Selasa, 30 Juli 2013
LEGENDA TUNGGAL PANALUAN
" LEGENDA PUTRI ULAR "
Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok
negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang
memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan
ayah sang Putri.Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu
berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para
penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.
Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.
Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.
Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.
Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.
Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.
Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.
Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.
Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.
Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.
Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.
Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.
Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
PESAN MORAL : Setiap kata dan perbuatan adalah cerminan dan doa kita, maka bijaksanalah dalam berucap dan bertindak.
Si Boru Sangkar Sodalahi, sebuah Legenda Srikandi Batak
Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta. Karena hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya.
Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayankanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah. Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.
Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya. Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.
Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.
Sampai di huta (desa) itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”
Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk. Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap.
”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.
Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan, yang salah seorang keturunannya kelak dikenal sebagai sastrawan besar dunia dari Tanah Batak, Sitor Situmorang.
Dikutip dari Martin Aleida (Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan), dari milis ALIMSU
LEGENDA NAMBORU BORU SARODING
Legenda Namboru Boru Saroding dituturkan dalam bahasa Batak, agar penyampaian informasi yang bertujuan mudah dibaca dan diketahui oleh Pecinta Seni Budaya Sejarah Tanah Air, terkhusus Anak Cucu Keturunan Toga Pandiangan.
Saya melakukan edit terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia tanpa mengurangi atau mengubah fakta dan tujuan dari Legenda Namboru Boru Saroding. Untuk itu, terlebih dahulu saya memohon Maaf yang sebesar-besarnya, kepada Namboru Boru Saroding, Amangboru, dan kepada keluarga besar saya, TOGA PANDIANGAN, jika terdapat kesalahan disana-sini dalam penulisan cerita ini. Saya dengan segenap hati saya, slalu menerima kritikan dan saran yang membangun demi meluruskan kisah Namboru kita ini.
Suatu hari menjelang siang, Namboru Boru Saroding pergi ke Danau Toba untuk mandi sekaligus mencuci pakaian, tepatnya di tepi danau tempat tinggal orang tuanya yang terletak di antara Palipi-Mogang (Kecamatan Palipi Kab.Samosir) yang bersebelahan dengan Rassang Bosi dan Dolok Martahan. Boru Saroding terkenal dengan kecantikannya, konon pada jaman itu Boru Saroding diklaim sebagai Putri tercantik dari seluruh Putri/Boru Pandiangan. Karena kecantikannya, banyak Pemuda yang datang dari kampung lain bahkan dari seberang Danau Toba untuk merayunya (Manandangi) akan tetapi tak satupun yang mampu menaklukkan hatinya baik yang kaya ataupun yang tampan. Pemuda yang datang, pulang tanpa hasil. Namun pemuda-pemuda tersebut juga tidak merasa sakit hati karena Boru Saroding menyambut mereka dengan sopan dan ramah.
Boru Saroding yang dikenal pendiam, sopan, taat akan orang tua dan baik hati terhadap teman-temannya, pandai membuat Ulos Batak. Dia sangat ulet dalam pekerjaannya. Ke-uletannya itu membuat orang tuanya cukup heran sekaligus bangga terhadap putrinya. Boru Saroding yang dalam adat Batak, mempunyai sifat dan sikap yang sangat baik, merupakan calon menantu idaman yang sangat dicari oleh putra raja.
Ketika Boru Saroding sedang mandi dan membilas rambutnya yang panjang dan indah di tepi Danau Toba, tiba-tiba sebuah sampan yang ditumpangi seorang pemuda tampan dan berwibawa yang berdiri di atas sampan datang menghampiri Boru Saroding. Melihat pemuda yang mengenakan Ulos Batak dan melihat tampangnya, Boru Saroding berpikir bahwa pemuda tersebut bukanlah seorang nelayan biasa seperti yang sering dilihat disekitar pantai Danau Toba. Ketika Pemuda bersampan tersebut semakin dekat ke tempat dimana Boru Saroding berkeramas jeruk purut (Anggir dlm Bahasa Batak) hati Boru Saroding berdebar dan bertanya-tanya dalam hati,
“Siapakah pemuda ini?” seraya bergegas dengan cepat membersihkan rambutnya, karena merasa malu dipandangi seroang pemuda sedang mandi.
Dengan tergesa-gesa Boru Saroding pun selesai mandi dan beranjak dari pantai menuju kediaman orang tuanya. Akan tetapi ketika Boru Saroding hendak melangkah, sang Pemuda pun berkata kepada Boru Saroding,
“Putri Raja.. kenapa tergesa-gesa pulang??” tanya pemuda tersebut kepada Boru Saroding. Seketika langkah Boru Saroding pun terhenti karena terkejut dan seraya melirik ke arah Pemuda yang memanggil nya.
“Pemuda ini tampan dan berwibawa ya” penilaian Boru Saroding dalam hati.
“Kebetulan masih banyak pekerjaan saya yang harus saya selesaikan di rumah kami” dalih Boru Saroding kepada Pemuda tersebut.
Si Pemuda Tampan dan Berwibawa tersebut pun menghampiri Boru Saroding seraya memperkenalkan diri. Tempat asalnya dari Rassang Bosi (Desa Sabulan Kec.Sitio tio) yang disebut Ulu Darat kepada Boru Saroding. Dengan hormat Sang Pemuda pun menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Boru Saroding sekaligus berniat agar Boru Saroding mau memperkenalkan pemuda tersebut kepada kedua orang tua Boru Saroding. Karena dari awal Boru Saroding melihat pemuda tersebut sudah terkesan dengan Ketampanan dan Kewibawaan sang pemuda, Boru Saroding pun merasa senang dan menyetujui permohonan sang pemuda, merekapun bergegas berjalan bersama menuju rumah Boru Saroding.
