan, Tombak Ulu Darat. Namun Boru Saroding tidak terlalu kawatir karena ketika mereka berjalan melewati jurang yang dalam dan terjal ditambah hutan yang begitu liar, Sang Suami menuntun langkahnya, memegang tangan Boru Saroding sehingga Boru Saroding tak sedikitpun merasa lelah bahkan suaminya terlihat kuat tanpa keringat melewati daerah yang cukup melelahkan untuk di lalui.
Tidak berapa lama kemudian, Boru Saroding dan Suaminya tiba di rumah Suaminya. Merekapun istirahat hingga tertidur pulas sampai keesokan harinya ketika menjelang pagi Boru Saroding pun terbangun namun Boru Saroding tidak melihat Suaminya sehingga Boru Saroding melihat ke samping rumah dan ke belakang rumah. Kemudain ketika Boru Saroding hendak melihat suaminya ke depan rumah, Boru Saroding pun tersentak karena terkejut melihat seekor ular berukuran sangat besar melintas di halaman depan rumah suaminya. Tiba-tiba dengan sangat tergesa-gesa Boru Saroding menutup pintu rumah karena merasa sangat terkejut dimana Boru Saroding sebelumnya tidak pernah melihat ular yang ukurannya sangat besar dan memiliki kepala yang tidak seperti kepala ular pada umumnya. Dengan rasa takut yang luar biasa dan rasa heran, Boru Saroding pun duduk diam terpaku di dalam rumah. Tak lama kemudian, Boru Saroding pun mendengar suara Suaminya memanggil namanya. Sehingga Boru Saroding dengan segera bergegas membukakan pintu rumah untuk suaminya dan langsung mengatakan “Tadi saya melihat seekor ular besar dengan kepala yang aneh melintas dari halaman rumah kita menuju pohon besar di hutan” kata Boru Saroding kepada Suaminya.
Kemudian Suaminya menjawab pertanyaan Boru Saroding “Tidak usah takut, ular itu ular yang baik dan tidak mengganggu”.
Mereka menjalani dan melalui hari ke hari dengan kebahagian karena Suami Boru Saroding selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa kekurangan bahkan Suami Boru Saroding cukup pintar menghibur Boru Saroding dengan canda dan tawa, serta memiliki perhatian dan kasih sayang yang begitu besar kepada Boru Saroding. Dia berusaha mencarikan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang mampu membuat kecantikan Boru Saroding terawat. Semua hal tersebut dilakukan dan dipenuhi Suaminya dengan sangat sangat mudah tanpa ada keluhan apapun sehingga mereka hidup dalam kebahagian melalui hari-hari rumahtangga mereka.
Akan tetapi semakin lama Boru Saroding pun merasa heran yang dari hari ke hari semakin bertambah kecurigaanya terhadap cara hidup Suaminya yang penuh kemudahan hingga pada suatu saat tanpa sengaja Boru Saroding melihat Suaminya di bagian atas rumah (Para-Para dlm Bahasa Batak) sedang berubah wujud menjadi seekor ular berukuran sangat besar persis seperti ular yang pernah Boru Saroding lihat sebelumnya. Namun Boru Saroding berura-pura tidak melihat kejadian tersebut karena merasa takut Ular tersebut marah kepada Boru Saroding. Kemudian ular tersebut melintas keluar dari rumah menuju hutan hingga Boru Saroding tinggal sendirian di dalam rumah.
Boru Saroding merasa sangat terpukul dan merasa menyesal yang begitu mendalam karena tanpa berpikir panjang dan tanpa mengenal lebih jauh siapa laki-laki tersebut hingga menerima permintaannya menadi istrinya karena Boru Saroding telah mengetahui bahwa Suaminya bukan manusia biasa. Menjelang sore, suaminyapun kembali dari hutan membawa bekal berupa buah-buahan, daging Rusa, Burung. Kemudian Boru Saroding pun bergegas menyambut suaminya membawa hasil yang dibawa suaminya ke dapur untuk dimasak dan dijadikan untuk makan malam. Setelah Boru Saroding selesai menyiapkan makan malam, merekapun makan malam bersama di rumah yang berada di tengah hutan rimba tersebut dimana selama ini suaminya tinggal. Setelah usai makan malam, merekapun berbincang-bincang dan dengan jujur Suaminya memberitahukan siapa dia sebenarnya kepada istrinya Boru Saroding,
“Saya sebenarnya adalah Penguasa Ulu Darat, yang bisa berubah-ubah wujud dari manusia menjadi ular dan dari ular menjadi manusia” tegas Suaminya kepada Boru Saroding. Akan tetapi Boru Saroding cukup pintar menyembunyikan rasa takut dan penyesalannya yang sangat dalam kepada suaminya. Boru Saroding hanya tersenyum kepada Suaminya, sehingga suaminya merasa senang karena melihat istrinya Boru Saroding tidak terkejut atas pengakuannya yang jujur kepada Boru Saroding.
Hingga suatu ketika, kedua saudara Boru Saroding datang berkunjung ke rumah Boru Saroding yang berada di antara pegunungan di tengah-tengah hutan yang dinamai Tombak Ulu Darat. Karena kedua saudaranya sudah sangat merindukan Boru Saroding yang merupakan saudari perempuan tersayang mereka. Boru Saroding pun merasa sangat bahagia karena sudah dikunjugi oleh saudaranya sehingga dengan sangat gembira, Boru Saroding pun menyajikan berbagai aneka makanan dan buah-buahan kepada kedua saudaranya tersebut. Sembari menikmati makanan yang banyak, mereka bercerita dan berbincang-bincang hingga rasa rindu mereka terobati hingga waktu tidak terasa sudah berlalu lama. Senja pun tiba, seperti biasanya Boru Saroding tahu jika Suaminya akan segera kembali dari hutan dan dengan tergesa-gesa Boru Saroding berusaha mengajak kedua saudaranya untuk bersembunyi di bagian atas rumah di bawah atap karena Boru Saroding sudah mendengar suara-suara pertanda suaminya akan datang. Karena Boru Saroding merasa ketakutan dimana Boru Saroding tahu bahwa ular tersebut mau memakan manusia, kedua saudaranya pun bersembunyi agar tidak terlihat oleh Suami Boru Saroding. Suami Boru Saroding pun tiba di rumah, tiba-tiba suaminya tampak heran dan sepertinya mencium sesuatu yang lain dari yang lain dan bertanya “Sepertinya saya mencium darah manusia lain di rumah ini” kepada isterinya Boru Saroding. Dengan tergesa-gesa Boru Saroding berupaya mengalihkan pembicaraan dengan cepat menghidangkan makan malam suaminya. Kemudian Suami Boru Saroding selesai makan malam, selanjutnya Boru Saroding mengajak Suaminya untuk beristirahat. Ketika mereka hendak beristirahat, sesekali dengan tampak yang penuh curiga, Suami Boru Saroding bertanya, “Saya mencium ada orang lain di rumah ini?” tanya suaminya kepada Boru Saroding.
“Ah… sudahlah, itu hanya perasaanmu saja, tidak ada orang lain di rumah ini” jawab Boru Saroding dengan rasa takut yang luar biasa kepada Suaminya.
“Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat saja” ajak Boru Saroding kepada suaminya yang masih tetap bertingkah aneh penuh curiga.
Karena tidak tahan lagi Boru Saroding menyembunyikan rasa takutnya kepada suaminya, kemudian Boru Saroding pun memberitahukan keberadaan kedua saudaranya kepada Suaminya,
“Ampuni .. saya suamiku, karena aku telah membohongimu” kata Boru Saroding kepada Suaminya.
“Benar di rumah ini ada orang lain selain kita, karena saya beripikir engkau akan marah jika engkau tahu saudara-saudaraku datang mengunjungi kita ke tempat ini” aku Boru Saroding dihantui rasa takut yang sangat besar kepada Suaminya.
“Mereka datang karena sudah sangat rindu kepada kita” kata Boru Saroding sambil memohon dan membujuk Suaminya.
Kemudian Suami Boru Saroding meminta agar kedua saudara Boru Saroding dipanggil untuk datang menghadap suaminya. Dengan perasaan yang masih dihantui ketakutan, Boru Saroding pun memanggil kedua saudaranya keluar dari tempat persembunyian mereka di bagian atas rumah di bawah atap rumah (Dalam Bahasa Batak disebut Bukkulan Ni Ruma). Kemudian kedua saudara Boru Saroding menghampiri Suami Boru Saroding seraya saling bersalaman dan tidak seperti ketakutan yang dibayangkan oleh Boru Saroding, justru kedua saudara Boru Saroding tampak gembira bercerita dengan suaminya hingga saking asiknya pembicaraan mereka (Suami dan Saudara Boru Saroding) tidak terasa waktupun sudah menjelang pagi.
Setelah pagi hari tiba, kedua saudara Boru Saroding berniat untuk kembali ke Samosir, sehingga kedua saudaranya memberitahu kepada Boru Saroding bahwa mereka akan kembali ke Samosir pagi ini. Boru Saroding pun mengajak kedua saudaranya untuk mohon pamit kepada Suaminya. Ketika hendak berpamitan, salah satu saudara Boru Saroding berkata “Lae, kami akan segera pulang ke Samosir, Lae kasih apa sama kami untuk kami bawa pulang ke Samosir?” tanya saudara Boru Saroding kepada suami Boru Saroding.
“Trimakasih Lae karena telah datang berkunjung kesini” jawab Suami Boru Saroding kepada kedua saudaranya sambil memberikan 2 (dua) buah bingkisan yang di balut kain dan diikat dengan tali kepada Pandiangan (Kedua Saudara Boru Saroding), seraya berpesan : “Hanya saja ada syarat yang harus dipenuhi oleh Lae” kata Suami Boru Saroding.
“Apa saja syaratnya Lae?” tanya kedua saudara Boru Saroding kepada suami saudarinya itu.
“Sesampainya di Samosir, bingkisan ini jangan dibuka akan tetapi lae harus menunggu hingga 7 (tujuh) hari lamanya baru Lae Pandiangan bisa membuka bungkusan ini” pesan suami Boru Saroding kepada kedua saudara Boru Saroding.
Kedua Saudara Boru Saroding menjawab “Ia Lae, akan kami penuhi pesan lae”.
Kemudian Pandiangan (Kedua saudara Boru Saroding) pun pamit dan beranjak pulang melewati hutan yang cukup mengerikan, melalui lembah dan jurang-jurang yang terjal hingga kedua saudara Boru Saroding pun tiba di tepi pantai Desa Sabulan. Selanjutnya mereka menaiki sampan untuk menyebrang ke Pulau Samosir.
Setelah mereka tiba di rumah masing-masing dimana pada saat itu kedua saudara Boru Saroding (Pandiangan) sudah menikah dan tinggal dirumah bersama isteri masing-masing, mereka menceritakan perjalanan yang ditempuh kepada isteri mereka masing masing, mereka menunjukkan bingkisan (Gajut) yang mereka bawa kepada isterinya.
Salah satu dari Pandiangan (Saudara Boru Saroding) bersungut-sungut karena merasa kesal dengan hanya menerima bingkisan (Gajut) kecil dari Laenya yang sudah bersusah paya mengunjungi Lae dan saudarinya di tengah hutan diatas gunung Ulu Darat tersebut. “Masa jauh-jauh dari Samosir ke Ulu Darat hanya dikasih bungkusan kecil kek gini, itupun pake syarat pula itu” kata salah satu saudara Boru Saroding kepada istrinya. Pendek cerita, karena tidak sabar menunggu hari yang telah dipesankan oleh Laenya ditambah rasa penasaran yang cukup besar, maka Pandiangan (Sudara Boru Saroding) membuka bungkusan tersebut. Karena tidak sesuai dengan pesan Suami Boru Saroding, maka bungkusan yang dibuka salah satu saudara Boru Saroding tersebutpun hanya berisikan: Tanah, Kunyit, Potongan Kayu kecil dan ulat-ulat. Merasa dihina, Pandiangan (salah satu saudara Boru Saroding yang membuka bungkusan tersebut) pun marah dan mengucapkan makian terhadap suami Boru Saroding,
