Hoorass-anda di "Dolok Tolong Site" !!!

Rabu, 16 November 2016

Spiritual Soeharto




Dikawal Seribu Paranormal

MASIH ingat ketika Presiden Amerika Serikat George W. Bush ke Indonesia tahun 2006? Meski hanya beberapa jam mampir, tetapi pengerahan pasukan keamanan sangat luar biasa. Mengapa sangat dan maha ketat. Selain Bush dibenci banyak orang di negeri ini, juga sebelumnya beredar luas kabar dia bakal disantet.

Yang lebih heboh adalah ketika dia turun dari mobil anti peluru yang membawanya ke Kompleks Kebun Raya Bogor, tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menanti dengan gelisah. Bush tidak melangkah turun seperti biasa, tetapi dari atas mobil dia langsung lompat katak ke tanah. Ini jelas pemandangan tak lazim.

Begitu melihat tingkah laku Bush tersebut, orang pun serta merta mengaitkan kelakuannya itu merupakan perintah dari paranormal yang menyertai kunjungan sang kepala negara.

Ki Gendeng Pamungkas, salah seorang paranormal yang kabarnya dipakai oleh orang tertentu untuk ’mengerjai’ Bush, konon ’takluk’ atas paranormal boyongan Bush. Presiden yang gandrung mengobarkan perang tersebut, konon kabarnya, memanfaatkan jasa dukun Yahudi.

Bukan hanya Bush yang memanfaatkan paranormal dan perdukunan, melainkan juga pendahulunya. Ronald Reagan pun mendengarkan nasihat spiritual yang diberikan kepadanya.

Perdukunan di Amerika Serikat berkembang saat Nancy Reagan memiliki sepasukan dukun sebagai konsultan spiritualnya sehubungan dengan pribadi dan suaminya sebagai presiden.

Jauh-jauh sebelumnya, Adolf Hitler pun menggunakan jasa dukun. Ia memiliki salah satu pusaka yang diyakini bertuah berupa sebuah tombak. Tombak ini konon yang dipakai oleh pasukan Romawi untuk menombak lambung Jesus.

Lalu bagaimana dengan Soeharto? Seminggu menjelang kematiannya, dua peramal ulung atau paranormal di negeri ini mengungkapkan kedigdayaannya melihat dunia gaib mengenai Soeharto. Salah seorang yang sudah tidak asing adalah Mama Laurent.

Melihat kondisi kesehatan Pak Harto yang kian kritis, wanita Indo ini mengatakan bahwa ada sesuatu yang melekat pada diri penguasa Orde Baru itu. Sepanjang ‘sesuatu’ itu belum dilepaskan, anak petani dari Desa Kemusuk itu akan tetap ‘tersiksa’.

‘’Anggota keluarga sebaiknya mencari orang pintar yang mampu melepaskan ‘ketergantungan’ Pak Harto dari ‘perangkap’ yang melekat dalam dirinya,’’ Mama Laurent menyarankan seperti ditayangkan salah satu stasion televisi swasta.

Meski Pak Harto telah menghembuskan napasnya yang terakhir pada pukul 13.10 WIB, Minggu (27/1) dan dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Surakarta, Senin (28/1) pukul 13.00 WIB, namun masih ada yang penuh misteri pada sosok mantan Presiden Republik Indonesia kedua itu. Dunia kleniknya. Kawasan yang tidak banyak dipahami orang, tetapi dari dulu orang sudah banyak yang maklum.

ProFiles melalui berbagai sumber memperoleh informasi, Soeharto yang kental dengan budaya Jawa itu, kerap melakukan tirakat di berbagai tempat. Di antara lokasi itu adalah Makam Pangeran Purbaya di Desa Maguwoharjo Sleman Yogyakarta.

Watu Gilang, tempat duduk Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam Pertama di Kota Gede Yogyakarta, juga termasuk tempat Pak Harto biasa menggelar tirakat.

Arwan Tuti Artha, dalam Dunia Spiritual Soeharto mengatakan, Gapura Makam Raja-Raja Mataram Kota Gede Yogyakarta adalah tempat yang tidak pernah dilewatkan Pak Harto.

Mantan presiden kedua Indonesia itu juga memiliki seorang guru spiritual. Konon namanya Romo Diyat yang terletak di Jl.Sriwijaya Semarang. Bahkan di tengah Sungai Kaligarang Sampangan Semarang tegak Tugu Soeharto. Konon, di tempat itulah Pak Harto sering Topo Kungkum (merendam diri).

Tetapi tempat Pak Harto pernah menerima wangsit, kata Tuti Artha, terdapat di Padepokan Langlang Buana Gunung Srandil Cilacap Jawa Tengah. Untuk mencapai padepokan itu, orang harus menaiki tangga. Dan, kelihatannya sudah permanen.

Masih di Cilacap juga, ada tempat pemujaan yang dikenal dengan nama Padepokan Jambe Pitu Gunung Selok.