Ketika Boru Saroding dan Pemuda tersebut tiba di rumahnya, seketika Orangtua dan saudara-saudarinya merasa kagum akan tampang dan cara bicara sang pemuda yang datang bersama Boru Saroding, mereka serasa disulap melihat sang pemuda tersebut yang berbadan kekar tersebut.
Singkat cerita, Sang Pemuda tersebutpun menyampaikan niat baiknya yang ingin mempersunting Boru Saroding sebagai istrinya kepada Kedua Orang Tua dan Saudara-Saudari Boru Saroding, Guru Solandason (Ayah dari Boru Saroding) meminta tanggapan dari putrinya Boru Saroding, apakah putrinya Boru Saroding menyukai pemuda tersebut, Boru Saroding pun menyatakan bahwa putrinya suka dan mau menjadi istri Pemuda tersebut.
Tak lama kemudian, Guru Solandason memberitahukan kepada Sanak saudaranya. Dan selanjutnya Pemuda tersebut dan Boru Saroding pun mendapat restu dari kedua orangtua Boru Saroding. Kemudain Upacara Adat Pernikahanpun segera dilaksanakan di tempat tinggal Boru Saroding. Setelah acara adat selesai merekapun diberangkatkan menuju tempat dimana Suami Boru Saroding tinggal.
Merekapun naik sampan menuju Rassang Bosi, akan tetapi Boru Saroding sangat terkejut dikarenakan mereka begitu cepat sampai disana. Boru Saroding pun semakin heran karena suaminya menceritakan tempat tinggalnya di atas gunung di tengah hutan, Tombak Ulu Darat. Namun Boru Saroding tidak terlalu kawatir karena ketika mereka berjalan melewati jurang yang dalam dan terjal ditambah hutan yang begitu liar, Sang Suami menuntun langkahnya, memegang tangan Boru Saroding sehingga Boru Saroding tak sedikitpun merasa lelah bahkan suaminya terlihat kuat tanpa keringat melewati daerah yang cukup melelahkan untuk di lalui.
Tidak berapa lama kemudian, Boru Saroding dan Suaminya tiba di rumah Suaminya. Merekapun istirahat hingga tertidur pulas sampai keesokan harinya ketika menjelang pagi Boru Saroding pun terbangun namun Boru Saroding tidak melihat Suaminya sehingga Boru Saroding melihat ke samping rumah dan ke belakang rumah. Kemudain ketika Boru Saroding hendak melihat suaminya ke depan rumah, Boru Saroding pun tersentak karena terkejut melihat seekor ular berukuran sangat besar melintas di halaman depan rumah suaminya. Tiba-tiba dengan sangat tergesa-gesa Boru Saroding menutup pintu rumah karena merasa sangat terkejut dimana Boru Saroding sebelumnya tidak pernah melihat ular yang ukurannya sangat besar dan memiliki kepala yang tidak seperti kepala ular pada umumnya. Dengan rasa takut yang luar biasa dan rasa heran, Boru Saroding pun duduk diam terpaku di dalam rumah. Tak lama kemudian, Boru Saroding pun mendengar suara Suaminya memanggil namanya. Sehingga Boru Saroding dengan segera bergegas membukakan pintu rumah untuk suaminya dan langsung mengatakan “Tadi saya melihat seekor ular besar dengan kepala yang aneh melintas dari halaman rumah kita menuju pohon besar di hutan” kata Boru Saroding kepada Suaminya.
Kemudian Suaminya menjawab pertanyaan Boru Saroding “Tidak usah takut, ular itu ular yang baik dan tidak mengganggu”.
Mereka menjalani dan melalui hari ke hari dengan kebahagian karena Suami Boru Saroding selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa kekurangan bahkan Suami Boru Saroding cukup pintar menghibur Boru Saroding dengan canda dan tawa, serta memiliki perhatian dan kasih sayang yang begitu besar kepada Boru Saroding. Dia berusaha mencarikan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang mampu membuat kecantikan Boru Saroding terawat. Semua hal tersebut dilakukan dan dipenuhi Suaminya dengan sangat sangat mudah tanpa ada keluhan apapun sehingga mereka hidup dalam kebahagian melalui hari-hari rumahtangga mereka.
Akan tetapi semakin lama Boru Saroding pun merasa heran yang dari hari ke hari semakin bertambah kecurigaanya terhadap cara hidup Suaminya yang penuh kemudahan hingga pada suatu saat tanpa sengaja Boru Saroding melihat Suaminya di bagian atas rumah (Para-Para dlm Bahasa Batak) sedang berubah wujud menjadi seekor ular berukuran sangat besar persis seperti ular yang pernah Boru Saroding lihat sebelumnya. Namun Boru Saroding berura-pura tidak melihat kejadian tersebut karena merasa takut Ular tersebut marah kepada Boru Saroding. Kemudian ular tersebut melintas keluar dari rumah menuju hutan hingga Boru Saroding tinggal sendirian di dalam rumah.
Boru Saroding merasa sangat terpukul dan merasa menyesal yang begitu mendalam karena tanpa berpikir panjang dan tanpa mengenal lebih jauh siapa laki-laki tersebut hingga menerima permintaannya menadi istrinya karena Boru Saroding telah mengetahui bahwa Suaminya bukan manusia biasa. Menjelang sore, suaminyapun kembali dari hutan membawa bekal berupa buah-buahan, daging Rusa, Burung. Kemudian Boru Saroding pun bergegas menyambut suaminya membawa hasil yang dibawa suaminya ke dapur untuk dimasak dan dijadikan untuk makan malam. Setelah Boru Saroding selesai menyiapkan makan malam, merekapun makan malam bersama di rumah yang berada di tengah hutan rimba tersebut dimana selama ini suaminya tinggal. Setelah usai makan malam, merekapun berbincang-bincang dan dengan jujur Suaminya memberitahukan siapa dia sebenarnya kepada istrinya Boru Saroding,
“Saya sebenarnya adalah Penguasa Ulu Darat, yang bisa berubah-ubah wujud dari manusia menjadi ular dan dari ular menjadi manusia” tegas Suaminya kepada Boru Saroding. Akan tetapi Boru Saroding cukup pintar menyembunyikan rasa takut dan penyesalannya yang sangat dalam kepada suaminya. Boru Saroding hanya tersenyum kepada Suaminya, sehingga suaminya merasa senang karena melihat istrinya Boru Saroding tidak terkejut atas pengakuannya yang jujur kepada Boru Saroding.
Hingga suatu ketika, kedua saudara Boru Saroding datang berkunjung ke rumah Boru Saroding yang berada di antara pegunungan di tengah-tengah hutan yang dinamai Tombak Ulu Darat. Karena kedua saudaranya sudah sangat merindukan Boru Saroding yang merupakan saudari perempuan tersayang mereka. Boru Saroding pun merasa sangat bahagia karena sudah dikunjugi oleh saudaranya sehingga dengan sangat gembira, Boru Saroding pun menyajikan berbagai aneka makanan dan buah-buahan kepada kedua saudaranya tersebut. Sembari menikmati makanan yang banyak, mereka bercerita dan berbincang-bincang hingga rasa rindu mereka terobati hingga waktu tidak terasa sudah berlalu lama. Senja pun tiba, seperti biasanya Boru Saroding tahu jika Suaminya akan segera kembali dari hutan dan dengan tergesa-gesa Boru Saroding berusaha mengajak kedua saudaranya untuk bersembunyi di bagian atas rumah di bawah atap karena Boru Saroding sudah mendengar suara-suara pertanda suaminya akan datang. Karena Boru Saroding merasa ketakutan dimana Boru Saroding tahu bahwa ular tersebut mau memakan manusia, kedua saudaranya pun bersembunyi agar tidak terlihat oleh Suami Boru Saroding. Suami Boru Saroding pun tiba di rumah, tiba-tiba suaminya tampak heran dan sepertinya mencium sesuatu yang lain dari yang lain dan bertanya “Sepertinya saya mencium darah manusia lain di rumah ini” kepada isterinya Boru Saroding. Dengan tergesa-gesa Boru Saroding berupaya mengalihkan pembicaraan dengan cepat menghidangkan makan malam suaminya. Kemudian Suami Boru Saroding selesai makan malam, selanjutnya Boru Saroding mengajak Suaminya untuk beristirahat. Ketika mereka hendak beristirahat, sesekali dengan tampak yang penuh curiga, Suami Boru Saroding bertanya, “Saya mencium ada orang lain di rumah ini?” tanya suaminya kepada Boru Saroding.
“Ah… sudahlah, itu hanya perasaanmu saja, tidak ada orang lain di rumah ini” jawab Boru Saroding dengan rasa takut yang luar biasa kepada Suaminya.
“Ini sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat saja” ajak Boru Saroding kepada suaminya yang masih tetap bertingkah aneh penuh curiga.
Karena tidak tahan lagi Boru Saroding menyembunyikan rasa takutnya kepada suaminya, kemudian Boru Saroding pun memberitahukan keberadaan kedua saudaranya kepada Suaminya,
“Ampuni .. saya suamiku, karena aku telah membohongimu” kata Boru Saroding kepada Suaminya.
“Benar di rumah ini ada orang lain selain kita, karena saya beripikir engkau akan marah jika engkau tahu saudara-saudaraku datang mengunjungi kita ke tempat ini” aku Boru Saroding dihantui rasa takut yang sangat besar kepada Suaminya.
“Mereka datang karena sudah sangat rindu kepada kita” kata Boru Saroding sambil memohon dan membujuk Suaminya.
Kemudian Suami Boru Saroding meminta agar kedua saudara Boru Saroding dipanggil untuk datang menghadap suaminya. Dengan perasaan yang masih dihantui ketakutan, Boru Saroding pun memanggil kedua saudaranya keluar dari tempat persembunyian mereka di bagian atas rumah di bawah atap rumah (Dalam Bahasa Batak disebut Bukkulan Ni Ruma). Kemudian kedua saudara Boru Saroding menghampiri Suami Boru Saroding seraya saling bersalaman dan tidak seperti ketakutan yang dibayangkan oleh Boru Saroding, justru kedua saudara Boru Saroding tampak gembira bercerita dengan suaminya hingga saking asiknya pembicaraan mereka (Suami dan Saudara Boru Saroding) tidak terasa waktupun sudah menjelang pagi.
Setelah pagi hari tiba, kedua saudara Boru Saroding berniat untuk kembali ke Samosir, sehingga kedua saudaranya memberitahu kepada Boru Saroding bahwa mereka akan kembali ke Samosir pagi ini. Boru Saroding pun mengajak kedua saudaranya untuk mohon pamit kepada Suaminya. Ketika hendak berpamitan, salah satu saudara Boru Saroding berkata “Lae, kami akan segera pulang ke Samosir, Lae kasih apa sama kami untuk kami bawa pulang ke Samosir?” tanya saudara Boru Saroding kepada suami Boru Saroding.
“Trimakasih Lae karena telah datang berkunjung kesini” jawab Suami Boru Saroding kepada kedua saudaranya sambil memberikan 2 (dua) buah bingkisan yang di balut kain dan diikat dengan tali kepada Pandiangan (Kedua Saudara Boru Saroding), seraya berpesan : “Hanya saja ada syarat yang harus dipenuhi oleh Lae” kata Suami Boru Saroding.
“Apa saja syaratnya Lae?” tanya kedua saudara Boru Saroding kepada suami saudarinya itu.
“Sesampainya di Samosir, bingkisan ini jangan dibuka akan tetapi lae harus menunggu hingga 7 (tujuh) hari lamanya baru Lae Pandiangan bisa membuka bungkusan ini” pesan suami Boru Saroding kepada kedua saudara Boru Saroding.
Kedua Saudara Boru Saroding menjawab “Ia Lae, akan kami penuhi pesan lae”.
Kemudian Pandiangan (Kedua saudara Boru Saroding) pun pamit dan beranjak pulang melewati hutan yang cukup mengerikan, melalui lembah dan jurang-jurang yang terjal hingga kedua saudara Boru Saroding pun tiba di tepi pantai Desa Sabulan. Selanjutnya mereka menaiki sampan untuk menyebrang ke Pulau Samosir.
Setelah mereka tiba di rumah masing-masing dimana pada saat itu kedua saudara Boru Saroding (Pandiangan) sudah menikah dan tinggal dirumah bersama isteri masing-masing, mereka menceritakan perjalanan yang ditempuh kepada isteri mereka masing masing, mereka menunjukkan bingkisan (Gajut) yang mereka bawa kepada isterinya.
Salah satu dari Pandiangan (Saudara Boru Saroding) bersungut-sungut karena merasa kesal dengan hanya menerima bingkisan (Gajut) kecil dari Laenya yang sudah bersusah paya mengunjungi Lae dan saudarinya di tengah hutan diatas gunung Ulu Darat tersebut. “Masa jauh-jauh dari Samosir ke Ulu Darat hanya dikasih bungkusan kecil kek gini, itupun pake syarat pula itu” kata salah satu saudara Boru Saroding kepada istrinya. Pendek cerita, karena tidak sabar menunggu hari yang telah dipesankan oleh Laenya ditambah rasa penasaran yang cukup besar, maka Pandiangan (Sudara Boru Saroding) membuka bungkusan tersebut. Karena tidak sesuai dengan pesan Suami Boru Saroding, maka bungkusan yang dibuka salah satu saudara Boru Saroding tersebutpun hanya berisikan: Tanah, Kunyit, Potongan Kayu kecil dan ulat-ulat. Merasa dihina, Pandiangan (salah satu saudara Boru Saroding yang membuka bungkusan tersebut) pun marah dan mengucapkan makian terhadap suami Boru Saroding,
“Kurang ajar,,, masa kek gini cara dia menghargai saya selaku saudara laki-laki Boru Saroding. Tidak tahu sopan terhadap keluarga istrinya..!!!” kata salah satu saudara Boru Saroding lalu membuang bungkusan yang dibuka tersebut sebelum waktunya.
Kemudian Pandiangan membujuk dan mengajak adiknya Pandiangan paling bungsu untuk turut membuka bungkusan yang diberikan oleh Laenya tersebut, “Buka aja dik bungkusannya, mungkin isinya sama saja seperti yang telah abang buka tadi” kata Pandiangan yang tadi kepada saudaranya. Akan tetapi Pandiangan paling bungsu tetap tidak mau membuka bungkusan tersebut dan bertahan memenuhi pesan yang telah disampaikan oleh Laenya (Suami Boru Saroding). Setelah hari ke 7 (tujuh) tiba, sesuai dengan pesan Laenya, maka Pandiangan paling bungsu pun membuka bungkusan tersebut dan ketika bungkusan tersebut dibuka, tiba-tiba keluar ulat-ulat yang jumlahnya sangat banyak dari bungkusan akan tetapi dalam hitungan beberapa detik, ulat-ulat yang tadinya keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi kerbau dan sapi dengan jumlah yang sangat banyak juga. Saking banyaknya jumlah sapi dan kerbau tersebut, hingga lokasi pekarangan perkampungan tersebut terlihat padat. Sementara kunyit yang keluar dari bungkusan tersebut berubah menjadi emas dengan jumlah yang cukup banyak dan potongan kayu kecil pun berubah menjadi batang pohon yang memadati lokasi perkampungan Pandiangan paling bungsu.
Beberapa bulan kemudian, ternak sapi dan kerbau yang dimiliki Pandiangan paling bungsu semakin lama semakin bertambah banyak jumlahnya sementara hasil pertanian dan pohon yang dimilikinya ikut bertambah banyak sehingga Pandiangan paling bungsu semakin terkenal sebagai warga paling kaya di daerah tersebut.
Setelah hampir ½ tahun kemudian, karena sudah sangat rindu akan kampung halamannya, terlebih-lebih kepada Orangtua dan saudara-saudaranya di Samosir, maka Boru Saroding pun meminta ijin kepada suaminya untuk diberikan kesempatan pulang ke kampung halaman guna mengobati rasa rindunya tersebut.
“Suamiku… saya sudah rindu akan kampung halaman, saudara-saudaraku dan terlebih lebih orang tuaku di Samosir, ijinkan saya menjenguk mereka, saya tidak akan lama lama disana” Kata Boru Saroding kepada Suaminya.
Dengan berat hati Suami Boru Saroding menjawab : “Sepertinya saya punya firasat buruk jika aku ijinkan engkau berkunjung ke Samosir, sepertinya engkau tak akan kembali lagi ke tempat kita ini (Ulu Darat)”
Boru Saroding pun tidak putus asa dan tetap berupaya membujuk suaminya agar Boru Saroding diberi ijin seraya berusaha memberikan kepercayaan kepada Suaminya.
“Suamiku… saya janji jika engkau ijinkan saya ke Samosir, saya akan pulang karena saya tidak mungkin meninggalkan suamiku sendiri yang telah memberikan saya kebahagian dan telah memberikan aku kasih sayang. Saya hanya sebentar di Samosir setelah itu saya akan pulang ke sini (Ulu Darat)” jelas Boru Saroding kepada Suaminya.