“Kurang ajar,,, masa kek gini cara dia menghargai saya selaku saudara laki-laki Boru Saroding. Tidak tahu sopan terhadap keluarga istrinya..!!!” kata salah satu saudara Boru Saroding lalu membuang bungkusan yang dibuka tersebut sebelum waktunya.
Kemudian Pandiangan membujuk dan mengajak adiknya Pandiangan paling bungsu untuk turut membuka bungkusan yang diberikan oleh Laenya tersebut, “Buka aja dik bungkusannya, mungkin isinya sama saja seperti yang telah abang buka tadi” kata Pandiangan yang tadi kepada saudaranya. Akan tetapi Pandiangan paling bungsu tetap tidak mau membuka bungkusan tersebut dan bertahan memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh Laenya (Suami Boru Saroding). Setelah hari ke 7 (tujuh) tiba, sesuai dengan pesan Laenya, maka Pandiangan paling bungsu pun membuka bungkusan tersebut dan ketika bungkusan tersebut dibuka, tiba-tiba keluar ulat-ulat yang jumlahnya sangat banyak dari bungkusan akan tetapi dalam hitungan beberapa detik, ulat-ulat yang tadinya keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi kerbau dan sapi dengan jumlah yang sangat banyak juga. Saking banyaknya jumlah sapi dan kerbau tersebut, hingga lokasi pekarangan perkampungan tersebut terlihat padat. Sementara kunyit yang keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi emas dengan jumlah yang cukup banyak dan potongan kayu kecil pun berubah menjadi batang pohon yang memadati lokasi perkampungan Pandiangan paling bungsu.
Beberapa bulan kemudian, ternak sapi dan kerbau yang dimiliki Pandiangan paling bungsu semakin lama semakin bertambah banyak jumlahnya sementara hasil pertanian dan pohon yang dimilikinya ikut bertambah banyak sehingga Pandiangan paling bungsu semakin terkenal sebagai warga paling kaya di daerah tersebut.
Setelah hampir ½ tahun kemudian, karena sudah sangat rindu akan kampung halamannya, terlebih-lebih kepada Orangtua dan saudara-saudaranya di Samosir, maka Boru Saroding pun meminta ijin kepada suaminya untuk diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman guna mengobati rasa rindunya tersebut.
“Suamiku… saya sudah rindu akan kampung halaman, saudara-saudaraku dan terlebih lebih orang tuaku di Samosir, ijinkan saya menjenguk mereka, saya tidak akan lama lama disana” Kata Boru Saroding kepada Suaminya.
Dengan berat hati Suami Boru Saroding menjawab : “Sepertinya saya punya firasat buruk jika aku ijinkan engkau berkunjung ke Samosir, sepertinya engkau tak akan kembali lagi ke tempat kita ini (Ulu Darat)”
Boru Saroding pun tidak putus asa dan tetap berupaya membujuk suaminya agar Boru Saroding diberi ijin seraya berusaha memberikan kepercayaan kepada Suaminya.
“Suamiku… saya janji jika engkau ijinkan saya ke Samosir, saya akan pulang karena saya tidak mungkin meninggalkan suamiku sendiri yang telah memberikan saya kebahagian dan telah memberikan aku kasih sayang. Saya hanya sebentar di Samosir setelah itu saya akan pulang ke sini (Ulu Darat)” jelas Boru Saroding kepada Suaminya.
Karena Boru Saroding sudah memohon dan memberikan penjelasan yang cukup meyakinkan suaminya, maka suami Boru Saroding pun mengijinkan Boru Saroding untuk bertamu ke Samosir tempat tinggal mertuanya, sehingga suaminya mengantarkan Boru Saroding ke tepi pantai Danau Toba untuk menyeberangkan istrinya ke Samosir.
Dengan penuh keajaiban, suami Boru Saroding memetik sepucuk daun pohon kemudian meletakkannya di tepi Danau dan tiba-tiba daun tersebut berubah menjadi sebuah sampan. Setelah itu suami Boru Saroding mempersilahkan Boru Saroding memasuki sampan tersebut. Kemudain Suami Boru Saroding berkata : “Boru Saroding istriku yang baik hati, engkau adalah putri raja yang telah menjadi istrik. Engkau berjanji akan cepat kembali dari Samosir karena kita saling mencintai dan saling menyayangi. Jadi kumohon dengan sangat, agar engaku penuhi janjimu dan cepat pulang ya isteriku, saya juga percaya akan apa yang telah engkau janjikan kepadaku..” kata suaminya kepada Boru Saroding.
Boru Saroding pun mengangguk seraya meng-ia kan perkataan suaminya dan berkata “Baik Suamiku, percayalah… saya akan cepat pulang dari Samosir, engkau boleh membuat sumpah” kata Boru Saroding kepada suaminya dengan usaha untuk tetap menyakinkan suaminya agar rencananya dapat berjalan lancar. Lalu Suami Boru Saroding pun mengucapkan sebuah sumpah :
“Dekke Ni Sabulan Tu Tonggina Tu Tabona, Manang ise si ose padan..Turipurna tu magona” (Dalam bahasa Indonesia diartikan bahwa : Setiap Orang yang Ingkar Janji/Sumpah maka Ia akan menanggung akibat buruk). Dengan perasaan sedih yang mendalam di hati Suami Boru Saroding mendorong sampan.
“Berangkatlah istriku Boru Saroding” kata Suaminya kepada Boru Saroding sambil melepas sampan yang dinaiki Boru Saroding ke arah Danau Toba yang saat itu situasi tampak damai tanpa angin dan tanpa gelombang. Bahkan saat itu, cuaca di langit tampak begitu cerah. Setelah Boru Saroding mendayung sampannya sekitar 5 (lima) meter dari bibir pantai, Boru Saroding pun berkata dengan pelan seperti berbisik “Beughhh…bursik ma ho….…., kupikir engkau manusia…ternyata engkau hanya seekor ular dan hanya hantu berwajah manusia. Kau kira saya akan kembali lagi ke Ulu Darat, tempat yang mengerikan itu? Dasar hantu berwajah manusia, berbadan ular.” Kata Boru Saroding dengan pelan sambil tergesa-gesa mendayung sampannya yang dibarengi rasa kecewa serta ketakutan.
Tiba tiba, cuaca di langit berubah menjadi gelap, angin putting beliung, hujan dan suara petir datang sehingga ombak besar mulai muncul di Danau Toba dimana Boru Saroding sedang melintas dengan sampannya. Melihat situasi yang tiba-tiba berubah, Boru Saroding pun menjerit-jerit ketakutan, dengan sekuat tenaga.
Boru Saroding pun berupaya mengendalikan sampannya. Tiba-tiba muncullah ombak yang sangat besar menuju Boru Saroding sehingga Boru Saroding pun tak mampu mengendalikan sampan yang ditumpanginya. Boru Saroding dan sampannyapun ikut terseret gelombang besar tersebut. Tak lama kemudian Boru Saroding pun hanyut dibawa arus air ke dasar Danau Toba.
Semenjak kejadian itu hingga sekarang, Boru Saroding tidak dapat ditemukan dan menurut keyakinan Orang Batak, khususnya warga Pulau Samosir, menyakini bahwa Boru Saroding menjadi arwah penjaga Danau Toba sampai saat ini. Banyak warga yang masih meyakini hal tersebut bahkan sesuai dengan kesaksian beberapa keturunan Pandiangan masih meyakini kalau arwah Boru Saroding konon dikatakan jika ada sebuah kapal yang sedang melintas di perairan Danau Toba dengan kondisi cuaca buruk dan gelombang/ombak besar maka salah satu penumpang kapal yang merupakan keturunan Pandiangan atau masih keluarga dari marga Pandiangan dapat meminta pertolongan melalui doa kepada Boru Saroding agar ombak besar dan angin kencang yang sedang menghalau kapal tersebut dihentikan oleh Arwah Boru Saroding. Akan tetapi hal ini ternyata benar-benar terbukti karena hanya dengan memakan Sirih lalu berdoa memohon bantuan Arwah Boru Saroding, maka kendala apapun yang sedang dialami oleh kapal tersebut, akan dihentikan.
Hingga kini sebagian besar warga Samosir masih meyakini legenda serta keberadaan Arwah Boru Saroding. Dan warga menyebutnya Namboru Boru Saroding Penunggu Danau Toba wilayah Rassang Bosi, Dolok Martahan, Palipi, Mogang, Sabulan Janji Raja, Tamba, Simbolon, dan Hatoguan.
Dan dipesankan kepada seluruh warga yang berkunjung dan melewati daerah tersebut diminta agar tidak membuang ludah/sampah ke Danau serta tidak boleh berbicara kotor karena konon katanya orang yang tidak memenuhi pesan tersebut akan mengalami suatu hal yang cukup mengerikan dan kemungkinan besar kapal yang ditumpangi akan mengalami musibah besar.
Sementara Suami dari Boru Saroding dipanggil warga dengan sebutan “Amangboru Saroding” yang diyakini dan disaksikan sebagian warga Pandiangan, sering melihat suami Boru Saroding turun dari Ulu Darat menuju Danau tempat Ia mengantarkan istrinya, Namboru Boru Saroding. Penampakan dari suami Boru Saroding berwujud Ular Besar dan Panjang berbadan manusia berenang di sekitar tempat Boru Saroding tenggelam bersama sampan yang ditumpanginya.
Sementara di Kaki Gunung Ulu darat tepatnya di perkampungan Pandiangan, Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio terdapat sebuah Permandian Namboru Boru Saroding yang diyakini sebagai tempat Boru Saroding mandi dan keramas dengan jeruk purut. Tempat tersebut diberi nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” di tempat permandian Boru Saroding tersebut terdapat pohon besar dimana pada dahan dan ranting pohon tersebut ditumpangi pohon Jeruk Purut. Akan tetapi buah dari Jeruk Purut yang menumpang ke Pohon besar tersebut tidak boleh diambil sembarang orang.
Kisah atau Legenda ini menjadi salah satu Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Situs Budaya yang mengisahkan Legenda Perjalanan Boru Saroding dan kemudian tempat tersebut di beri nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” yang berlokasi di Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio Kab.Samosir. Atau jika kita berkunjung ke tempat bersejarah tersebut, hanya sekitar ½ jam dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Mogang Kec.Palipi. Tempat ini seiring dikunjungi oleh Keluarga Pandiangan atau Si Raja Sonang bahkan turis lokal maupun mancanegara mengunjugi tempat ini dengan tujuan berjiarah sekaligus mengenang Perjalanan Namboru Boru Saroding Pandiangan.
Gambar
Hingga saat ini, kisah nyata serta kesaksian tentang keberadaan Arwah Namboru Boru Saroding masih banyak dikisahkan oleh warga Samosir khususnya warga yang sedang melintas di Daerah tersebut.
Sejarah Legenda Namboru Boru Saroding yang saya posting ini tentu saja masih belum sempurna bahkan mungkin jika sebelumnya pembaca pernah membaca atau mengetahui legenda ini dari sumber lain dan terdapat ada perbedaan, maka mohon untuk disampaikan komentar, agar kedepannya dapat dilakukan perbaikan-perbaikan…
Horas…!!! Mauliate….!!!

Simardan, Kisah sang anak durhaka

 Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas.
Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan.
Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.
Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu.
Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.
Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.
Berasal Dari Tapanuli
Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai.
Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red).
Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli.
Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.
Menjual Harta Karun
Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga.
Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.
“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.
Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.
Malu
Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung.
Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.
Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.”
Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”
 
Kera Putih dan Tali Kapal
Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.
Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.
Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung.
“Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”

Legenda Simamora Naoto (Ditabunihon Sira tu Aek)


Pada zaman dahulu SIMAMORA terkenal sebagai pedagang garam. Ia sering bepergian untuk waktu yang lama meninggalkan keluarganya untuk berdagang garam. Garam - garam ini diambilnya pesisir barat Sumatera untuk dijualnya ke beberapa pasar yang dilaluinya seperti Pahae, Sipirok, Silindung, Doloksanggul dan jika dagangan masih tersisa, ia akan menjualnya di Bakkara di pinggir Danau Toba. Bakul tempat garamnya diletakkan di atas kuda beban yang menjadi tunggangannya.

Simamora adalah orang yang ramah, dan jujur dalam berdagang. Banyak dari orang – orang yang bertemu dengan dia merasa senang berdagang kepadanya. Oleh karena itu, Simamora punya banyak langganan dan kenalan.

Berdagang garam tidaklah selalu mudah. Hujan menjadi masalah yang paling utama. Ketika hujan turun, kuda – kuda akan menjadi bebal dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Dan bakul tempat garam pun tidaklah cukup bagus. Bakul itu terbuat dari anyaman daun kelapa sehingga kurang aman dari air. Kalau sudah begini, Simamora biasanya harus menginap di rumah – rumah warga di kampung yang dilaluinya.

Suatu hari, Simamora bertemu dengan dua orang yang sama – sama berdagang garam. Seiring berjalan waktu, ia semakin kompak dengan keduanya dan sering pergi berjualan bersama. Simamora sendiri merasa beruntung mempunyai teman berdagang, selain dia punya teman untuk diajak bicara selama perjalanan, ia juga merasa terbantu untuk hal lain. Terkadang jika musim hujan tiba, sungai – sungai meluap. Untuk menyebrangi sungai, mereka harus menarik kuda beban karena kuda tidak mau menyebrangi sungai. Terkadang kuda ini sangat bebal sehingga harus ditarik oleh dua orang atau lebih.

Sepanjang perjalanan, Simamora mendapat pelanggan lebih banyak dari kedua rekannya, karena Simamora dianggap orangnya lebih jujur dan jualannya juga tidak terlalu mahal. Hal ini mengundang kecemburuan bagi kedua rekannya. Sering keduanya menggerutu karena tidak mendapat pelanggan. Terkadang mereka harus menunggu sampai dagangan simamora habis, baru mereka kebagian pelanggan.

Kekesalan ini semakin memuncak sampai suatu ketika mereka merencanakan untuk memberi Simamora pelajaran.

Pada suatu sore, Simamora bersama kedua rekannya terpaksa menginap di warung kopi di satu desa sebelum masuk pasar Doloksanggul karena hujan sedang turun. Warung itu kosong pada malam hari. Pemiliknya tinggal di kampung lain, agak jauh dari tempat itu. Setelah bakul garam diturunkan dari punggung kuda, mereka menambatkan kuda-kudanya di dekat rerumputan sekitar warung. Mereka bercengkrama sambil melinting tongkol jagung yang dijadikan rokok.

Kedua rekannya yang sudah lama mencari kesempatan untuk mencelakai Simamora merasa kalau inilah waktunya untuk memberinya pelajaran. Mereka berencana untuk mencuri kuda dan garam – garam Simamora selagi dia tidur. Dengan demikian, ia tidak bisa berjualan garam lagi. Berkuranglah saingan.

Malamnya, kedua rekannya itu menyarankan agar sebaiknya mereka bergantian jaga. Dua orang tidur sedangkan seorang lagi jaga. Demikian lah bergantian hingga pagi tiba.

“Apa perlu begini ? Toh, selama ini juga tidak pernah terjadi apa-apa” kata Simamora.

“Itu tidak menjamin kalau disini aman selamanya.” Jawab mereka.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyembunyikan garam masing-masing.” Usul Simamora.

“Dimanapun kau menyembunyikannya, garammu pasti bisa ditemukan di warung yang sekecil ini.”

“Tidak mungkin bisa ditemukan.” Jamin Simamora.

“Aku tidak yakin. Bagaimana kalau aku bisa menemukan garammu?” Tanya seorang.

“Garamku menjadi milik kalian.”

“Kalau tidak ?” Tanya seorang lagi.

“Garam kalian menjadi milikku.”

“Baik.” Ketiganya pun sepakat. “Sembunyikanlah garammu.” Kata mereka.

Lalu simamora pergi membawa garamnya. Tidak sampai dua menit ia sudah kembali. Kedua rekannya lalu menyalaminya tanda perjanjian sah.

“Bagaimana kalau kuda kita pertaruhkan juga?” Usul mereka berdua karena merasa yakin garam tersebut tidak jauh disembunyikan mengingat waktu yang diambil Simamora tidak lama.

“Boleh juga” tantang Simamora

“Baiklah” sambut mereka.

Malam itu Simamora tidur dengan lelapnya. Seperti tidak ada yang sedang dipikirkannya. Berbeda dengan kedua rekannya yang tidak sabar menunggu pagi tiba. Mereka yakin sekali garam itu disembunyikan di dapur. Mereka ingin sekali langsung mencari garam tersebut dan membawa kuda Simamora pergi. Tapi mereka harus berlaku adil sesuai perjanjian.

Pagi – pagi benar mereka sudah bangun. Ingin rasanya cepat – cepat menemukan garam tersebut. Akan tetapi untuk menunjukkan kalau mereka berlaku adil, mereka menunggu hingga Simamora bangun. Setelah simamora bangun, ketiganya melinting rokok. Lalu masing – masing menikmatinya tanpa ada yang berselera memulai bicara. Rokok semakin pendek dan setelah api rokok menyentuh jari, keduanya mengingatkan simamora tentang kesepakatan mereka.

“Silahkan cari.” Kata simamora singkat.

“Sebaiknya kita naikkan dulu beban kuda kita.” Kata seorang

“Bagus juga.” Balas yang seorang lagi. “Kuda yang ketiga tinggal dimuat lalu dituntun.”

“Aku khawatir kalian tidak kembali lagi karena malu.” Simamora tersenyum simpul.

Keduanya tidak menjawab. Mereka langsung bergegas. Mereka memulainya dengan menyisir dapur, sekitar rumah, hingga kebun. Dapur penuh dengan barang – barang yang ditumpuk begitu saja. Ternyata tidak ada. Di kebun, sekitar sumur hingga sekitar kampung juga tidak ada. Mereka kembali ke dapur membongkar barang-barang yang ditumpuk. Tetapi tetap tidak ketemu.

“Dua menit. Mungkinkah keluar kampung?” Tanya yang satu.

“Kalau berlari, bisa juga…” sahut yang satu sambil menggaruk – garuk kepalanya.

Lalu mereka memeriksa bambu bambu pembatas kampung. Tetapi tetap saja tidak ada. Semak belukar, tumpukan sampah juga tidak lepas dari penggeledahan mereka. Tanpa disadari mereka sudah cukup jauh keluar dari desa.

Setelah menunggu cukup lama, Simamora memeriksa. Tetapi rekannya belum kembali juga. Hanya ada tukang warung yang baru sampai dan sedang menjerangkan air dari sumur. Si Tukang warung merasa heran melihat banyaknya barang yang berantakan di dapur. Sebelum ia sempat menanyakan tentang barang – barang tersebut, Simamora telah pergi membawa kedua kuda dan garam – garam rekannya itu.

Walau kaget dengan kondisi dapur yang berantakan, si pemilik warung tidak langsung memeriksanya. Ia terlebih dahulu menjerangkan air karena pagi – pagi biasanya banyak pengunjung yang ingin minum kopi. Tukang warung memeriksa dapur yang diobrak – abrik entah oleh siapa. Dan entah untuk apa. Ia tidak melihat adanya barang – barang yang hilang. Untuk memastikan perasaannya, ia menghitung seluruh jumlah karung padi di lumbung, kemudian alat – alat pertanian, tidak ada yang hilang. Sambil mengira – ngira apa yang telah terjadi, ia merapikan barangnya.

Air telah mendidih dan dia segera melayani langganannya. Tanpa menceritakan kejadian di dapurnya. Tak lama kedua pedagang yang kalah taruhan telah kembali. Mereka mendapati kalau Simamora sudah pergi bersama kuda – kuda dan keempat bakul garam yang telah dimenangkannya.

Saat itu di warung sedang ada desas desus antara pengunjung. Keduanya yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tidak terlalu memperdulikannya.

“Kopi dua !” pesan mereka.

Tak lama berselang seseorang diantara pengunjung angkat bicara.

“Koq kopinya asin?” katanya

Kedua pedagang yang mendengar hal itu saling berpandangan. Seperti akan mengatakan sesuatu. Buru – buru keduanya mencicipi kopi mereka.

“Benar ! Kopinya asin !”

“Sungguh, disini tidak ada tempat garam.” Kata yang punya warung. “Gelas dan sendok sudah saya cuci. Mana mungkin bisa asin?”

“Jangan – jangan…” gumam seorang pedagang itu.

“Jangan – jangan simamora menyembunyikan garam di dalam sumur !”

Keduanya langsung melompat dari tempat duduknya dan memeriksa sumur di belakang warung. Galah dijulurkan ke dalam dan dua buah bakul berhasil diangkat dari dalam. Warga di sekitar mengenali bakul tersebut sebagai bakul garam yang biasa dibawa Simamora.

“Lihat !” Kata salah satu pedagang tersebut. “Ini bakul Simamora. Dia benar – benar bodoh, menyembunyikan garam di dalam sumur.”

“Kenapa ?” Tanya seorang dari kerumunan itu.

“Karena dia takut garamnya dicuri orang.” Jawab rekan pedagang itu.

“Bodoh benar (oto ma i)” piker orang – orang di warung itu.

“Memang bodoh” ucap kedua pedagang itu. Mereka melakukannya untuk menyembunyikan kemalangan mereka yang telah kalah taruhan.

Berita tentang garam masuk sumur ini langsung cepat menyebar. Kedua pedagang ini juga menceritakan tentang “simamora yang bodoh” (Simamora na oto) kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun tidak pernah menceritakan bahwa Simamora yang membodohi mereka.

Legenda Siboru Namotung (Sibottar Mudar)

 


Seperti yang kita ketahui bahwa Raja Simamora memiilki 3 anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Sedangkan Debataraja sendiri juga memiliki 3 orang anak, yaitu Sampe tua, Babiat Nainggol, dan Marbulang serta 1 orang putri (boru)  yaitu Siboru Namotung (Sibottar Mudar). Lihat tarombo Simamora

Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson)  mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu.

Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layang-layang dan bersabda "barang siapa yang menemukan layang-layang itu bila perempuan akan kujadikan menantu dan bila lelaki akan kujadikan anak". Setelah layang-layang diterbangkan maka sang rajapun menyuruh bawahannya untuk melacak siapa gerangan yang akan menemukannya. 
Sekian lama pencarian kemana arah terbangnya layang-layang tersebut dan siapa yang menemukannya, ternyata layang-layang itu secara tidak sengaja ditemukan oleh Siboru Namotung (br Simamora). Maka sesuai dengan janji dan sabda Raja Barus itu, iapun berencana untuk menikahkan anaknya dengan boru simamora tersebut dan berangkatlah raja tersebut ke Bakkara untuk menjumpai keluarga boru simamora itu untuk melamarnya dan menjadikannya menantu.
Setelah Raja Barus (Pasaribu) berjumpa dengan ketiga saudara Siboru Namotung, iapun menyampaikan niatnya itu, namun tidak seperti yang diharapkannya ternyata Siboru Simamora itu sudah menikah. 
Pada saat pembicaraan itu Si Marbulang tidak setuju atau merasa keberatan kalau saudarinya itu dinikahkan lagi karena ia tahu saudarinya (itonya) itu sudah menikah dengan Hamang, sedangkan Sampe tua merasa tiada guna bersaudara dengan makhluk yang tidak kelihatan yang tidak jelas wujud dan rimbanya sedangkan Babiat Nainggol masih merasa ragu akan pilihannya. Pada akhirnya Raja Barus memaksakan untuk melamarnya dan siboru namotungpun dibawa ke Barus untuk dinikahkan dengan anaknya.
Mendengar kabar itu Hamang marah dan pergi mengejar Raja Pasaribu itu untuk mengambil kembali istrinya. Merekapun bertemu pada saat hendak menyeberangi sungai dan di sungai itu mereka bertengkar memperebutkan siboru namotung ( boru simamora) itu. Mereka saling unjuk kemampuan dan laga ilmu, maka sang Hamangpun mengeluarkan kemampuannya dan berkata "kalau bisa kau angkat istriku itu dari air ini silahkan bawa tetapi kalau tidak bisa silahkan tinggalkan tempat ini!", Raja Barus mencoba untuk menariknya namun ternyata siboru simamora tidak bisa lagi digerakkan sama sekali, tanpa panjang pikir Raja Barus itu mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepala siboru namotung hingga putus konon katanya darah yang keluar dari leher siboru simamora itu berwarna putih itu sebabnya ia digelari Siboru Namotung atau Sibottar Mudar, dan ia pun membawa kepala tersebut kembali ke kampungnya di Barus. 

Melihat kejadian itu Hamangpun merasa kecewa dan sedih setelah melihat istrinya telah meninggal dibuat Raja Barus tersebut dan membiarkan sisa potongan tubuhnya terhanyut di sungai itu. Hamang dengan amarahnya menjumpai ketiga saudara boru simamora itu dan mengutuknya bahwa ketiga saudara itu akan susah punya keturunan sesuai dengan tingkatan kesalahan yang mereka perbuat kepada Hamang.

Setelah Raja Pasaribu sampai di kampungnya, ia pun menyuruh anak buahnya untuk mencari sisa potongan tubuh boru simamora itu ke sungai itu. dan ternyata mereka menemukannya masih terhanyut disungai dan membawakannya kembali ke raja tersebut. Potongan tubuh boru simamora itu yang sudah berhari-hari mati disatukannya kembali dan disemayamkan dalam sebuah ruangan khusus. Menurut ceritanya tubuh boru simamora itu dapat bersatu dan kembali hidup. itulah sebabnya ada sebahagian marga pasaribu (marga pasaribu yang dari Barus) memanggil Tulang kepada marga Simamora Debataraja.

Minggu, 30 Juni 2013

legenda Si Boru Natmandi

 
Urban Legend Si Boru Natmandi

Dahulu kala sewaktu penduduk yang mendiami Rura (Lembah) Silindung masih memeluk kepercayaan Sipelebegu [1], hiduplah seorang Raja yang kaya, besar dan bersahaja[2]. Mereka hidup dengan damai di sebuah huta [3] di tepi sungai Aek Situmandi [4] yang bersih dan jernih. Tempat tinggal raja itu berada di seberang Huta Siparini sekarang. Huta Siparini terletak di kaki Dolok (Gunung) Siatas Barita. Dolok Siatas Barita adalah tempat “Pamelean” [5] keturunan Guru Mangaloksa sewaktu belum masuk agama Kristen ke Rura Silindung.


Walaupun Dolok Martimbang lebih tinggi dari Dolok Siatas Barita, itu tidak masalah  bagi mereka karena  guru  Mangaloksa pertama sekali mendirikan huta di kaki Dolok Siatas Barita. Dari sanalah awalnya guru Mangaloksa bersama keturunannya  mendiami seluruh Rura Silindung. Oleh karena itu,  Dolok Siatas Barita merupakan tempat  “Dolok Parsaktian” [6] bagi keturunan Guru Mangaloksa sekaligus menjadi tempat Pamelean zaman dahulu.
Terkabarlah Raja ini karena kekayaannya, kebesaran dan kebersahajaannya. Semua tanaman-tanaman diladang maupun disawah berlimpah ruah, bahkan  tempat penyimpanan yakni “Sopo” [7] tidak bisa lagi menampungnya. Begitu juga dengan ternaknya ( kerbau dan babi ) berlimpah. Sang Raja tinggal di “Rumah Batak“ [8] Tetapi lebih terkenal lagi raja ini karena kecantikan putrinya yang bernama Si Boru Natumandi .
Banyak anak-anak raja yang ingin menjadikan  siboru Natumandi menjadi istrinya. Kabar mengenai kecantikan siboru Natumandi sudah tersebar ke “Desa Naualu” [9]. Keindahan tubuh yang semampai, keindahan  matanya yang teduh, senyum dan tertawanya yang membuat hati damai, kecantikan wajahnya yang mempesona, rambutnya bagaikan mayang terurai sampai ketumitnya, cara bicaranya yang lemah lembut dan sopan, perilakunya membanggakan orang tua dalam bermasyarakat, dan cara berpakaiannya juga sangat sopan. Tidak ada seorangpun yang melebihi karisma yang dimilikinya bahkan diantara kawan-kawan  putri-putri raja yang seumuran denganya di Desa Naualu. Tidak hanya itu, dia pandai mengambil hati kedua orang tuanya, sangat terampil manortor (Tari-tarian suku batak) serta penenun yang handal dan rajin.
Banyak raja-raja dari toba, samosir, humbang, pos-pos, dan angkola datang kepada raja itu untk meminang raja Siboru natumandi menjadi “Parumaennya” [10] (menantunya). Siboru natumandi sangat pandai mengambil hati orang tuanya, sehingga  dia putri kesayangan ayah ibunya. Karena itu, sewaktu raja-raja datang meminang Si Boru Natumandi jadi parumaennya, raja hanya menjawab yakni : molo mangoloi borukku, sipanolopi ma ianggo hami ( kalau putriku mau menerima, kami orang tuanya merestuinya).
Mendengar jawaban raja itu, maka semua raja-raja yang mau meminang Si Boru Natumandi menyuruh  anak-anaknya  menjumpai Si Boru Natumandi untuk  meminta agar dia mau jadi istrinya.
Sungguh lemah lembut jawaban Si Boru Natumandi pada anak-anak raja yang datang menjumpainya. Si Boru Natumandi sangat senang menyambut kedatangan anak-anak raja itu. Bahkan mereka disuguhkan dengan makanan yang lezat dan nikmat. Setelah selesai makan dia memberikan jawaban kepada raja tersebut.
Anak-anak raja yang datang tidak bisa tenang, mereka selalu penasaran, hati mereka selalu berdebar-debar, apakah saya diterima? kalimat tersebut yang selalu ada dalam pikiran mereka. Kalau tidak diterima kenapa harus repot-repot memasak,  menyuguhkan makanan yang nikmat dan lezat dengan pelayanan yang memuaskan pada saya. Itulah yang menghantui pikiran anak-anak raja setip kali datang meminang. Wajahnya selalu tersenyum tidak menunjukkan ketidak sukaan pada setiap anak-anak raja yang datang. Hal tersebut juga membuat hati setiap anak-anak raja yang datang menjadi gusar dan bertanya-tanya sampai-sampai lupa pada makanan yang disuguhkan itu.
Perasaan ayah dan ibu Si Boru Natumandi ikut juga tidak tenang menunggu jawaban yang diberikan putrinya pada anak-anak raja yang datang itu. Mereka sangat berharap agar putrinya mau menerima  salah satu lamaran dari anak raja yang datang itu.
Setelah selesai makan, S Boru Natumandi memberikan jawabannya kepada anak-anak raja yang datang itu dengan sopan dan lemah lembut dia mengatakan : ‘mauliate ma diharoromuna na tu ahu, alai mulak ma hamu ai ndang lomo do pe rohakku mar hamulian’. (terimakasih karena telah datang menjumpai saya, tapi pulanglah kalian, karena saya belum ingin menikah/berumah tangga).
Bagaikan ‘Porhas na manoro di siang ari’ (bagaikan petir yang menyambar di siang hari) perasaan hati anak-anak raja mendengar perkataan Si Boru Natumandi yang singkat itu. Perasaan mereka lemas tak berdaya, tak sanggup lagi menjejakkan kakinya ke atas tanah karena mendengar jawaban tersebut.
Seperti itulah jawaban yang di berikan Si Boru Natumandi kepada setiap anak-anak raja yang datang melamarnya. Sungguh lemah lembut perkataannya, pelayanannya sangat sopan dan baik. Tapi jawabannya yang singkat itu bagaikan disembelih dengan sembilu, sungguh menusuk jantung.
Biasanya setelah anak-anak raja yang datang menjumpai Si Boru Natumandi pulang, kedua orang tua Si Boru Natumandi langsung menanyakan apakah putrinya itu  sudah menerima salah satu lamaran dari anak-anak raja yang datang tersebut? Tapi jawaban yang diberikan Si Boru Natumandi selalu sama yakni : ‘dang lomo do pe rohakku mar  hamulian amang-inang’ (ayah-ibu saya masih belum mau menikah).
Seperti itu juga raja-raja yang menyuruh anak-anaknya datang menjumpai Si Boru Natumandi mereka selalu bertanya-tanya. Setiap anaknya pulang dari rumah Si Boru Natumandi mereka langsung menanyakan : ‘beha do amang, di jalo do hatami? Asa manigor borhat hami mangarangragi’ (“Bagaimana nak, apakaah lamaranmu diterima?” lamaranmu? Supaya kita langsung berangkat menjumpai orang tuanya). Tapi dari pancaran wajah si anak yang lesu tidak bersemangat, mereka sudah tahu bahwa anak mereka tidak di terima Si Boru Natumandi. Semua raja-raja yang menyuruh anaknya itu menjumpai Si Boru Natumandi bertanya-tanya : ‘na behado ulaning, na hurang mora do pe au, nahurang do hasangapon hu?’ (apa gerangan yang terjadi, apakah saya kurang kaya, apakah saya kurang bersahaja?) Padahal kekayaan dan kehormatan saya bahkan sangat melebihi orang tua si perempuan, kata hati setiap raja-raja yang mengirim anaknya menjumpai Si Boru Natumandi.
Siang berganti malam, hari berganti minggu,  bulan berganti  tahun tetapi , jawaban yang    diberikan     Si Boru   Natumandi   selalu   sama  kepada  setiap  anak-anak raja yang datang  melamarnya. Ayah dan  Ibunya  sedih sebab  terdengar  berita  bahwa raja-raja yang menyuruh anaknya  menjumpai   Si Boru Natumandi  merasa   dikecilkan  dan mereka sakit hati. Padahal anak-anak raja tersebut tidak memiliki kekurangan  bahkan bisa dikatakan  sudah sempurna,  wajah  mereka   tampan,  kaya dan jug berkedudukan. Tetapi kedua  orang  tua Si Boru Natumandi  bingung  dan bertanya – tanya  dalam  hatinya.   Apa sebenarnya yang dipikirkan Si Boru Natumandi?
Kadang-kadang hati kedua orang tua Si Boru Natumandi sedih memikirkan itu, tapi mereka tidak mau memaksakan kehendak,takut putrinya tersinggung, sedih atau menangis,mereka juga takut putrinya nanti sakit hati pada mereka. Karena Pada dasarnya marga Hutabarat sangat baik dan sayang  pada anak perempuannya, bahkan sampai sekarang pun bisa kita lihat dalam kehidupan sehari- hari dan boru hutabarat sangat baik marhula-hula.
Ada kebiasaan sehari-hari Si Boru Natumandi yakni : dia tidak suka martua aek[11] dan mandi bersama teman-teman sebayanya di sungai. Dia suka martua aek dan mandi di siang hari. Biasanya diwaktu  mandi dia marhatobung [12] di sungai. Setiap dia marhatobung, selalu terdengar sampai ke kampung, ladang dan sawah. Bahkan orang yang bekerja di sawah dan di ladang menghentikan  pekerjaanya hanya untuk mendengar hatobung Si Boru Natumanding. Entah kenapa, semua hasil pekerjaan Si Boru Natumandi lain daripada yang lain. Seperti hasil tenunannya sangat cantik dan indah lain dari tenunan putri-putri raja. Setiap orang memegang tenunannya, sepertinya ada satu kekuatan yang tidak nampak dan mampu menarik hati orang untik membelinya. Masakannya juga enak dan selalu nikmat, apa yang dikerjakannya selalu cocok  bagi orang yang melihatnya.
Banyak orang bertanya-tanya dalam hati mereka tentang kelebihan yang dimiliki Si Boru Natumandi terutama para tua-tua,dan kelebihan itu   tidak membawa keburukan sehingga membuat kaum muda dan orang tua tidak melanjutkan pertanyaan yang selama ini mereka tanyakan dalam hati mereka.
Disuatu hari, ibunya mendengar Si Boru  Natumandi sedang berbicara di tempat dia menenun. Ibunya mendekat dan ingin melihat siapa teman putrinya berbicara. Si Boru Natumandi sangat serius berbicara sambil mengerjakan tenunannya. Dari pembicaraan itu  terdengar suara  seorang pemuda yang menemani putrinya. Terkadang Si Boru Natumandi  tersenyum malu, dan kadang-kadang bukan dia yang menenun tenunannya. Ibunya terkejut melihat kejadian itu, sebab di sekeliling tempat putrinya bertenun tidak ada orang yang sedang berbicara dengannya.
Dihapusnya wajah dan dadanya,lalu si ibu tersadar setelah melihat kejadian  aneh yang menimpa putrinya. Dia bertanya dalam hatinya “apakah saya  sedang bermimpi?” “tapi saya tidak tidur”. Dia kembali melihat putrinya itu, tetapi tetap saja sama seperti yang pertama dilihatnya itu.
Setelah  beberapa hari kemudian dia memberitahukan kejadian  aneh yang menimpa putrinya   itu pada suaminya.  “Bibir saya bukan diretak panas……?” ( Apa yang saya katakan itu benar ) “Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!” Ujar sang ibu kepada suaminya. Tetapi  raja itu tidak menanggapi celotehan istrinya dan juga tidak menanggapi    kejadian aneh yang menimpa  putrinya itu  dengan serius.   Malah sang raja menjawab , “ah, atik tung na marnipi do ho boru ni raja nami, nabisuk marroha do borunta i, sodung disurahan pangalahona, tung heama i ?” ( “ah, mungkin dinda sedang bermimpi, putri kita kan orangnya sopan, dan dia tidak pernah berbuat hal- hal yang yang buruk) Akhirnya kedua orang tuanya tidak   mempertanyakan masalah itu lagi.
Mungkin  Si Boru Natumandi sudah jatuh cinta pada pemuda yang datang menjumpainya itu, sebab disuatu hari dia memberitahukan kepada kedua orang tuanya  bahwa dia sudah menemukan pemuda pujaan hatinya.  Orang tuanya sangat senang mendengarkan apa yang diberitahukan putrinya.
Biasanya, jika seorang putri sudah menemukan tambatan hatinya. sudah lumrah bagi orang tuanya untuk menanyakan perihal  pemuda yang menjadi tambatan hati putrinya. Bagaimana kelahirannya, bagaimana keadaan keluarganya, bagaimana kekayaannya, dan masih banyak lagi yang akan ditanyakan orang tua pada putrinya perihal pemuda yang menjadi tambatan hatinya. Supaya nantinya putrinya bahagia dan tidak terlantar, serta menantu itu nantinya bisa menjadi kawan yang dapat diandalkan di waktu terjadi hal-hal yang tidak diingainkan terlebih waktu berperang.
Si Boru Natumandi memberitahukan perihal idamannya kepada orang tuanya  yakni : “na pat ni gaja  tu pat ni hora, pahompu na raja jala anakni na mora do na manopot ibana” (cucu raja  serta anak orang kaya yang sedang melamar dia ).” Pemuda yang melamar saya  adalah pemuda yang baik, berhati bersih, bertanggung jawab dan dia anak raja, kata Siboru Natumandi  pada kedua orang tuanya dengan kegembiraan   yang terpancar  pada  pada raut wajahnya. Melihat kegembiraan putrinya itu, kedua orang tuanya tahu  bahwa Siboru Natumandi  sudah serius menerima lamaran   yang datang dari pemuda  itu. Kerinduan mereka sudah terpenuhi , sehingga mereka  ikut bergembira mendengar kabar  tersebut dan mereka berkata : ” ba molo songoni do inang patandahon majo  tu hami asa dohot hami mamereng nanaeng ga besirongkap ni tondi mi” (kalau memang seperti itu , pertemukanlah kami padanya, supaya kami dapat melihat pemuda yang menjadi  teman hidupmu nanti).
Disuatu hari Siboru Natumandi mempertemukan pemuda itu kepada orang tuanya. Sungguh tampan di, cara berpakaiannya menunjukkan dia keturunan seorang raja yang bersahaja, bentuk badannya seperti “ ulubalang “[13]. Tidak berselang  beberapa lama,pemuda itu tiba- tiba menghilang bersamaan  kedipan mata kedua orang tua  Si Boru Natumandi . Tiba- tiba mereka melihat seekor  ular keluar  dari rumah mereka. “Apa yang terjadi ?” Kata ayah Si Boru Natumandi  : “pasada ma roha dohot pikkiran mu amang , jala  sonang  ma roha  muna paborhatton ahu  marhamulian  tu silomo ni rohakku” ( satukan hati dan pikiranmu ayah, relakan hati kalian memberangkatkan saya memilih pemuda yang menjadi teman hidupku nanti). Kedua orang tuanya terdiam  tidak bisa berbicara apa-apa, karena Si Boru natumandi putri  yang sangat mereka sayangi dan kasihi.
Pada suatu hari , Si Boru Natumandi memberitahukan kepada orang tuanya  perihal keberangkatannya dan tentang apa saja  yang akan   mereka kerjakan setelah dia  berangkat dari rumah nanti.  Hal-hal yang akan mereka kerjakan dan yang perlu diperhatikan adalah :
  1. Mereka tidak perlu membuat pesta pemberangkatan,baru setelah 7 hari kemudian baru dibuat pesta yang besar sebab “ sinamot” [14] yang akan diberikan cukup besar. 
  2. Seperti  sinamot dari pihak laki- laki , mereka akan meninggalkannya di suatu tempat dengan jumlah 7 “ampang“ [15]. Sebelum 7 hari 7malam ampang itu tidak bisa dibuka oleh siapapun
  3. Setelah 7 hari 7 malam ampang itu baru bisa dibuka dan didalamnya akan terisi emas, itulah yang menjadi sinamot kami.
  4. Dalam  waktu 7 hari itu setelah kami berangkat, kami akan mengantar “pinahan“ [16] untuk dimakan, dan pada waktu pesta itu kami akan    mengantar kerbau sebagai “panjuhuti” [17]
  5. Tempat tinggal kami nantinya sangat jauh, kalian ikuti aja “sobuan” [18] yang saya jatuhkan mulai dari depan rumah kita. Dimana sobuan itu nantinya berakhir,sampai disitulah kalian mengikuti saya.sebab jalan yang saya lalui harus melalui sebuah gua yang ujungnya sampai ke daerah Toba dan bercabang ke daerah Penabungan.
Kedua orang tua si Boru Natumandi hanya diam mendengar semua yang dikatakan putrinya itu.  Mereka hanya pasrah dan menyerahkan semuanya kepada “Mulajadi Nabolon” [19]
Setelah tiba waktu keberangkatan Si Boru Natumandi,lalu dia memasak makanan yang lezat mulai dari pagi hari sampai sore hari. Setelah semuanya siap mereka berdua makan bersama ,kedua orang tua si Boru Natumandi melihat putrinya sedang makan bersama pemuda yang pernah mereka lihat waktu itu.
Sesudah mereka selesai makan, kemudian orang tuanya melihat mereka lagi tetapi si Boru Natumandi dan pemuda itu tidak ada lagi di tempat mereka makan. Lenyap seperti ditelan bumi,orang tuanya melihat makanan yang tersaji itu tidak berkurang sedikitpun dan sudah dingin seperti sudah lama ditinggalkan.
Pagi-pagi buta, ibu Si Boru Natumandi bangun bersama ibu-ibu lain melihat sobuan tersebut dan mengikutinya seperti yang di pesankan Si Boru Natumandi pada ibunya. Mereka mengikuti sobuan itu hingga sampai di depan mulut sebuah gua yang berada di tepi  Aek Situmandi dekat aek rangat [20]. Mereka memberanikan diri memasuki gua tersebut,tetapi karena terlalu gelap mereka memutuskan  untuk tidak meneruskannya terlalu dalam lagi. Mereka pulang dan memberitahukan kejadian tersebut. Kabar itu langsung tersebar  di seluruh Lembah Silindung.
Setelah matahari tebit dari atas Dolok Siatas barita, sampailah ke huta itu beberapa ekor “aili” [21] yang besar-besar dan gemuk.Sepertinya ada yang menyuruh mereka turun dari hutan menuju Dolok Siatas Barita. Semua aili itu jinak dan tidak meronta  sewaktu ditangkap dan disembelih oleh orang-orang kampung  untuk digunakan pada acara pesta. Seperti itulah terus menerus aili turun dari hutan  di atas Dolok Siatas Barita selama 7 hari, sampai-sampai semua orang yang datang ke acara pesta itu  membawa sebagian dagingnya ke kampung  masing-masing.
Mungkin sudah kemauan Tuhan Yang Maha Esa, sebab sebelum digenapi 7 hari 7 malam beberapa  orang dari keluarga dekat si Boru  Natumandi secara diam-diam  mengintip isi ampang itu. Padahal Siboru Natumandi sudah memberitahukan  bahwa ampang itu tidak bisa di buka oleh siapapun sebelum tergenapi hari yang dijanjikannya. Mereka melihat isi ampang itu hanya sobuan yang sudah mulai menggumpal seperti emas di dalamnya.
Setelah kejadian itu,ayah dan ibu Si Boru Natumandi bermimpi. Mereka didatangi putrinya dan memberitahukan bahwa sudah ada yang melihat ampang  yang telah dipesannya itu. Ampang dan isinya sudah hambar sebab pesannya sudah dilanggar.
Melihat semua kejadian yang menimpa keluarga dan putrinya,maka raja tersebut mengumpulkan semua raja-raja,tua-tua kampung dan semua penduduk hutabarat  berkumpul “martonggo” [22] ke Mulajadi Na Bolon “Tung naso jadi ma Boru Hutabarat nauli molo marhasohotan tu “Ulok” [23] (Tidak akan pernah ada lagi  boru Hutabarat yang cantik rupawan kalau jadinya kawin sama ular).
Disini kami menegaskan bahwa asumsi masyarakat selama ini tentang si Boru Natumandi (semua boru Hutabarat saat ini) yang sombong adalah salah, dimana menurut cerita selama ini bahwa secantik apapun boru Hutabarat pasti ada cacatnya. Banyak marga Hutabarat membeberkan hal tersebut, tetapi perlu digaris bawahi itu terjadi bukan karena kesombongan namun karena sumpah leluhurnya tersebut.
Namun semua itu dikembalikan kepada penilaian kita masing-masing, kalau kita tinjau dari segi agama mungkin sangat bertolak belakang. Agama pada dasarnya membenarkan  suatu kejadian yang benar-benar terjadi bukan rekaan. Kita bisa membacanya dari kitab yang kita yakini sesuai dengan agama yang kita anut. Tetapi walaupun demikian kita tidak bisa menyalahkan budaya batak terutama pada zaman dahulu. Zaman dahulu masyarakat Silindung masih mempercayai legenda atau cerita rakyat yang bersifat anonim bukan hanya cerita  “Si Boru Natumandi”, masih ada legenda lainnya yang dipercayai orang batak seperti ”Terjadinya Danau Toba di Samosir”. Sedangkan zaman sekarang yang diperlukan adalah perkembangan sumber daya  manusia (pendidikan/keterampilan) berdasarkan moral religius dan etika. Oleh karena itu, dari segi agama maupun budaya kita bisa memilah mana yang bisa kita terima secara logika.

[1] Sipelebegu, orang kafir, pemuja nenek moyang, penyembah arwah
[2] Sumber mengatakan Raja itu bernama Raja Ama Natidar. Raja Ama Natidar mempunyai 2 orang putra yaitu : Raja Natidar dan Tuan Jabut serta seorang putri yang cantik rupawan yang bernama Si Boru Natumandi
[3] Huta, desa, kota; marhuta, berkediaman di kampung; marhuta sada, berjalan-jalan, tidak tinggal di kampung, keluar kota, bepergian; huta sabungan, ibu kota, kampung induk; parhutaan, pemukiman, perkampungan; pardihuta, bini, isteri, yang bertugas di desa, (lawan parbalian); tarhuta, diketahui orang didesa bahwa orang berutang banyak; marhutahuta, mainan anak-anak bangun kampung-kampungan; raja hutam sesepuh kampung; Huta Raja, Huta Talun, Huta Pea, nama desa, nama kampung. Sumber mengatakan kampung itu bernama Banjar Nahor. Tahun 1985 kampung itu berganti nama menjadi Banjar Nauli. Hanya ada 2 kampung pada masa itu yakni Hutabagasan dan Banjar Nahor
[4] Aek Situmandi. Nama sebuah sungai di daerah Hutabarat Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Bentuk sungai sudah besar dan jalurnya sudah berubah.
[5] Pele kata dasar, mamele, umpele, menyajikan, mempersembahkan sajian, kurban kepada dewata atau roh; mamelehon, mempersembahkan sebagai kurban; pelean, persembahan, kurban sajian; mamele begu, memberi persembahan kepada nenek moyang, kepada roh-roh, menyembah roh; sipelebegu, orang kafir, pemuja nenek moyang, penyembah arwah. Dahulu Dolok Siatas Barita adalah tempat Penyembahan keturunan Guru Mangaloksa.
[6] Dolok Parsaktian. Dolok, gunung, pegunungan; dolokdolok, bukit, perbukitan; pardolok, penduduk gunung, juga: terletak di gunung; pardolohan, pegunungan.Di daerah Toba ada juga Dolok yang sama seperti Dolok Siatas Barita yang dijadikan masyarakat Balige dan sekitarnya menjadi tempat pamelean mereka yaitu Dolok Tolong
[7] Sopo, lumbung padi, di bawah atap disimpan padi, di ruang terbuka tempat menerima tamu serta tempat mengadakan pertemuan, di atas juga tidur para pemuda
[8] Ruma, rumah adat, terutama rumah Batak yang diukir; pardiruma, isteriku, nyonya rumah; di ruma, di nifas; ruma sahit, rumah sakit; dipaturuma, memanggil begu ke dalam rumah; ruma bolon, penjaga modal bersama, yang bertanggung jawab untuk itu.
[9] Desa, penjuru, mata angin; desa na ualu, delapan penjuru angin
[10] Parumaen, menantu perempuan; parumaen di losung, = parumaen sinonduk, calon menantu perempuan, yang sudah diterima dalam rumah sebagai pembantu dan sudah diberikan mas kawin, mengenai dia dikatakan: hira hatoban siulaon, alai hira raja nasida anggo di sipanganon, ia harus kerja seperti seorang hamba, tetapi ia peroleh makanan seperti seorang raja
[11] Martuaek, mengambil air
[12] Marhatobung. Yakni air sungai di permainkan dengan cara ditampar ,dipukul, dipotong dan disodok dengan tangannya  hingga menimbulkan suara atau musik yang sangat enak didengar.
[13] Ulubalang. Kata dasar Ulu, kepala; ulu ni timbaho, ujung lempeng tembakau yang paling enak rasanya; ulu ni rihit, gosong, busung pasir; P.B.: madungdung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, molo mardomu angka na bolon, adong do ulu buaton, bambu besar menyentuh bambu kecil, manakala orang-orang besar bertemu pasti akan ada korban; manguluhon, memimpin perkara; pangulu, penengah antara dua pihak; pangulului, telah melihat setengah jalan (matahari); na pangului, jam 09.00 pagi; ulubalang, hulubalang, pendekar; ulubalang ari = hasiangan on;pangulubalang, patung kecil yang dipuja yang dimasukkan sedikit pupuk; hauluan = haulian = ulu, hauluan, tanda “i” dalam tulisan Batak: juga haulian; paulubalanghon, disewa sebagai hulubalang
[14] Sinamot.. Mas Kawin
[15] Ampang, bakul yang dianyam di bawah, berbentuk empat segi dan di atas bundar, juga dipakai sebagai takaran beras atau padi; parampangan, bakul besar dimana di dalamnya disimpan bakul-bakul kecil; na marampang na marjual, = na marpatik na maruhum, seseorang yang memakai takaran dengan baik dan jujur, menimbang secara adil dan punya undang-undang dan hukum keadilan; mangihut di ampang, berlangsungnya per-kawinan seorang gadis hanya dengan membawa bakul makanan buat pihak mertuanya, karena mahar (mas kawin) sudah beres sebelumya; marmanuk di ampang, meramalkan masa depan berdasarkan letak badan ayam yang lehernya dipotong segera ditutup dengan “ampang” (tentang dukun); parampang ni luat, bagian dari pekan yang dikhususkan bagi sesuatu daerah untuk menyimpan barang mereka; P.B.: sadampang gogo, sanjomput tua, tenaga satu ampang banyaknya, keuntungan hanya sejemput, kerja mati-matian, hasil minim; manghunti ampang, mempe- lai baru, yang pertama kali membawa makanan kepada mertuanya; suhi ni ampang na opat, sudut bakul nan empat, sebagai lambang empat fungsional penerima mas kawin pada adat menikahkan puteri empat; kerabat yang paling utama, dalam hal ini diingat kepada ampang yang ditutupkan datu pada ayam sembilahan itu, bila ayam itu menggelepar sampai keranjang jatuh, artinya celaka. Oleh karena itu keempat sudut keranjang harus diperberat.
[16] Pinahan. Ternak atau hewan yang di peliharaan (babi) yang di sembelih waktu perkawinan
[17] Juhut, daging; juhut bontar, orang utan, mawas; juhuton, muak, kebanyakan makan daging; juhutjuhuton, mengelupas pada kulit kuku; manjuhuti, menyediakan lauk daging; panjahuti, daging yang dibawa ayah mempelai laki-laki pada marunjuk
[18] Sobu, hidupkan api, lepas, sibuk, rajin pada sesuatu; manobu api, menutup api dengan abu, agar jangan padam betul; sobuon, tumpukan kulit padi, sekam, kulit tipis pada padi yang sewaktu menumbuknya menjadi lepas (ditebarkan pada api agar tidak mati); tano sobusobu, tanah yang lembek (seperti sobuon)..
[19] Mulajadi Na Bolon, dewa tertinggi yang menjadikan dunia dan nasib manusia berada dalam tangannya. Mula, mula, awal, asal; mulamula, mula-mula; di mula ni mulana, pada awal sekali; di mulana, mula-mula; parmulaan, permulaan; marmula, memulai; marmulahon, sesuatu sebagai asal mula-mula
[20] Rangat, aek rangat, air belerang, air hangat bersumber dari alam
[21] Aili, celeng, babi hutan
[22] Tonggo, martonggo, berdoa dalam agama animisme, berdoa kepada dewa; martonggo raja, mengundang raja-raja untuk turut berpesta; tonggotonggo, doa-doa bersifat agama.
[23] Ulok, ular; ulok na bisa, ular berbisa

Sumber :
St. M. Hutabarat, L. Hutabarat

TANAH AIR BATAK TERSEBAR DI BEBERAPA PROVINSI

TANAH BATAK TERSEBAR DI BEBERAPA PROVINSI


Wilayah sejati Rumpun Etnis Batak sesungguhnya lebih luas dari sebagian wilayah Tanah Batak yang saat ini termasuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara (SUMUT).
Beberapa daerah dan Sub rumpun Etnis Batak yang wilayahnya terletak di luar Provinsi Sumatera Utara saat ini adalah :

1. Gayo, Kluet, dan Alas 

Berdasarkan penelitian ahli anthropolgi, ahli bahasa, dan pakar budaya pada jaman Penjajahan Belanda yaitu Prof. Van Vollenhoven menemukan banyak kesamaan adat istiadat asli (sebelum dipengaruhi agama yg masuk belakangan), kesamaan budaya, kesamaan asal etnis, dan kesamaan dasar rumpun bahasa antara Batak Karo dengan Suku Batak Gayo dan Suku Batak Alas. Ketiga Suku ini dimasukkan Belanda ke dalam wilayah Aceh sejak penaklukan Aceh. Ketiganya dimasukkan Belanda sebagai bagian dari wilayah Keresidenan Aceh yang berpusat di Kutaradja (Banda Aceh, sekarang). Dalam hal ini Belanda mengesampingkan kenyataan perbedaan etnis, bahasa, adat istiadat, budaya dan sejarah yang ada diantara Suku Aceh dengan Suku Batak Gayo, Batak Kluet, dan Suku Batak Alas.
Van Vollenhoven mengklasifikasikan Rumpun Adat ini sebagai Rumpun tersendiri yang sejajar dengan Rumpun Budaya Batak yaitu Rumpun Gayo Alas Karo.
Dikatakannya kedua rumpun ini (Rumpun Batak dan Rumpun Gayo Alas Karo) memiliki kekerabatan dan sejarah awal yang berhubungan. Sehingga Rumpun Induk Suku Batak terdiri dari 2 Sub Rumpun Induk yaitu : Sub Rumpun Budaya Batak dan Sub Rumpun Budaya Gayo Alas Karo.
Masing2 sub Rumpun terdiri lagi atas beberapa Sub Suku yang sering dikenal dengan istilah Puak. Sub Rumpun Batak Gayo Alas Karo terdiri dari Puak-puak : Karo, Gayo, dan Alas, termasuk di dalamnya Suku Kluet yang juga dikategorikannya sebagai bagian dari Puak Batak ini.
Sedangkan Sub Rumpun Batak terdiri dari Toba, Angkola, Mandailing, Simalungun dan juga Pakpak serta Singkil.
Pakpak dan Singkil menurutnya sebetulnya lebih tepat dikategorikan menjadi budaya peralihan yang terletak di pertengahan antara kedua klasifikasi Sub Rumpun Batak ini.
Secara mendatail ditemukannya banyak data yang menunjukkan lebih banyak persamaan antara ketiganya (Gayo, Alas, dan Karo). Penelitian seorang ahli Belanda lainnya yaitu Ypes yang khusus mempelajari budaya Batak Karo menemukan banyak data hubungan Puak ini dengan Gayo dan Alas, serta juga dengan Pakpak dan Singkil. Jauh lebih sedikit persamaan yang bisa ditemukan bila dibandingkan dengan rumpun Batak lain (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing).
Puak Karo memiliki cukup banyak persamaan dengan Pakpak dan Singkil dari segi Bahasa Daerah yang memiliki persamaan akar dialek, sementara secara adat dan budaya, Batak Pakpak dan Batak Singkil lebih dekat kepada Rumpun Batak Toba. Mungkin karena wilayah ini dalam sejarahnya menjadi daerah kekuasaan dan sekutu Toba di bawah Dinasti Sisingamangaradja dalam waktu yang sangat panjang.
Dalam sejarah banyak ditemukan kisah perantauan dari Karo dan Pakpak yang kemudian menetap di Tanah Gayo dan Tanah Alas dan sebaliknya. Banyak garis keturunan diantara ketiganya yang masih bisa ditelusuri hingga saat ini. Bahkan dalam sejarah juga dicatat kekuasaan kerajaan Alas dan Kerajaan Gayo sering menyerang dan menduduki wilayah Karo Atas (Karo Gunung di Tana Karo) hingga mencapai wilayah Simalungun. Orang Batak Gayo dan Batak Alas bahkan tercatat dalam sejarah mendirikan Dinasti beberapa kerajaan kecil di Simalungun dan Karo Gunung. 


2. Singkil 



Selain Gayo dan Alas, sesungguhnya wilayah Suku Batak juga mencakup Daerah Singkil yang saat ini juga termasuk wilayah Aceh. Budaya, adat istiadat asli dan bahasa daerah Singkil berkerabat dekat dengan Puak Batak Pakpak di Dairi. Begitu pula dengan marga-marga asli Singkil merupakan varian dari marga Pakpak. Disamping etnis Batak Singkil asli juga banyak bermukim keturunan Toba yang telah berabad-abad tinggal di sana dan menjadi orang Singkil sepenuhnya dalam budaya dan bahasa daerah Singkil. Kendati menjadi orang Singkil mereka masih tetap menggunakan marga yang 100% asli Toba, seperti Sinambela, Marpaung, Pardosi, Hutabarat, Hutajulu, Silalahi, Sihite, Situmorang, Pardede, Bakkara, Pasaribu, Sinaga, Simangunsong, Sidabutar, Tanjung, Pane, dll.
Daerah Batak Singkil dilepaskan Belanda dari lingkungan budaya Batak secara global dimasukkan ke dalam wilayah Aceh di masa penghujung kekuasaan Sisingamangaradja. Pada saat itu Sisingamangaradja XII sedang bertahan di Dairi dengan segenap kekuatan terakhirnya. Kekuatan beliau terdiri dari Pasukan inti dari Batak Toba yang masih setia padanya dengan tambahan pasukan dari Batak Pakpak, dan juga sekutunya Batak Singkil yg umumnya Muslim. Disamping itu juga ada bantuan dari Batak Gayo yang dikirim oleh Kesultanan Aceh karena mereka mengabdi kepada Kesultanan Aceh.
Pertahanan Sang Raja Sisingamagaradja XII di Tanah Dairi Pakpak sangat kuat sehingga sulit ditembus oleh pasukan Belanda yang menyerang dari arah Selatan (Tanah Toba ex wilayah kekuasaan Sisingamangaradja dan Sibolga Barus es kekuasaan Kesultanan Batak Barus) dan Timur (Tanah Simalungun ex wilyah kekuasaan Raja-raja Simalungun dan Tanah Karo ex kekuasaan Raja-raja Karo). Belanda kemudian meminta bantuan kepada Gubernur Militer dan Residen Aceh untuk mengirimkan pasukan Belanda dari Aceh untuk menjepit kekuatan Sisingamangaradja XII dari arah Utara. Ini dilakukan sebagai upaya untuk memutuskan akses wilayah Dairi ke daerah pesisir pantai oleh Pasukan Belanda yang di datangkan dari Aceh tersebut.
Pasukan bantuan dari daerah Aceh ini menyerang dari Utara (dari arah Tanah Gayo dan Tanah Alas) menduduki Tanah Singkil, menghancurkan Kerajaan Batak Singkil yang masih berkerabat darah dengan Dinasti Sisingamangaradja. Dengan ditaklukkannya Singkil, berarti terputuslah jalur bantuan kekuatan dari Barat yang memiliki akses ke laut.
Selanjutnya dibuat kesepakatan oleh kedua Residen untuk memberikan wilayah Singkil kepada pasukan dari Aceh dan dimasukkan ke dalam wilayah Keresidenan Atjeh.
Pendudukan Singkil ini sangat membantu Pasukan Belanda yang menyerang dari Selatan (Sumut) untuk mengobrak-abrik pertahanan sang Raja yang praktis hanya bertahan di sekitar Tanah Dairi. Selanjutnya seperti yang sudah diketahui di penghujung perjuangan, Sang Raja akhirnya tewas tertembus peluru musuh.
Sejak itu secara resmi terpisahlah Batak Singkil dari saudara serumpunnya di Tanah Dairi Pakpak oleh Belanda sebagai bagian politik devide et impera. Pemisahan ini terus berlangsung hingga saat ini dengan ditetapkannya menjadi bagian integral dari Prov. D.I. Nanggroe Aceh Darusssalam (NAD) sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Begitulah ketiga wilayah bersuku Batak ini oleh Belanda dianeksasi dan dimasukkan ke dalam wilayah Aceh secara sepihak. Ketiga daerah ini tidak pernah sudi dikategorikan sebagai orang Aceh. karena memang hampir tidak ada persamaan antara orang Aceh dengan mereka , kecuali hanya sama-sama beragama Islam.
Saat ini Wilayah Gayo dan Wilayah Alas sedang berjuang masing-masing secara konstitusional untuk melepaskan diri dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sementara wilayah Singkil belum terdengar resonansi perjuangannya sampai meletup menjadi upaya serupa yang sistematis.

3. Rao 
 
 
 Daerah Rao dalam sejarahnya dihuni oleh Etnis Batak yang berkerabat dekat dengan Puak Batak Mandailing. Dengan kata lain bisa disebutkan bahwa orang Rao adalah Etnis Batak dari Puak Mandailing yang wilayahnya termasuk Provinsi Sumatera Barat. Oleh Belanda daerah ini dimasukkan ke dalam wilayah Keresidenan Sumatera’s Westkust (Sumatera Barat) pada saat penaklukan wilayah ini dari tangan Kaum Paderi thn 1837M. Pada saat itu Tanah Rao yang dominant bersuku Batak adalah merupakan salah satu pusat kekuatan kaum Paderi. Sehingga sejarah mencatat bahwa sebagian diantara tokoh kaum Paderi sejatinya adalah dari etnis Minangkabau bermarga Batak.
Sejak itu wilayah ini praktis menjadi bagian yang tek terpisahkan dari Sumatera Barat hingga masa kemerdekaan saat ini. Dan seperti daerah lainnya yang terpisah dari wilayah induknya, perasaan kebatakan mereka pun cenderung melemah sehingga dengan tanpa rasa bersalah mereka menyatakan diri sebagai orang Minangkabau kendati sebagian diantaranya masih menggunakan marga Batak. Sedangkan sebagian besar diantaranya menggunakan nama Suku (Marga di Minangkabau disebut Suku) : Mandailiang. Tentu saja nama ini agak sukar dibantah bila dikatakan memiliki asal dari kata Mandailing dengan aksen dialek Minangkabau.

4. Beberapa wilayah kecamatan di Rokan Hulu Riau
 

Beberapa wilayah di sekitar perbatasan Rokan Hulu di Provinsi Riau dengan wilayah Padang Lawas di Sumatera Utara sejatinya adalah bersuku Batak yang masih berkerabat dengan Puak Mandailing. Wilayah mereka juga dimasukkan ke dalam wilayah Administrasi Keresidenan Riouw pada jaman penjajahan Belanda setelah penaklukan kaum Paderi gelombang terkhir yang dipimpin oleh tokohnya Tuanku Tambusei. Sesungguhnya Tuanku Tambusei adalah putera asli daerah Rokan Hulu yang bermarga Harahap.
Sejak itu wilayah ini termasuk dalam lingkungan Budaya Melayu Riau yang kental hingga akhirnya para penutur bahasa dan adapt istiadat Batak terabsorbsi sepenuhnya menjadi orang Melayu dengan meninggalkan marganya. Akan tetapi sampai saat ini masih banyak diantaranya yang masih memiliki cerita sejarah leluhur meraka yang berasal dari Etnis Batak. Keresidenan Riouw pada jaman Kemerdekaan RI setelah melewati sejarah yang cukup panjang akhirnya sekarang telah menjadi Provinsi Riau.

5. Beberapa wilayah Batak lainnya 1861-1907 M.
Belanda tidak sabar untuk menguasai lahan-lahan pertanian Tanah Batak yang masih dimiliki Sisingamagaraja XI. Untuk menyerangnya secara frontal Belanda pada masa itu belum mampu karena di pihak lain dan di dalam negeri mereka banyak menghabiskan tenaga untuk menumpas berbagai pemberontakan. Sementara itu pada saat yang sama, kerajaan-kerajaan pribumi tidak menyadari keunggulan mereka.
Belanda kemudian menerapkan Politik Devide et Impera dari Pantai Timur dengan kebijakan Zelbestuur, artinya swapraja. 


Tanah Batak Raya dipecah menjadi:

1. Keresidenan Tapanuli. Direct Bestuur Gebied, sebuah daerah Pamong Praja, yang meliputi daerah Tapanuli Selatan (Mandailing, Padang Lawas, Angkola, Sibolga, Pesisir Barus), Tapanuli Utara (Humbang, Silindung, Holbung, Tarutung, Pahae, Toba, Samosir, Muara, dll) dan Tanah Dairi, ditambah kepulauan Nias yang sama sekali bukan beretenis Batak.
 

2. Sumatera Timur, Zelbestuurs Gebied, Swapraja. Yang meliputi Pesisir Sumatera Timur Mulai dari wilayah Kesultanan Melayu Langkat, Kesultanan Melayu Deli, sampai dengan perbatasan Riau di Selatan, ditambah Wilayah Batak Simalungun dan Wilayah Batak Karo.
 

3. Daerah Batak Singkil, Gayo, dan Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam wilayah Keresidenan Aceh.
 

Daerah Batak yang menjadi Swapraja yang bercampur dengan puak Melayu dipecah sebagai berikut:
  1. Kesultanan Langkat, di atas kerajaan Karo, Aru/Wampu di Tanah Karo Dusun.
  2. Kesultanan Deli, bekas Kesultanan Haru/Delitua.
  3. Kesultanan Serdang, di bekas Kerajaan Dolok Silo, Simalungun sampai ke Lubuk Pakam.
  4. Distrik Bedagai, dilepas dari Kerajaan Kahean, Simalungun. Di bawah pimpinan otoritas bergelar Tengku.
  5. Kesultanan Asahan yang didirikan oleh Tuanku Mansur Marpaung ex panglima Paderi diberi pengakuan secara hukum.
  6. Kerajaan Kota Pinang, dengan mayoritas penduduk Batak Muslim didirikan dengan kepemimpinan Alamsyah Dasopang dengan gelar Tuanku Kota Pinang.
  7. Kerajaan-kerajaan kecil dan tak mempunyai kekuatan diciptakan, misalnya kerajaan Merbau, Panai, Bila, dan lain sebagainya dengan tujuan untuk memecah-mecah kekuatan masyarakat Batak dalam kotak-kotak agama, wilayah, dan kepentingan ekonomi. Kerajaan Merbau didirikan oleh salah seorang ex Panglima Tentara Paderi pimpinan Tuanku Mansur Marpaung yang bernama Zulkarnain Aritonang.
  8. Kerajaan Dolok Silo dan Kahaen dipecah tiga kerajaan kecil-kecil.
  9. Di Tanah Karo daerah pegunungan diciptakan Kerajaan Sibayak.
Pihak Gayo, Kluet, dan Alas yang dimasukkan ke Aceh, dan orang-orang Batak Karo, serta Simalungun tidak dapat lagi membela perjuangan Dinasti Sisingamangaraja karena mereka menganggap dirinya masing-masing sudah berbeda kewarganegaraan. Pihak Belanda menguasai setiap check point, untuk mengisolir rakyat setiap kerajaan dan membatasi pelintas batas. Kekuatan ekonomi masyarakat Batak saat itu, praktis, sepenuhnya dikuasai Belanda.
Sementara itu wilayah Tapanuli Selatan bersuku Batak Mandailing dan suku Batak Angkola dan ex Kesultanan Batak Melayu Barus Hulu dan Pesisir Barus Hilir di Tapanuli Tengah juga sudah ditaklukan lebih dahulu oleh Belanda.
Kekuatan Tanah Batak mencapai titik paling lemah dalam sejarah perjuangannya pada masa Sisingamangaradja XII. Hingga akhirnya penguasaan Tanah Batak Toba secara keseluruhan oleh Belanda menyebabkan tersingkirnya Sisingamangardja XII dari ibukota kerajaannya di Bakkara dan menyingkir ke wilayah Pakpak di tanah Dairi yang masih setia kepadanya.
Selanjutnya wilayah Singkil pun dianeksasi oleh Belanda ke dalam wilayah Aceh sehingga praktis sang Baginda hanya tinggal menyisakan wilayah Pakpak Dairi sebagai pertahanan terakhir menjelang ajalnya dalam pertempuran akhir yang menentukan.

Tanah Batak dan Etnis Batak sukar untuk Dipersatukan Kembali
Itulah sekelumit wilayah Bersuku Batak yang saat ini terpisah dalam beberapa Provinsi yang sepertinya mustahil bisa dipersatukan kembali. Kondisinya utama yg dihadapi Etnis Batak sejak dahulu kala adalah adanya resistensi masing-masing Puak Batak yang teguh menentang persatuan diantara mereka.
Juga karena dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak mudah mengakomodasi pemisahan ataupun penyatuan wilayah berdasarkan konsep etnis apalagi agama .... bisa dicap SARA.....