Eksistensi Pak Harto dengan dunia kejawen sudah lama dikenal orang. Hanya saja, seberapa jauh keakrabannya dengan aspek-aspek kejawen itulah yang masih dangkal diketahui.

Dia masih tetap melakoni kehidupan dunia Jawa yang tulen. Bentuknya, seperti melaksanakan puasa, tidak makan, tidak minum, tidak meninggalkan warisan leluhur seperti menggelar upacara selamatan bagi keluarganya.

Masih ingat ketika pernikahan cucunya, Danny Rukmana (anak Mbak Tutut-Indra Rukmana) dengan Lulu Luciana Tobing yang asal Batak, berbusana Jawa yang tulen.

Soeharto tetap menyelenggarakan upacara tradisional Jawa untuk berbagai acara seperti acara kelahiran, ulang tahun, pernikahan, maupun acara kematian.

Seorang sejarawan asing, MC Ricklefs, melukiskan Soeharto sebagai sosok yang sangat memercayai klenik kebatinan Jawa pedalaman yang kental. Sebuah klenik yang hanya mengakui Islam dalam bentuk yang lebih esoteris dan hukum agama hanya memiliki kekuatan kecil.

Adik tiri Pak Harto, H Probosutedjo, mengakui, ilmu klenik kadang-kadang disampaikan melalui cara berbisik-bisik. Itulah sebabnya disebut ilmu klenik atau ilmu kebatinan.

Probo menggambarkan, penyampaian ilmu klenik ini seperti orang membaca di tempat ramai atau di dalam kereta api, di atas bus, di pesawat terbang. Tidak diucapkan, tetapi hanya dengan batin. Tidak bersuara pula. Bahkan bibirnya pun tidak bergerak sama sekali.

Gara-gara praktik penyampaiannya yang ’mencurigakan’ inilah, sehingga Belanda pernah melarang. Apatah lagi ilmu ini sering diajarkan di tempat-tempat sepi seperti di pemakaman dan pegunungan terpencil.

Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto memiliki tidak kurang dari seribu dukun, paranormal, wong pinter, dan guru spiritual. Untuk menjaga keawetan daya kleniknya, Pak Harto sering berpuasa setiap sebelum 17 Agustus atau pada hari-hari penting lainnya.

Dia pun dikelilingi benda-benda pusaka dari zaman lampau. Maksudnya, untuk meminjam kekuatan magis benda-benda itu. Dia pun sering nyekar ke tempat-tempat yang dikenal keramat.

Kenyataan inilah yang menyebabkan banyak orang segan pada Pak Harto. Bahkan, banyak tersebar, Pak Harto memiliki dukun ampuh di mana-mana, membuat banyak orang tak berani main-main. Padahal, dukun itu adalah orang biasa yang mampu berkomunikasi dengan kekuatan gaib.

Kekentalan Pak Harto dengan kekuatan spiritual Jawa juga ditandai dengan seringnya beliau mengambil contoh dalam kisah pewayangan. Salah satu tokoh yang selalu diibaratkannya adalah Semar. Semar ini selalu dikaitkan dengan mesem, tersenyum. Dari nama itulah, dia menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret dengan singkatan Super Semar.

Tokoh Semar secara tidak langsung telah memberi inspirasi pada momentum pada hari itu, saat Presiden Soekarno memberi kekuasaan pada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu demi terjaminnya keamanan, ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan, termasuk menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan presiden.

Dalam setiap fotonya, di mana pun, termasuk di lembaran uang kertas, wajah Soeharto selalu mesem. Dia selalu tersenyum. Strategi ini konon ia pelajari dari ilmu Suryomentaram.

Soeharto tak perlu mengerahkan bala tentara, tetapi lawan bisa dibuat takluk dan menyerah. Kecerdikan Soeharto menyingkirkan Soekarno yang memberinya Super Semar, membuat dia selalu tersenyum. Kalau Soeharto tidak tampil tersenyum, pasti ada yang tak beres dengan anak petani Kemusuk itu. OG Roeder menyebut dalam bukunya The Smiling General, kalau tidak tersenyum, jangan-jangan Soeharto sakit.

Asvi Warman Adam (baca: Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia, 2004) menulis, pada tahun 1965, ia memiliki jabatan rangkap. Dia sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) – yang pertama --, juga Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) yang juga pemegang Super Semar yang mengantarnya menjadi Pejabat Presiden pada tahun 1967.

Hebatnya, Soeharto sangat lihai memanfaatkan jabatan-jabatannya itu, sehingga lolos dari perangkap ‘koreksi’ atau kritik kabinet. Misalnya, untuk membubarkan PKI, ia memakai nama Presiden Soekarno yang memberinya Super Semar 1966.

Untuk hal lain, dia memutuskan atas nama Pangkostrad. Bila memakai posisinya selaku Menpangad, jelas kebijakannya itu bakal panjang dan masuk agenda sidang kabinet. Pangkostrad jelas tidak bisa ditegur oleh kabinet. Kecuali oleh atasannya, yang tak lain adalah Soeharto sendiri.