Karena Boru Saroding sudah memohon dan memberikan penjelasan yang cukup meyakinkan suaminya, maka suami Boru Saroding pun mengijinkan Boru Saroding untuk bertamu ke Samosir tempat tinggal mertuanya, sehingga suaminya mengantarkan Boru Saroding ke tepi pantai Danau Toba untuk menyeberangkan istrinya ke Samosir.
Dengan penuh keajaiban, suami Boru Saroding memetik sepucuk daun pohon kemudian meletakkannya di tepi Danau dan tiba-tiba daun tersebut berubah menjadi sebuah sampan. Setelah itu suami Boru Saroding mempersilahkan Boru Saroding memasuki sampan tersebut. Kemudain Suami Boru Saroding berkata : “Boru Saroding istriku yang baik hati, engkau adalah putri raja yang telah menjadi istrik. Engkau berjanji akan cepat kembali dari Samosir karena kita saling mencintai dan saling menyayangi. Jadi kumohon dengan sangat, agar engaku penuhi janjimu dan cepat pulang ya isteriku, saya juga percaya akan apa yang telah engkau janjikan kepadaku..” kata suaminya kepada Boru Saroding.
Boru Saroding pun mengangguk seraya meng-ia kan perkataan suaminya dan berkata “Baik Suamiku, percayalah… saya akan cepat pulang dari Samosir, engkau boleh membuat sumpah” kata Boru Saroding kepada suaminya dengan usaha untuk tetap menyakinkan suaminya agar rencananya dapat berjalan lancar. Lalu Suami Boru Saroding pun mengucapkan sebuah sumpah :
“Dekke Ni Sabulan Tu Tonggina Tu Tabona, Manang ise si ose padan..Turipurna tu magona” (Dalam bahasa Indonesia diartikan bahwa : Setiap Orang yang Ingkar Janji/Sumpah maka Ia akan menanggung akibat buruk). Dengan perasaan sedih yang mendalam di hati Suami Boru Saroding mendorong sampan.
“Berangkatlah istriku Boru Saroding” kata Suaminya kepada Boru Saroding sambil melepas sampan yang dinaiki Boru Saroding ke arah Danau Toba yang saat itu situasi tampak damai tanpa angin dan tanpa gelombang. Bahkan saat itu, cuaca di langit tampak begitu cerah. Setelah Boru Saroding mendayung sampannya sekitar 5 (lima) meter dari bibir pantai, Boru Saroding pun berkata dengan pelan seperti berbisik “Beughhh…bursik ma ho….…., kupikir engkau manusia…ternyata engkau hanya seekor ular dan hanya hantu berwajah manusia. Kau kira saya akan kembali lagi ke Ulu Darat, tempat yang mengerikan itu? Dasar hantu berwajah manusia, berbadan ular.” Kata Boru Saroding dengan pelan sambil tergesa-gesa mendayung sampannya yang dibarengi rasa kecewa serta ketakutan.
Tiba tiba, cuaca di langit berubah menjadi gelap, angin putting beliung, hujan dan suara petir datang sehingga ombak besar mulai muncul di Danau Toba dimana Boru Saroding sedang melintas dengan sampannya. Melihat situasi yang tiba-tiba berubah, Boru Saroding pun menjerit-jerit ketakutan, dengan sekuat tenaga.
Boru Saroding pun berupaya mengendalikan sampannya. Tiba-tiba muncullah ombak yang sangat besar menuju Boru Saroding sehingga Boru Saroding pun tak mampu mengendalikan sampan yang ditumpanginya. Boru Saroding dan sampannyapun ikut terseret gelombang besar tersebut. Tak lama kemudian Boru Saroding pun hanyut dibawa arus air ke dasar Danau Toba.
Semenjak kejadian itu hingga sekarang, Boru Saroding tidak dapat ditemukan dan menurut keyakinan Orang Batak, khususnya warga Pulau Samosir, menyakini bahwa Boru Saroding menjadi arwah penjaga Danau Toba sampai saat ini. Banyak warga yang masih meyakini hal tersebut bahkan sesuai dengan kesaksian beberapa keturunan Pandiangan masih meyakini kalau arwah Boru Saroding konon dikatakan jika ada sebuah kapal yang sedang melintas di perairan Danau Toba dengan kondisi cuaca buruk dan gelombang/ombak besar maka salah satu penumpang kapal yang merupakan keturunan Pandiangan atau masih keluarga dari marga Pandiangan dapat meminta pertolongan melalui doa kepada Boru Saroding agar ombak besar dan angin kencang yang sedang menghalau kapal tersebut dihentikan oleh Arwah Boru Saroding. Akan tetapi hal ini ternyata benar-benar terbukti karena hanya dengan memakan Sirih lalu berdoa memohon bantuan Arwah Boru Saroding, maka kendala apapun yang sedang dialami oleh kapal tersebut, akan dihentikan.
Hingga kini sebagian besar warga Samosir masih meyakini legenda serta keberadaan Arwah Boru Saroding. Dan warga menyebutnya Namboru Boru Saroding Penunggu Danau Toba wilayah Rassang Bosi, Dolok Martahan, Palipi, Mogang, Sabulan Janji Raja, Tamba, Simbolon, dan Hatoguan.
Dan dipesankan kepada seluruh warga yang berkunjung dan melewati daerah tersebut diminta agar tidak membuang ludah/sampah ke Danau serta tidak boleh berbicara kotor karena konon katanya orang yang tidak memenuhi pesan tersebut akan mengalami suatu hal yang cukup mengerikan dan kemungkinan besar kapal yang ditumpangi akan mengalami musibah besar.
Sementara Suami dari Boru Saroding dipanggil warga dengan sebutan “Amangboru Saroding” yang diyakini dan disaksikan sebagian warga Pandiangan, sering melihat suami Boru Saroding turun dari Ulu Darat menuju Danau tempat Ia mengantarkan istrinya, Namboru Boru Saroding. Penampakan dari suami Boru Saroding berwujud Ular Besar dan Panjang berbadan manusia berenang di sekitar tempat Boru Saroding tenggelam bersama sampan yang ditumpanginya.
Sementara di Kaki Gunung Ulu darat tepatnya di perkampungan Pandiangan, Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio terdapat sebuah Permandian Namboru Boru Saroding yang diyakini sebagai tempat Boru Saroding mandi dan keramas dengan jeruk purut. Tempat tersebut diberi nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” di tempat permandian Boru Saroding tersebut terdapat pohon besar dimana pada dahan dan ranting pohon tersebut ditumpangi pohon Jeruk Purut. Akan tetapi buah dari Jeruk Purut yang menumpang ke Pohon besar tersebut tidak boleh diambil sembarang orang.
Kisah atau Legenda ini menjadi salah satu Objek Wisata di Kabupaten Samosir. Situs Budaya yang mengisahkan Legenda Perjalanan Boru Saroding dan kemudian tempat tersebut di beri nama “Par Anggiran Ni Namboru Boru Saroding” yang berlokasi di Desa Sabulan, Kecamatan Sitiotio Kab.Samosir. Atau jika kita berkunjung ke tempat bersejarah tersebut, hanya sekitar ½ jam dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Mogang Kec.Palipi. Tempat ini seiring dikunjungi oleh Keluarga Pandiangan atau Si Raja Sonang bahkan turis lokal maupun mancanegara mengunjugi tempat ini dengan tujuan berjiarah sekaligus mengenang Perjalanan Namboru Boru Saroding Pandiangan.
Hingga saat ini, kisah nyata serta kesaksian tentang keberadaan Arwah Namboru Boru Saroding masih banyak dikisahkan oleh warga Samosir khususnya warga yang sedang melintas di Daerah tersebut.
Sejarah Legenda Namboru Boru Saroding yang saya posting ini tentu saja masih belum sempurna bahkan mungkin jika sebelumnya pembaca pernah membaca atau mengetahui legenda ini dari sumber lain dan terdapat ada perbedaan, maka mohon untuk disampaikan komentar, agar kedepannya dapat dilakukan perbaikan-perbaikan…
Horas…!!! Mauliate….!!!
Simardan, Kisah sang anak durhaka
Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas.
Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan.
Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.
Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu.
Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.
Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.
Berasal Dari Tapanuli
Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai.
Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red).
Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli.
Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.
Menjual Harta Karun
Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga.
Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.
“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.
Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.
Malu
Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung.
Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.
Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.”
Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”
Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.
Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.
Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung.
“Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.”
Legenda Simamora Naoto (Ditabunihon Sira tu Aek)
Pada zaman dahulu SIMAMORA terkenal sebagai pedagang garam. Ia sering bepergian untuk waktu yang lama meninggalkan keluarganya untuk berdagang garam. Garam - garam ini diambilnya pesisir barat Sumatera untuk dijualnya ke beberapa pasar yang dilaluinya seperti Pahae, Sipirok, Silindung, Doloksanggul dan jika dagangan masih tersisa, ia akan menjualnya di Bakkara di pinggir Danau Toba. Bakul tempat garamnya diletakkan di atas kuda beban yang menjadi tunggangannya.
Simamora adalah orang yang ramah, dan jujur dalam berdagang. Banyak dari orang – orang yang bertemu dengan dia merasa senang berdagang kepadanya. Oleh karena itu, Simamora punya banyak langganan dan kenalan.
Berdagang garam tidaklah selalu mudah. Hujan menjadi masalah yang paling utama. Ketika hujan turun, kuda – kuda akan menjadi bebal dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Dan bakul tempat garam pun tidaklah cukup bagus. Bakul itu terbuat dari anyaman daun kelapa sehingga kurang aman dari air. Kalau sudah begini, Simamora biasanya harus menginap di rumah – rumah warga di kampung yang dilaluinya.
Suatu hari, Simamora bertemu dengan dua orang yang sama – sama berdagang garam. Seiring berjalan waktu, ia semakin kompak dengan keduanya dan sering pergi berjualan bersama. Simamora sendiri merasa beruntung mempunyai teman berdagang, selain dia punya teman untuk diajak bicara selama perjalanan, ia juga merasa terbantu untuk hal lain. Terkadang jika musim hujan tiba, sungai – sungai meluap. Untuk menyebrangi sungai, mereka harus menarik kuda beban karena kuda tidak mau menyebrangi sungai. Terkadang kuda ini sangat bebal sehingga harus ditarik oleh dua orang atau lebih.
Sepanjang perjalanan, Simamora mendapat pelanggan lebih banyak dari kedua rekannya, karena Simamora dianggap orangnya lebih jujur dan jualannya juga tidak terlalu mahal. Hal ini mengundang kecemburuan bagi kedua rekannya. Sering keduanya menggerutu karena tidak mendapat pelanggan. Terkadang mereka harus menunggu sampai dagangan simamora habis, baru mereka kebagian pelanggan.
Kekesalan ini semakin memuncak sampai suatu ketika mereka merencanakan untuk memberi Simamora pelajaran.
Pada suatu sore, Simamora bersama kedua rekannya terpaksa menginap di warung kopi di satu desa sebelum masuk pasar Doloksanggul karena hujan sedang turun. Warung itu kosong pada malam hari. Pemiliknya tinggal di kampung lain, agak jauh dari tempat itu. Setelah bakul garam diturunkan dari punggung kuda, mereka menambatkan kuda-kudanya di dekat rerumputan sekitar warung. Mereka bercengkrama sambil melinting tongkol jagung yang dijadikan rokok.
Kedua rekannya yang sudah lama mencari kesempatan untuk mencelakai Simamora merasa kalau inilah waktunya untuk memberinya pelajaran. Mereka berencana untuk mencuri kuda dan garam – garam Simamora selagi dia tidur. Dengan demikian, ia tidak bisa berjualan garam lagi. Berkuranglah saingan.
Malamnya, kedua rekannya itu menyarankan agar sebaiknya mereka bergantian jaga. Dua orang tidur sedangkan seorang lagi jaga. Demikian lah bergantian hingga pagi tiba.
“Apa perlu begini ? Toh, selama ini juga tidak pernah terjadi apa-apa” kata Simamora.
“Itu tidak menjamin kalau disini aman selamanya.” Jawab mereka.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyembunyikan garam masing-masing.” Usul Simamora.
“Dimanapun kau menyembunyikannya, garammu pasti bisa ditemukan di warung yang sekecil ini.”
“Tidak mungkin bisa ditemukan.” Jamin Simamora.
“Aku tidak yakin. Bagaimana kalau aku bisa menemukan garammu?” Tanya seorang.
“Garamku menjadi milik kalian.”
“Kalau tidak ?” Tanya seorang lagi.
“Garam kalian menjadi milikku.”
“Baik.” Ketiganya pun sepakat. “Sembunyikanlah garammu.” Kata mereka.
Lalu simamora pergi membawa garamnya. Tidak sampai dua menit ia sudah kembali. Kedua rekannya lalu menyalaminya tanda perjanjian sah.
“Bagaimana kalau kuda kita pertaruhkan juga?” Usul mereka berdua karena merasa yakin garam tersebut tidak jauh disembunyikan mengingat waktu yang diambil Simamora tidak lama.
“Boleh juga” tantang Simamora
“Baiklah” sambut mereka.
Malam itu Simamora tidur dengan lelapnya. Seperti tidak ada yang sedang dipikirkannya. Berbeda dengan kedua rekannya yang tidak sabar menunggu pagi tiba. Mereka yakin sekali garam itu disembunyikan di dapur. Mereka ingin sekali langsung mencari garam tersebut dan membawa kuda Simamora pergi. Tapi mereka harus berlaku adil sesuai perjanjian.
Pagi – pagi benar mereka sudah bangun. Ingin rasanya cepat – cepat menemukan garam tersebut. Akan tetapi untuk menunjukkan kalau mereka berlaku adil, mereka menunggu hingga Simamora bangun. Setelah simamora bangun, ketiganya melinting rokok. Lalu masing – masing menikmatinya tanpa ada yang berselera memulai bicara. Rokok semakin pendek dan setelah api rokok menyentuh jari, keduanya mengingatkan simamora tentang kesepakatan mereka.
“Silahkan cari.” Kata simamora singkat.
“Sebaiknya kita naikkan dulu beban kuda kita.” Kata seorang
“Bagus juga.” Balas yang seorang lagi. “Kuda yang ketiga tinggal dimuat lalu dituntun.”
“Aku khawatir kalian tidak kembali lagi karena malu.” Simamora tersenyum simpul.
Keduanya tidak menjawab. Mereka langsung bergegas. Mereka memulainya dengan menyisir dapur, sekitar rumah, hingga kebun. Dapur penuh dengan barang – barang yang ditumpuk begitu saja. Ternyata tidak ada. Di kebun, sekitar sumur hingga sekitar kampung juga tidak ada. Mereka kembali ke dapur membongkar barang-barang yang ditumpuk. Tetapi tetap tidak ketemu.
“Dua menit. Mungkinkah keluar kampung?” Tanya yang satu.
“Kalau berlari, bisa juga…” sahut yang satu sambil menggaruk – garuk kepalanya.
Lalu mereka memeriksa bambu bambu pembatas kampung. Tetapi tetap saja tidak ada. Semak belukar, tumpukan sampah juga tidak lepas dari penggeledahan mereka. Tanpa disadari mereka sudah cukup jauh keluar dari desa.
Setelah menunggu cukup lama, Simamora memeriksa. Tetapi rekannya belum kembali juga. Hanya ada tukang warung yang baru sampai dan sedang menjerangkan air dari sumur. Si Tukang warung merasa heran melihat banyaknya barang yang berantakan di dapur. Sebelum ia sempat menanyakan tentang barang – barang tersebut, Simamora telah pergi membawa kedua kuda dan garam – garam rekannya itu.
Walau kaget dengan kondisi dapur yang berantakan, si pemilik warung tidak langsung memeriksanya. Ia terlebih dahulu menjerangkan air karena pagi – pagi biasanya banyak pengunjung yang ingin minum kopi. Tukang warung memeriksa dapur yang diobrak – abrik entah oleh siapa. Dan entah untuk apa. Ia tidak melihat adanya barang – barang yang hilang. Untuk memastikan perasaannya, ia menghitung seluruh jumlah karung padi di lumbung, kemudian alat – alat pertanian, tidak ada yang hilang. Sambil mengira – ngira apa yang telah terjadi, ia merapikan barangnya.
Air telah mendidih dan dia segera melayani langganannya. Tanpa menceritakan kejadian di dapurnya. Tak lama kedua pedagang yang kalah taruhan telah kembali. Mereka mendapati kalau Simamora sudah pergi bersama kuda – kuda dan keempat bakul garam yang telah dimenangkannya.
Saat itu di warung sedang ada desas desus antara pengunjung. Keduanya yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tidak terlalu memperdulikannya.
“Kopi dua !” pesan mereka.
Tak lama berselang seseorang diantara pengunjung angkat bicara.
“Koq kopinya asin?” katanya
Kedua pedagang yang mendengar hal itu saling berpandangan. Seperti akan mengatakan sesuatu. Buru – buru keduanya mencicipi kopi mereka.
“Benar ! Kopinya asin !”
“Sungguh, disini tidak ada tempat garam.” Kata yang punya warung. “Gelas dan sendok sudah saya cuci. Mana mungkin bisa asin?”
“Jangan – jangan…” gumam seorang pedagang itu.
“Jangan – jangan simamora menyembunyikan garam di dalam sumur !”
Keduanya langsung melompat dari tempat duduknya dan memeriksa sumur di belakang warung. Galah dijulurkan ke dalam dan dua buah bakul berhasil diangkat dari dalam. Warga di sekitar mengenali bakul tersebut sebagai bakul garam yang biasa dibawa Simamora.
“Lihat !” Kata salah satu pedagang tersebut. “Ini bakul Simamora. Dia benar – benar bodoh, menyembunyikan garam di dalam sumur.”
“Kenapa ?” Tanya seorang dari kerumunan itu.
“Karena dia takut garamnya dicuri orang.” Jawab rekan pedagang itu.
“Bodoh benar (oto ma i)” piker orang – orang di warung itu.
“Memang bodoh” ucap kedua pedagang itu. Mereka melakukannya untuk menyembunyikan kemalangan mereka yang telah kalah taruhan.
Berita tentang garam masuk sumur ini langsung cepat menyebar. Kedua pedagang ini juga menceritakan tentang “simamora yang bodoh” (Simamora na oto) kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun tidak pernah menceritakan bahwa Simamora yang membodohi mereka.
Legenda Siboru Namotung (Sibottar Mudar)
Seperti yang kita ketahui bahwa Raja Simamora memiilki 3 anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Sedangkan Debataraja sendiri juga memiliki 3 orang anak, yaitu Sampe tua, Babiat Nainggol, dan Marbulang serta 1 orang putri (boru) yaitu Siboru Namotung (Sibottar Mudar). Lihat tarombo Simamora
Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson) mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu.
Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layang-layang dan bersabda "barang siapa yang menemukan layang-layang itu bila perempuan akan kujadikan menantu dan bila lelaki akan kujadikan anak". Setelah layang-layang diterbangkan maka sang rajapun menyuruh bawahannya untuk melacak siapa gerangan yang akan menemukannya.
Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson) mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu.
Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layang-layang dan bersabda "barang siapa yang menemukan layang-layang itu bila perempuan akan kujadikan menantu dan bila lelaki akan kujadikan anak". Setelah layang-layang diterbangkan maka sang rajapun menyuruh bawahannya untuk melacak siapa gerangan yang akan menemukannya.
Sekian lama pencarian kemana arah
terbangnya layang-layang tersebut dan siapa yang menemukannya, ternyata
layang-layang itu secara tidak sengaja ditemukan oleh Siboru Namotung
(br Simamora). Maka sesuai dengan janji dan sabda Raja Barus itu, iapun
berencana untuk menikahkan anaknya dengan boru simamora tersebut dan
berangkatlah raja tersebut ke Bakkara untuk menjumpai keluarga boru
simamora itu untuk melamarnya dan menjadikannya menantu.
Setelah Raja Barus (Pasaribu) berjumpa
dengan ketiga saudara Siboru Namotung, iapun menyampaikan niatnya itu,
namun tidak seperti yang diharapkannya ternyata Siboru Simamora itu
sudah menikah.
Pada saat pembicaraan itu Si Marbulang
tidak setuju atau merasa keberatan kalau saudarinya itu dinikahkan lagi
karena ia tahu saudarinya (itonya) itu sudah menikah dengan Hamang,
sedangkan Sampe tua merasa tiada guna bersaudara dengan makhluk yang
tidak kelihatan yang tidak jelas wujud dan rimbanya sedangkan Babiat
Nainggol masih merasa ragu akan pilihannya. Pada akhirnya Raja Barus
memaksakan untuk melamarnya dan siboru namotungpun dibawa ke Barus untuk
dinikahkan dengan anaknya.
Mendengar kabar itu Hamang marah dan
pergi mengejar Raja Pasaribu itu untuk mengambil kembali istrinya.
Merekapun bertemu pada saat hendak menyeberangi sungai dan di sungai itu
mereka bertengkar memperebutkan siboru namotung ( boru simamora) itu.
Mereka saling unjuk kemampuan dan laga ilmu, maka sang Hamangpun
mengeluarkan kemampuannya dan berkata "kalau bisa kau angkat istriku itu dari air ini silahkan bawa tetapi kalau tidak bisa silahkan tinggalkan tempat ini!",
Raja Barus mencoba untuk menariknya namun ternyata siboru simamora
tidak bisa lagi digerakkan sama sekali, tanpa panjang pikir Raja Barus
itu mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepala siboru namotung hingga
putus konon katanya darah yang keluar dari leher siboru simamora itu
berwarna putih itu sebabnya ia digelari Siboru Namotung atau Sibottar
Mudar, dan ia pun membawa kepala tersebut kembali ke kampungnya di Barus.
Melihat kejadian itu Hamangpun merasa kecewa dan sedih setelah melihat istrinya telah meninggal dibuat Raja Barus tersebut dan membiarkan sisa potongan tubuhnya terhanyut di sungai itu. Hamang dengan amarahnya menjumpai ketiga saudara boru simamora itu dan mengutuknya bahwa ketiga saudara itu akan susah punya keturunan sesuai dengan tingkatan kesalahan yang mereka perbuat kepada Hamang.
Setelah Raja Pasaribu sampai di
kampungnya, ia pun menyuruh anak buahnya untuk mencari sisa potongan
tubuh boru simamora itu ke sungai itu. dan ternyata mereka menemukannya
masih terhanyut disungai dan membawakannya kembali ke raja tersebut.
Potongan tubuh boru simamora itu yang sudah berhari-hari mati
disatukannya kembali dan disemayamkan dalam sebuah ruangan khusus.
Menurut ceritanya tubuh boru simamora itu dapat bersatu dan kembali
hidup. itulah sebabnya ada sebahagian marga pasaribu (marga pasaribu
yang dari Barus) memanggil Tulang kepada marga Simamora Debataraja.
Langganan:
Postingan (Atom)