Kelihaian Soeharto ini juga digambarkan oleh David Jenkins, salah seorang wartawan Australia (Sidney Morning Herald) dalam bukunya bertajuk Soeharto and His Generals, Indonesian Military Politics (1984).

Kepercayaan Soeharto akan tuah budaya Jawa juga tervisualisasi dalam kehidupan kesehariannya. Misalnya saja, dia membawa topeng Gajah Mada yang berasal dari Bali masuk Istana Merdeka.

Gajah Mada adalah maha patih yang berhasil menyatukan Nusantara. Soeharto mungkin mengandaikan topeng itu dapat memberi kekuatan magis agar dia mampu menyatukan Nusantara seperti yang dilakukan Gajah Mada dulu.

Dia juga mendatangkan gong keramat dan keris-keris dari Keraton Surakarta. Dengan seabrek benda budaya yang dimilikinya, seakan-akan apa yang keluar dari mulutnya juga bertuah dan keramat.

Bahkan, dia seolah-olah menjadi orang Jawa yang sakti. Jika meludah, bisa berupa api yang menjilat siapa pun. Dia sering diibaratkan sebagai aji welut putih.

Walaupun banyak orang maklum akan keakraban Soeharto dengan dunia klenik dan sejenisnya, namun tak seorang pun berani mengungkapkannya. Terlebih lagi saat dia berkuasa.

Menyebut-nyebut miring nama Soeharto saja, apalagi sisi lain yang selama ini tidak terungkap, sama artinya dengan membuat masalah. Membuat urusan menjadi cepat jatuh ke tangan aparat keamanan. Menjadikan hidup di bumi republik ini tidak aman lagi. Kopkamtib di tingkat pusat dan Laksusda di tingkat provinsi adalah kata yang bagaikan singa yang siap menerkam. Mengerikan.

Surat kabar dan media massa pun tak akan pernah berbuat bodoh untuk menulis yang seperti itu. Tidak ada yang mau ambil risiko. Memperbincangkan Soeharto, sama saja dengan mencari urusan sampingan yang sulit penyelesaiannya. Sangat merepotkan.

Jika pun ada yang berani memperbincangkan Soeharto, itu terjadi di kalangan terbatas nun jauh dari keramaian kota. Jauh dari ’kuping-kuping’ kaki tangan Soeharto. Tepatnya hanya disampaikan secara bisik-bisik. Seperti juga klenik dan kadar kemampuan spiritual itu.

Tetapi, setelah Soeharto tak berkuasa lagi, media massa pun ramai-ramai memberanikan diri melanggar larangan dan yang tabu sepanjang Orde Baru berkuasa.

Setelah Ibu Tien meninggal secara aneh pada tanggal 28 April 1996, sebagian kekuatan dan kehebatan Soeharto berkurang. Sebab, kehebatan pria Kemusuk itu, konon justru terletak pada konde Ibu Tien.

Kabarnya, selama ini mendiang dengan nama lengkap Siti Hartinah itulah yang menjadi perantara turunnya wangsit itu. Satu jam setelah Ibu Tien wafat, konde itu sudah raib entah ke mana. Menurut bisikan gaib bisa ditemukan di petilasan pertapaan Panembahan Senopati yang dikenal dengan Banglampir.

’’Untuk mendapatkan kembali konde itu seseorang harus menjemputnya ke puncak Gunung Mahenoko atau Gunung Lanang, di Desa Blimbing, Kelurahan Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, jangan sampai melewati pukul 10.00,’’ tulis Arwan Tuti Artha.

Menurut kepercayaan, hilangnya konde ini apabila belum ditemukan bisa menjadi rebutan orang-orang yang berkeinginan menjadi pemimpin. Tak heran banyak orang berdatangan ke Banglampir, karena di situlah turunnya wahyu keraton.

Wahyu keraton pernah turun untuk Panembahan Senopati, sehingga dia bertakhta di Kerajaan Mataram. Konon, petilasan ini masih banyak dihuni macan putih yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Selain konde, begitu Sudjono Humardani dalam wawancaranya dengan H.M Nasaruddin Anshoriy Ch yang dikutip Tuti Artha, Soeharto juga mendapat kembang wijayakusuma dari Nusakambangan yang kemudian dibawanya ke Cendana. Wijayakusuma inilah yang secara spiritual menopang semua kehebatan dan keberuntungan Soeharto.

Soeharto juga banyak berkomunikasi dengan berbagai dukun, kiai, guru spiritual, orang yang memiliki ilmu linuwih, untuk mendapatkan pegangan. Ada yang memberi jimat untuk kekuasaan agar langgeng. Ada yang mengirim empat naga besar agar terhindar dari santet dan tenung.

Ketika Soeharto masuk rumah sakit, betapa pun penyakitnya bertumpuk-tumpuk, tetapi tetap sehat. Pasalnya, ada berbagai macam jimat yang mengendap di tubuhnya! (de@r).

1 komentar: